
“Lo ngapain disini?”, tanya Kirana yang sudah memelototi seseorang sejak tadi di sampingnya.
“Nemenin lo. Kenapa?”, balas seorang pria yang ternyata adalah Raka.
Pria itu dengan santai menyeruput es teh yang dia beli di kantin siang ini.
“Gak boleh bawa makanan dan minuman di perpus. Lo ga baca?”, tanya Kirana sambil menunjuk poster berisi pengumuman tersebut.
Tidak hanya ada satu poster yang menunjukkan peringatan itu. Tetapi ada beberapa dan hampir di setiap sudut. Kirana menunjuk satu persatu yang berada dalam jangkauan telunjuknya dan kembali menoleh ke arah Raka.
“Done. Udah abis. Gue buang ke tong sampah.”, ujar Raka memasukkan botol minuman itu ke dalam tasnya. Kirana hanya bisa menatapnya tajam.
“Raka. Gue mau belajar.”, ujar Kirana.
“Silahkan. Gue gak bakal ganggu lo, kok.”, balas Raka.
Pria itu mengatakan tidak akan mengganggu Kirana. Tetapi dia duduk tak jauh dari tempat Kirana duduk. Jarak mereka dekat. Bahkan Kirana sudah bisa merasakan beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
“Lo ganggu. Bisa geser sedikit ga? Gak sembuh - sembuh kayaknya ya, lo udah berapa hari.”, sindir Kirana.
Sejak beberapa hari yang lalu, Raka terus saja bersikap aneh terhadapnya. Kirana merasa pria itu mulai tidak bisa membedakan mana yang pacaran pura - pura dan pacaran sesungguhnya.
“Ada Radit di arah jam 12 mau kesini. Lo yakin mau gue jaga jarak?”, tanya Raka memastikan.
“Belakangan ini, dibandingkan dengan Radit, lo jauh lebih mengganggu. Nyebelin banget.”, ujar Kirana berdiri dari kursinya dan berpindah tempat.
Radit menyadari hal tersebut dari kejauhan. Dia melihat beberapa saat namun akhirnya teralihkan dengan mahasiswa yang melanjutkan diskusi dengannya.
“Raka. Menurut gue, kayaknya kita udahan aja pacarannya. Gimana? Gue merasa udah gak perlu pacaran ‘pura - pura’ sama lo.”, ucap Kirana sambil menurunkan suaranya pada kata ‘pura - pura’.
Di perpustakaan, mereka tidak boleh ribut. Kirana sudah berbisik sedari tadi dan bahkan menurunkan volume suaranya lebih kecil lagi pada kata - kata ‘pura - pura’.
“Kenapa? Lo mau kita serius aja?”, balas Raka to the point.
“Hehe.. enggak Raka. Makasih.”, ujar Kirana kembali fokus pada buku yang ada di depannya dan laptop miliknya.
Kirana sedang membuat beberapa ringkasan materi kuliah karena tak lama lagi mereka sudah dihadapkan dengan UAS. Kirana ingin mencicil belajarnya jauh - jauh hari, agar dia tidak kelabakan.
“Kenapa? Karena lo udah punya pacar ya? Di kampus ini juga?”, tanya Raka kembali.
Sorot matanya berbeda dari beberapa waktu lalu. Kali ini dia terdengar serius. Kirana menyadari perbedaan itu namun dia tidak terlalu memikirkannya.
“Bukan urusan lo. Thanks udah bantuin gue. Kita udahan. Lo gak perlu sok akrab sama gue lagi.”, kata Kirana tegas.
“Mungkin lo udah dapat yang lo mau dari pacaran pura - pura ini. Tapi gue nggak.”, ujar Raka.
Kirana mau tidak mau kembali menoleh ke arah Raka. Dia bingung dengan pernyataan pria itu. Bukankah sejak awal pria itu yang melontarkan ide untuk pura - pura pacaran di depan Radit dan yang lainnya. Raka juga yang dengan tidak sopannya mencium Kirana. ‘Uh.’, sampai sekarangpun Kirana masih tidak rela.
“Maksud lo? Bukannya lo yang nyaranin ide ini pertama kali. Gue tidak merasa pernah denger lo bilang mau mendapatkan sesuatu dari ide ini.”, ucap Kirana.
__ADS_1
“Ketenangan? Sejak gue pacaran sama lo, gue merasa tenang. Gak ada cewek yang ngejar - ngejar gue. Kalo gue putus dari lo, gue akan kehilangan ketenangan itu.”, jelas Raka.
“Itu urusan lo. Bukan gue.”, kata Kirana tanpa basa - basi.
“Who knows! Dengan lo pacaran sama gue, hati dosen killer itu akan sadar siapa yang sebenarnya dia suka.”, ucap Raka langsung membuat wajah Kirana shock.
Kirana menoleh ke arah Raka. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka.
“How come? Ngarang lo. Dosen siapa? Gue gak ngerti omongan lo.”, jawab Kirana berusaha untuk bersikap sewajar mungkin tapi dia sadar sekarang sudah terlambat. Ekspresinya sudah menggambarkan semuanya.
“Heh… perlu gue omongin disini? Lo gak takut ada yang dengar. Gue tahu kok semua tentang lo, Ran. Asal lo tahu, gue dan Pak Rian saling kenal.”, ucap Raka sambil tersenyum.
Kirana tak bisa menyembunyikan wajah seriusnya. Dia ingin menertawakan saja kata - kata Raka barusan, tapi dia tak bisa seperti Rian yang dengan santai dan wajah datar.
“Gak ada gunanya lo stay cool. Gue tinggal di Paris dari SMP. Gue kenal Rian sejak gue SMA. We’re neighbor.”, ungkap Raka.
‘Raka kayanya gak boong sih. Ga mungkin juga waktu itu Pak Rian nolongin Raka kalau mereka ga saling kenal. Apa memar - memar waktu itu ada hubungannya sama Raka, ya.’, pikir Kirana dalam hati.
“Jangan bilang Rian kalo gue kasih tahu lo, ya. Gue udah janji sama dia untuk ga kasih tahu lo. Nanti gue bisa diabisin kalo dia tahu gue bongkar cerita ini.”, kata Raka.
“Rian suka sama lo, kok. Gue dukung. So, kayaknya lo masih perlu melanjutkan pacaran pura - pura ini untuk menyadarkan doi.”, Raka menawarkan dengan sangat manis sampai Kirana juga sulit menolak.
‘Kata - kata Raka benar. Ghea pun pernah berkata demikian. Mungkin butuh trigger untuk Rian mengakuinya. Hah.. tapi buktinya kemarin - kemarin waktu Raka menarik tangan Kirana, pria itu lempeng - lempeng aja.’, pikir Kirana dalam hati.
Sekejap Kirana merasa yakin. Lalu, beberapa saat kemudian, dia kembali ragu - ragu lagi.
************
Pertanyaan ini terus terngiang di kepala Kirana sejak tawaran Raka beberapa waktu lalu. Dirinya termenung di dalam kamar memikirkan apakah keputusannya itu benar.
‘Kalau dipikir - pikir, kekanak - kanakan sekali harus sampai menjadikan Raka pacar pura - pura hanya untuk mengetahui perasaan Kak Rian. Jangan - jangan dia malah menjauhiku karena tahu aku sudah punya pacar? Ah.. tapi kan dia dengar sendiri kalau aku dan Raka pura - pura.’
‘Mungkin benar kata Ghea, bisa saja dia berpikir kalau aku benar - benar tertarik pada Raka. Eh.. tapi apakah itu bisa dikatakan hal yang baik? Bagaimana kalau Kak Rian malah kehilangan ketertarikannya padaku? Ah.. bodo… pusingg…’, Kirana mengacak - acak rambut dan menendang - nendang bantalnya di kasur karena frustasi.
“Ran, Rana… kamu sudah tidur?”, tanya mama Kirana dari luar pintu sambil mengetuk - ngetuknya.
“Iya, ini mau tidur, ma. Kenapa?”, tanya Kirana beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
“Boleh mama bicara sebentar?”
“Hm? Boleh - boleh aja, ma.”, Kirana membiarkan pintu terbuka dan masuk ke kamarnya mempersilahkan mamanya untuk ikut masuk.
Mama Kirana duduk di atas kasur dan melihat bantal berserakan dimana - mana.
“Abis ngapain kamu?”, tanya mama Kirana yang kebingungan melihat kamar Kirana yang hampir menyerupai kapal pecah.
“Ah.. ada dosen killer ngeselin di kampus, Ma.”, jawab Kirana sekenanya.
Dia tiba - tiba lupa kalau mamanya sudah tahu mengenai Rian.
__ADS_1
“Rian?”, tanya mamanya.
Bingo.
“Ah.. hahaha bu-bukan kok, ma. Dosen killer di kampus Rana banyak. Ga cuma Kak Rian doang.”, balas Kirana.
“Kamu ga manggil Rian dengan sebutan ‘Kak’ di kampus, kan?”, tiba - tiba mamanya melontarkan pertanyaan random.
“Hahahaha. Ya nggak lah ma. Ga ada yang tahu soal Kak Rian dan Rana di kampus, kok.”, jawab Kirana.
Kecuali Ghea dan Raka, tentunya. Kirana memutuskan untuk tidak mengatakannya sampai se-detail itu pada mamanya.
“Tentang kamu dan … Rian…”, mama Kirana tiba - tiba menyinggung ke arah sana.
“Enggak ada apa - apa kok, ma. Mama tenang aja.”, meski mamanya belum menyelesaikan kalimatnya, Kirana sudah langsung membalasnya.
“Kalau kalian memang belum jodoh, ga usah dipaksain, Ran. Rian berhak bahagia, begitu juga kamu.”, kata mama Kirana memberikan nasehat.
“Iyaa.. ma.. Kirana tahu kok. Udah mama gak usah khawatir. Mama mau tidur, kan? Kirana juga. Besok Kirana harus bangun pagi dan gak boleh telat masuk kelas. Hm?”, Kirana akhirnya menghentikan pembicaraan ini dengan halus.
Dia tahu kekhawatiran mamanya dan Kirana masih belum ingin melepasnya. Kirana tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini karena dia tak mau terus berbohong.
************
“Terima kasih semua. Kirana, kamu bantu kumpulkan semua kertas kuisnya dan antar ke ruangan saya.”, ucap Rian pada Kirana yang kebetulan baru saja masuk ke kelas kembali setelah keluar sebentar ke toilet.
Kirana agak terkejut mendengar perintah Rian. Namun, dia tak punya pilihan selain menuruti perintah pria itu. Kirana berjalan mengitari meja satu persatu dan mengumpulkan kertas - kertas itu.
Kirana sudah menyerah di 20 menit terakhir dan pergi ke toilet tadi. Dia baru kembali saat waktu mengerjakan soal berakhir. Tidak seperti biasanya, Rian mengadakan kuis di setengah jam sebelum kuliah hari ini berakhir.
“Kurang lebih dua minggu lagi kita UAS. Saya tidak available minggu depan dan minggu depannya lagi karena ada perjalanan bisnis. Asdos akan menggantikan saya untuk mengulang kembali materi dan memberikan kalian latihan soal. Materi sudah cukup sampai materi hari ini.”, jelas Rian sambil mematikan proyektor dan memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
Pria itu sengaja memperlambat langkah dan pergerakannya karena sedang menunggu Kirana mengumpulkan semua kertas agar mereka bisa berjalan beriringan menuju ruangannya.
‘Bukannya dia bisa bawa sendiri? Kenapa harus aku yang bawa.’, protes Kirana dalam hati.
“Ran, gue bantu.”, ucap Raka dari arah depan.
Kirana hanya perlu menyelesaikan dua baris lagi agar bisa mengumpulkan semua kertas jawaban. Raka membantunya dan semua terkumpul lebih cepat. Raka mengikuti Kirana yang akan mengantarkan kertas itu ke ruangan Rian.
“Raka, mereka berdua punya poin tentang penelitian yang mau didiskusikan dengan kamu. Silahkan diskusi dan kita bahas minggu depan.”, ujar Rian langsung melihat ke arah Raka dan seolah memberikan kode untuk segera menyerahkan kertas jawaban itu seluruhnya pada Kirana.
“Minggu depan bukannya Pak Rian bilang ada perjalanan bisnis? Saya bisa diskusikan nanti…”, jawab Raka.
“Saya masih available online. Kamu bisa laporkan ke saya. Itu urgent. Kirana.. Ayo.”, balas Rian bahkan sebelum Raka menyelesaikan kalimatnya.
Raka jelas tidak suka dengan tindakan Rian yang jelas - jelas menjauhkannya dari Kirana. Namun Raka tak punya pilihan. Dua mahasiswa yang disebutkan Rian menunggunya di depan pintu. Raka segera menyerahkan kertas itu pada Kirana.
Rian dan Kirana berjalan di depan meninggalkan Raka di depan pintu kelas. Raka, pria itu masih menatap lurus pada Rian.
__ADS_1
‘Heh…’, ujar Raka pelan.