Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 47 Masih Perhatian


__ADS_3

“Ran? Kapan mau turun? Mau disini terus?”, tanya Rian yang masih menunggu Kirana untuk turun sebelum kembali melajukan mobilnya untuk pulang.


Bukannya membuka pintu mobil, Kirana malah menurunkan tasnya kembali dan membalikkan badannya. Tangannya langsung berusaha membuka kemeja Rian. Pria yang tak menduga tindakan seperti ini datang dari seorang Kirana langsung kebingungan.


“Eh.. eh.. Kamu mo ngapain, Ran?”, tanya Rian kebingungan sambil berusaha menurunkan tangan Kirana dan celingak - celinguk khawatir ada yang melihat.


Bahaya juga kalau misalnya ada satpam atau orang perumahan yang melihat mereka.


“Ini apa? Kak Rian abis ngapain sih sebenarnya? Kenapa ada luka lebam begini? Aku kira cuma sedikit, tapi ini lihat! Bisa sampai sini.”, ucap Kirana sambil menunjuk area yang dia lihat terdapat lebam dan sudah mulai membekas.


Rian diam dan tidak lagi berusaha melepaskan tangan Kirana karena dia tahu apa yang dimaksud gadis itu.


“Apa peduli kamu. Kita sudah tidak ada hubungan apa - apa. Kamu jangan salah paham. Saya nganterin kamu karena sekarang sudah jam segini dan kamu gak mungkin naik taksi dari tempat tadi ke rumah.”, nada bicara Rian mulai dingin.


Kirana langsung melayangkan sorot mata yang tajam padanya. Kesal karena terus di dorong keluar oleh pria itu. Bahkan perceraian itu juga. Bukankah pria itu yang berusaha mendorong Kirana keluar dari kehidupannya.


“Segitu bencinya kak Rian sama aku? Segitu gak sukanya? Terserah kak Rian anggep aku apa. Aku minta kakak tunggu disini. Aku beli obat dulu.”, ucap Kirana meninggalkan tasnya dan keluar dari mobil.


Tak jauh dari sana, ada toko apotik rumahan. Kirana ingat betul karena beberapa kali dia harus membelikan mamanya vitamin.


‘Kenapa sih dia kaya gitu? Memangnya aku mo ngapain? GR banget. Aku kan cuma mau ngobatin dia. Apa peduli kamu? Kita udah ga ada hubungan apa - apa? Huh.’, sepanjang jalan Kirana mengomel - ngomel menirukan gaya bicara Rian.


‘Harusnya tadi aku tinggal aja di apartemen Raka biar dia cemburu. Hiks… tapi dia cemburu gak ya. Jangan - jangan dia bener - bener udah punya cewek lagi. Tapi tempo hari ke rumahnya ga ada tuh. Terus foto yang dipajang juga masih foto nikah aku sama dia.’, mood Kirana seperti roller coaster. Kadang naik dan kadang turun.


‘Bodoh banget. Orang fotonya ditaruh paling belakang gitu. Paling juga dia males beresin. Bisa aja kan cewenya malah di ajak ke apartemen dan bukan ke rumah.’, lagi - lagi, Kirana berspekulasi sendiri.


“Permisi, mba. Ada obat luka buat memar - memar gitu ga? Sekalian kompress juga. Tapi ada yang jual es batu ga mba sekitar sini?”, tanya Kirana bingung.


“Oh, bukan mau digunakan di rumah?”, tanya petugas yang ada di toko.


“Ehm.. enggak.. Belom sampai rumah.”, kata Kirana menjawab seadanya.


Petugas itu bingung. Padahal dia ingat betul kalau rumah Kirana ada di sekitar sini.


“Ya sudah. Di kulkas sepertinya masih ada es batu. Cuma butuh ¾ nya kan?”, tanya petugas itu.


Kirana mengangguk. Sepertinya begitu. Entah sejak kapan luka memar itu ada. Kirana tidak tahu apakah luka memarnya masih bisa dikompres atau tidak. Tapi, melihat warnanya belum terlalu gelap, sepertinya pria itu baru saja mendapatkannya.


‘Lagian dia ngapain sih, sampai bisa memar - memar gitu? Oh? KDRT? Ah tidak maksudku, apa pacarnya suka mukul ternyata?’, sembari petugas mengambilkan es batu, Kirana terus mensimulasikan berbagai kemungkinan di kepalanya.

__ADS_1


“Ohiya, sama obat pereda nyerinya ada juga ga mba? Yang bisa bikin tidur nyenyak?”, Kirana langsung melontarkan pertanyaan saat dirinya melihat petugas itu akhirnya kembali.


Petugas itu membantu memasukkan es batu ke dalam kompres.


“Ini mba.”


“Berapa totalnya?”, tanya Kirana.


“150ribu, mba.”, jawabnya.


Kirana menyodorkan kartu debetnya karena dia tidak membawa uang cash. Dia juga tidak tahu kalau harus mengeluarkan uang segitu.


“Terima kasih ya mba.”, ucap Kirana kemudian keluar dan berjalan menuju tempat parkir mobil.


Jaraknya lumayan sekitar 5-8 menit. Berhubung perumahan ini tergolong aman, Kirana tidak terlalu khawatir berjalan malam - malam di sekitar sini. Daerahnya juga asri, meski sedikit dingin di malam hari.


Buktinya, Kirana beberapa kali menggosok - gosok lengannya karena kedinginan. Berhubung dia hanya mengenakan kemeja tipis dan meninggalkan jaketnya di mobil Rian.


Sepanjang jalan, Kirana bersenandung sambil kembali memikirkan apa spekulasi - spekulasinya barusan itu benar. Apa Rian berpacaran dengan wanita yang hobi main tangan? Atau jangan - jangan dia terlibat perkelahian di klub? Lagian sejak kapan Kak Rian ke klub?


‘Ah.. tadi lupa tanya lagi. Dia ke klub ngapain? Meskipun dia begitu, tapi seingatku dia bukan tipe orang yang akan ditemukan di klub. Kalau di perpustakaan mungkin.


Dia yakin betul kalau tadi, Rian memberhentikan mobilnya di sekitar sini.


“Tunggu, apa aku salah jalan, ya? Eh ga mungkin orang bener kok. Ini perumahan aku. Masa bisa salah jalan.”, kata Kirana yang tidak mempercayai penglihatannya.


Dia memang berada di tempat yang benar. Tempat dimana tadi Rian memberhentikan mobilnya. Jalan lurus belok kiri adalah rumah Kirana.


“Pak, maaf lihat mobil Pajero Sport putih ga tadi parkir disana?”, tanya Kirana yang akhirnya memutuskan untuk bertanya ke pos satpam.


Hingga detik ini dia masih mencoba untuk berpikir positif.


‘Masa sih, Kak Rian sampai sebegitunya? Gak mungkin banget dia ninggalin aku dan main pergi gitu aja. Se-private itu dia, kayanya dia gak mungkin akan memperlakukan aku kaya gitu.’, kata Kirana berusaha meyakinkan dalam hati.


‘Mungkin dia cuma cari parkiran lain aja biar posisinya ga di tengah - tengah jalan banget.’, pikir Kirana.


“Oh.. Pajero Sport putih, neng? Tadi udah keluar komplek neng.”, kata pak satpam yang Kirana temui.


“Eh? Masa Pak? Yakin? Pajero putih, sport? Sejak kapan?”, tanya Kirana saat melihat Pak Satpam mengangguk memastikan bahwa mobil yang dia lihat keluar dari kompleks sesuai dengan deskripsi yang diberikan oleh Kirana.

__ADS_1


“Hm.. sekitar 10 menit yang lalu. Pengemudinya cowok. Kayanya sih bukan orang sini. Om-nya mbak, ya?”, tanya satpam itu.


“Eh? Om? Bukan, Pak. Dosen saya.”, kata Kirana dengan nada pelan.


Kirana tak lagi melanjutkan pertanyaannya pada Pak Satpam dan kembali melangkah pergi menuju rumahnya.


‘Berarti begitu aku belok, dia udah langsung pergi, dong. Dasar orang gila!’, teriak Kirana kesal dalam hati.


‘Aku juga gila karena masih ngarepin pria brengsek itu.’, kata Kirana.


Kirana berjalan dengan wajah datar sambil memegang kantong plastik di tangannya. Ia membuka pintu gerbang rumah dengan lesu. Berjalan masuk tanpa tenaga.


“Malam sayang.. Tumben lama amat baliknya.”, sambut mama Kirana dengan semangat.


Sebaliknya, putrinya hanya diam dan langsung naik ke atas tanpa mengatakan apa - apa. Mama Kirana sampai bingung. Tak lama setelah itu terdengar suara pintu di banting dan di kunci.


Mama Kirana sedikit khawatir dan mencoba untuk menghampiri putrinya.


“Ran… kamu kenapa? Kamu gapapa?”, tanya Mamanya meski hanya bisa dari luar pintu.


“Engga, cuma capek. Rana mau langsung tidur.”, kata Kirana mematikan lampu kamarnya.


Mama Kirana bisa menyadarinya lewat ventilasi atas. Ruangan putrinya sudah gelap. Dia mencoba untuk berpikir positif dan kembali ke bawah.


Mamanya kemudian mengirimkan pesan lewat ponselnya. Berharap Kirana membacanya.


Kamu gapapa kan sayang? 


Kalau lapar, dikulkas mama udah simpan makan malamnya. 


Kamu tinggal panasin, ya. 


Begitu bunyi pesannya. Sayangnya, pesan itu tidak sampai pada Kirana karena ponsel, lengkap bersama dengan tas dan jaketnya masih berada di mobil Rian.


Pria itu masih berada di dalam mobil di depan gapura masuk perumahan Kirana.


‘Apa yang sudah aku lakukan.’, katanya menatap ponsel Kirana dan membaca notifikasi pesan yang masuk.


Rian menjatuhkan kepalanya di setir mobil.

__ADS_1


__ADS_2