
Flashback saat Rian datang ke rumah sakit sebelum Ghea.
Angin semilir lamat - lamat hadir dari sela - sela daun pepohonan yang diterbangkan oleh angin. Pohon itu terletak di beranda lantai 3 sebuah rumah sakit tempat Kirana di rawat. Untuk ke beranda, kita hanya butuh berjalan lurus terus dari kamar Kirana kemudian belok ke kiri. Bagian tengah lorong terdapat sebuah pintu kecil yang akan membawa kita ke beranda lantai tiga.
Tidak seperti beranda pada umumnya, beranda ini memiliki beberapa pohon besar - besar yang ditanam di sebuah box - box besar dari bebatuan yang sengaja dibuat untuk memberikan suasana asri pada beranda.
Terdapat kursi - kursi untuk tempat duduk bagi para pasien dan keluarga untuk sekedar memberikan istirahat pada diri mereka. Tidak sedikit juga keluarga yang menghabiskan waktu makan siang atau berehat di tempat tersebut.
Salah satu dari mereka adalah mama Kirana yang baru saja mengambil duduk. Dia memilih tempat di paling ujung kiri yang dekat dengan belokan lorong kamar Kirana meski dari tempat duduknya tetap tidak terlihat.
Ada tiga empat anak tangga yang harus dinaiki untuk ke tempat itu. Sengaja dibuat lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain dan terdapat payung - payung dan kursi kayu. Tak lama Rian datang dengan membawa dua botol minuman yang ternyata adalah jus. Nampak sedikit rasa kikuk dari wajah Rian. Dia sungkan untuk duduk dan seperti menunggu aba - aba sebelum benar - benar menyandarkan dirinya pada kursi tersebut.
Lima menit suasana hening tanpa ada suara di antara mereka. Hanya semilir angin sedikit demi sedikit siang menjelang sore itu. Beberapa daun nampak berterbangan. Orang - orang nampak menyeka rambutnya yang kusut karena angin. Keberadaan pohon membuat pergerakan udara lebih terasa disana.
“Jadi, sejak kapan kamu sudah di Indonesia?”, akhirnya mama Kirana yang berbicara terlebih dahulu. Lebih tepatnya mengajukan pertanyaan.
Rian bukan tak mau berinisiatif untuk membuka kalimat. Tetapi dirinya begitu gugup. Bingung ingin mengatakan apa karena terlalu banyak yang harus dia jelaskan. Satu lagi. Dia belum siap. Dia begitu khawatir dengan kondisi Kirana hingga tak sadar mendatangi rumah sakit membuatnya kemungkinan bertemu dengan mama Kirana, yang dulu juga pernah menjadi orang tua untuknya.
“Sekitar satu setengah tahun yang lalu.”, ucap Rian jujur.
Mama Kirana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya meski memang hal itu wajar.
“Kamu bahkan tidak memberitahu mama kalau kamu kembali ke Indonesia? Mama kira kamu masih di luar negeri. Apakah karena kalian bercerai dengan Kirana, lantas kita sudah tidak perlu berhubungan atau menjaga komunikasi lagi?”, ucap Mama Kirana dengan nada halus.
“Bukan begitu, Ma. Rian hanya tidak siap.”, balas Rian sambil menunduk.
“Siap untuk apa? Apa yang harus disiapkan?”, tanya Mama Kirana mulai terlihat sendu.
__ADS_1
“Walau bagaimanapun ceritanya, Rian tetap saja telah mengecewakan mama dan papa Rian sendiri. Rian tidak tahu harus mengatakan apa saat bertemu mama. Bahkan sekarang pun, Rian tidak tahu harus mengatakan apa, harus menjelaskan apa.”, ujarnya.
Hening. Tak ada balasan dari mama Kirana.
“Ma, Rian minta maaf.”, jawabnya.
“Untuk?”
“Keputusan Rian menghancurkan semuanya.”, ujar Rian kali ini berani menatap mantan mertuanya itu.
“Saat kalian berdua memutuskan untuk bercerai, mama tidak mendapatkan penjelasan apapun. Apa sekarang kamu masih tidak ingin menjelaskan?”, tanya Mama Kirana.
Tak ada jawaban dari Rian.
“Apa itu benar - benar alasan yang tidak bisa kamu katakan? Sejujurnya, mama memang kecewa dengan kamu. Di usia kamu yang sudah lebih dewasa, seharusnya kamu bisa mengambil keputusan yang bijaksana. Kirana memang tak pernah mengatakannya pada mama. Tapi, apa karena kesalahan Kirana, kamu menceraikan dia? Mama benar - benar ingin tahu. Tapi, apa harus sehari setelah ketok palu perceraian kalian, kamu harus langsung pergi meninggalkan semuanya?”, tanya mama Kirana lagi.
“Lalu? Kenapa kamu ada disini? Apa kalian berhubungan lagi?”, tanya Mama Kirana yang tak bisa mengambil kesimpulan lain setelah melihat mantan menantunya berdiri di depan kamar rawat inap Kirana.
Perasaan kaget, bingung, senang, sedih, semua seperti bercampur menjadi satu.
“Enggak, ma. Sama sekali, engga.”, balas Rian.
“Lantas, darimana kamu tahu Kirana ada di rumah sakit?”
“Rian mengajar sebagai dosen di kampus Kirana, Ma. Rian tak sengaja dengan percakapan mama dengan salah satu teman kampus Kirana.”, jawab Rian.
“Dosen? Di kampus yang sama dengan Kirana? Sejak kapan Kirana tahu kamu kembali ke Indonesia? Tidak, sejak kapan dia tahu kamu adalah dosen di kampusnya?”, karena kaget, Mama Kirana sampai melupakan pertanyaan paling standar yang harus dia tanyakan.
__ADS_1
Rian tahu kemana arah pertanyaan mantan mertuanya. Dia juga tahu kalau selama ini Kirana tak pernah mengatakan tentang dirinya pada mamanya. Jadi, Rian bingung harus menjawab apa, sekarang.
“Sejak pertama kali Kirana masuk ke kampus.”, jawab Rian.
Mama Rian memberikan tatapan tidak percaya padanya. Tapi tatapan tidak percaya itu sebenarnya ingin dia layangkan pada putrinya. Bagaimana mungkin Kirana tak mengatakannya sama sekali.
“Anak itu bahkan tak mengatakan sepatah pun. Rian, maafkan mama kalau mama mengatakan ini. Kamu yang menceraikan Kirana. Kamu bilang tidak ada hubungan apa - apa lagi. Jadi, lebih baik terus begitu. Mama tidak tahu apa yang terjadi karena kalian berdua sama - sama bungkam. Jika sudah, maka sudah. Mama harap hubungan kalian hanya sebatas Dosen dan Mahasiswa saja.”, setelah mengatakan itu, Mama Kirana langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi.
Wanita itu bahkan tidak memegang ataupun meminum minuman yang tadi dibawa oleh Rian. Rian menundukkan kepalanya di atas meja. Dia mengacak - acak rambutnya. Frustasi. Bukan dengan situasi ini. Tapi tentang apa yang dia inginkan.
Bayangkan ketika kamu masih mengharapkan seseorang, tapi bayang - bayang rasa bersalah masa lalu membuat kamu tak bisa bergerak maju. Setiap Rian ingin mempertegas perasaannya, Clara seperti kembali datang menarik kembali rasa bersalahnya. Membuat Rian tenggelam dalam jurang yang tak memiliki dasar.
Flashback selesai
************
“Pak Rian kesini?”, tanya Kirana.
“Iya.. disini. Kemaren sih gue liatnya. Gak tahu dia lagi jengukin siapa. Entah keluarga ato temannya. Kayanya kamar inapnya di lorong yang belok kiri itu tuh deket mesin penjual minuman. Soalnya kemaren gue liat doi lewat situ.”, jelas Ghea.
“Yakin, lo?”, tanya Kirana.
“Awalnya sih enggak. Tapi dari samping mirip dia kok. Terus bajunya juga sama seperti baju yang dia pake pas ngajar paginya. Ya elah Ran, postur tubuh kaya Pak Rian tuh jarang - jarang ada yang punya. Ya pasti ngenalin lah gue. Pokoknya lo jangan lewat - lewat sana. Tar kalo ketemu bukannya makin sembuh, malah makin sakit lagi, lo.”, ucap Ghea.
Kirana tahu arah pembicaraan Ghea. Temannya itu tidak tahu sama sekali tentang hubungan Rian dan dirinya. Tapi, omongannya tetap valid. Jika Kirana bertemu dengannya, sepertinya hanya akan bertambah sakit saja.
Rian membuatnya seperti sedang berada di wahana roller coaster. Kadang pelan, kadang bergerak sangat cepat.
__ADS_1
“Ran? Lo beneran takut bakal ketemu Pak Rian? Ya elah.. Ga bakal juga kali doi kasih lo soal Fisika cuma karena ketemu. Haha… lagian nih ya.. Gue tuh baru sekali ketemu Pak Rian di luar kampus. Cakep ya.. Baru sadar. Kalo di kampus kan udah langsung pusing tuh sama mata kuliah yang dia ajar. Nah kalo di luar udah ga ada aura dosennya, jadi kaya ganteng aja gitu.”, Ghea terus berceloteh random sesukanya.