
‘Hah.. lebih baik meriksa kertas jawaban UTS ketimbang harus nonton disana. Panas.’, komentar Rian sambil duduk di mejanya dan mengeluarkan lembar jawaban UTS mahasiswa diatas meja.
Di lantai ruang dosen itu, bisa dibilang hanya ada dirinya. Tidak ada lagi dosen yang berada di ruangan. Pertama karena ini adalah hari Sabtu. Kedua, kalaupun dosen datang ke kampus, mereka semua sedang berada di area pentas seni.
Tak sedikit dari mereka yang mengajak keluarga dan menikmati bazar. Bahkan elemen kampus yang lain juga turut hadir mulai dari petugas kebersihan, keamanan, kantin, dan administrasi.
‘Hah.. kenapa gak ngelirik sama sekali, ya? Dia benar - benar marah? Emangnya apa yang mau dia marahin, sih? Perasaan pertemuan terakhir endingnya juga gak gimana - gimana.’, Rian masih memandangi lembar jawaban yang berada paling atas.
Meskipun dia sudah memegang pulpen, tetapi tak satupun goresan berhasil dia buat di kertas. Sekedar untuk memberikan poin nilai pada jawaban yang benar, atau sekedar menandai kalau dia sedang memeriksa bagian itu.
Entah Rian memang sedang memeriksa kertas ujian atau sedang memikirkan perkara yang lain.
‘Tunggu, itu bocah - bocah semua pada nginep di kampus? Hah.. kenapa kemaren ga lihat aja sih.’, Rian menggaruk - garuk rambutnya yang tidak gatal.
Pria itu kembali mencoba fokus pada tumpukan kertas yang ada di harapannya. Tertulis nama ‘Radit’ di kertas bagian yang pertama.
Rian mengambil ponselnya dan mencari nama salah seorang asisten dosen yang bekerja padanya.
Isi chat Rian dengan Ikhsan (Asisten Dosen Fisika Rian)
Rian: Radit itu bukannya ketua BEM?
Ikhsan: Sudah mengundurkan diri Pak. Kenapa, Pak?
Rian: Terus jadi apa sekarang?
Ikhsan: Mahasiswa biasa sih Pak setahu saya.
Rian: Panitia acara pentas seni?
Ikhsan: Maaf, kurang tahu, Pak. Tapi Ketua BEM Fakultas, Rio dari Jurusan Teknik Informatika adalah temennya, Pak. Mungkin memang panitia, Pak. Oiya, Pak Rian ga nonton? Perasaan tadi lihat bareng Pak Dekan.
Rian : …. (tidak membalas lagi)
“Tumben Pak Rian nanyain mahasiswanya sebagai apa? Memangnya si Radit nilainya jelek, ya?”, celetuk Ikhsan selepas membalas chat dari Rian.
Mahasiswa tingkat tiga yang saat ini juga sibuk menjadi Asisten Dosen untuk dua mata kuliah Fisika dan Electrical itu cukup terkejut karena Pak Rian mengirimkan chat dengan topik yang menurutnya random.
“Kenapa san?”, tanya teman di sebelahnya. Mereka berdua sedang menikmati acara pentas seni sekarang.
“Enggak Pak Rian tiba - tiba nanyain Radit.”, ucapnya.
“Radit, mantan Ketua BEM Kampus?”
“Hm..”, balas Ikhsan.
“Eh.. Pak Rian itu beneran pacaran sama Bu Claudia anaknya Pak Dekan?”
“Mana gue tahu.”, balas Ikhsan cepat.
“Lah, lo kan asisten dosen Fisika Dasar. Lebih sering bareng Pak Rian. Masa gak tahu, sih?”
__ADS_1
“Mana gue tahulah. Doi kan tipe yang serius. Paling kalo ketemu juga bahas matkul, bukan bahas urusan pribadi. Lagian lo kenal sama anak Pak Dekan. Manggil - manggil ‘Bu’ segala.”, balas Ikhsan.
“Bu Claudia itu dosen di kampus cewe gue. Katanya disono ada yang naksir, tapi di tolak. Rame bener beritanya. Mungkin karena dia udah pacaran ama Pak Rian kali, ya.”
************
Kirana berkeliling melihat kiri hingga kanan. Menyusuri dan melakukan screening pada pengunjung yang datang. Sedari tadi, dia tidak melihat wajah yang dinantikan. Wajahnya cemberut sambil terus siap siaga dengan walki talkienya.
“Minum dulu, Ran. Kenapa? Lagi cariin Ghea? Bukannya tadi dia udah kesini? Ngapain dicariin lagi?”, tanya Raka yang sekarang sudah menghampiri Kirana.
“Heh.. kemana aja lo? Pake baju panitia tapi kerjaannya ngilang mulu.”, tanya Kirana dengan nada ketus.
“Nih kan gue kasih minum. Jutek amat. Gue dari tempat Pak Rian. Gils, bener - bener pacaran sama anak Pak Dekan, dia.”, ujar Raka berbicara sesumbar sambil melirik ke arah Kirana.
“Oh? Pacaran? Sama cewe yang tadi bareng Pak Dekan?”, tanya Kirana pelan.
“Hm. Wanita itu namanya Claudia. Dosen di kampus swasta. Tahulah lo yang paling terkenal itu. Yang biaya masuknya mahal. Tadi Pak Riannya sendiri yang bilang.”, ucap Raka semakin sesumbar.
“Heh.. jangan ngarang lo. Ngapain juga Pak Rian bilang - bilang lo. Udah fokus. Acaranya masih panjang. Awas lo kalo ngilang lagi.”, ucap Kirana tidak menelan begitu saja kata - kata Raka.
‘Itu bukannya perempuan yang namanya Claudia itu, ya?’, ucap Kirana dalam hati.
Tak lama setelah Raka pergi ke posisinya yang seharusnya membantu tim acara memastikan para guest sudah hadir, Kirana menyadari keberadaan Claudia diantara para pengunjung.
“Hai Ran!”, sapa Ghea dengan sebuah King Mango di tangannya.
“Napa lo…?”, tanya Ghea saat Kirana tak bergeming ketika dia panggil.
“Hm? Jam 4? Hm… Siapa sih? Banyak di arah jam 4. Ohiya..Oh? Bukannya itu anaknya Pak Dekan tadi? Pacarnya Pak Rian, kan?”, ucap Ghea.
“Siapa bilang?”, balas Kirana cepat.
“Orang - orang. Sejak yang ambulans datang ke kampus, pada gosipin kalo Pak Rian macarin anak Dekan.”, jawab Ghea.
“Hah… bener ga, dia liatin gue?”, tanya Kirana.
“Hm.. ga mungkin lah. Ngapain dia liatin lo. Kebetulan aja kali. Emang lo kenal?”, tanya Ghea sambil menikmati King Mango dan menikmati alunan musik Jazz yang sedang tampil sekarang.
“Lihat yang bener. Gue barusan intip juga masih liatin gue, kok.”, kata Kirana.
“Masa sih. Coba gue lihat..”, kata Ghea kembali mengarahkan pandangannnya pada Claudia.
Namun wanita itu sudah berjalan pergi dari sana.
“Tuh.. orangnya aja udah pergi. Enggalah.. Lo aja gak kenal, ngapain dia liatin lo. Perasaan lo aja kali. Raka mana?”, tanya Ghea.
“Ga tahu.”, jawab Kirana kesal.
************
Hari sudah larut malam. Setidaknya sudah jam 11 malam. Acara baru saja selesai. Kirana dan teman - temannya sudah tepar bertebaran di sekitaran panggung diantara para kru yang juga sedang berberes - beres. Acara baru saja selesai dan pengunjung masih ada yang berfoto atau sekedar mencoba untuk masuk ke ruang tunggu untuk berfoto bersama artis yang mereka suka.
__ADS_1
Ternyata beberapa guest star yang disiapkan oleh panitia ada yang berasal dari kalangan artis. Meski bukan band papan atas, tetapi cukup punya nama di dunia entertainment. Raka dan timnya sedang membantu mereka di ruang tunggu. Mereka akan istirahat sebentar sebelum kembali masuk ke dalam mobil dan pulang. Mereka hanya sedang menunggu staf mereka berberes instrument yang mereka bawa.
“Capek.”, celetuk Kirana sambil menyeruput es jeruk yang tadi disiapkan oleh tim konsumsi untuk para staf yang sudah bekerja keras.
“Jelas capek.”, balas Radit yang entah muncul dari mana dan membuat Kirana terkejut.
“Jangan deket - deket.”, ucap Kirana.
“Kenapa?”, Radit tertawa tipis.
“Lo gak lihat gimana Fay ngeliat gue? Udah kaya orang paling tersakiti sedunia.”, balas Kirana.
“Gue udah ga ada hubungannya lagi sama Fay.”, jelas Radit.
“Ya.. lo bilang gitu, tapi kan si Fay enggak. Udah ah.. Fokus sama closingan. Oiya.. gue lihat Ghea dah balik duluan. Lo balik ama gue aja nanti. Gue bawa mobil.”, ucap Radit menepuk bahu Kirana.
Sebelum Kirana membalas kata - katanya, Radit sudah berdiri dan memanggil kru untuk mempercepat proses dismantle panggung.
Ya, mereka tidak menunggu untuk proses dismantle dan beres - beres agar semua langsung selesai. Para penyewa bazar juga sudah bersiap - siap. Sebagian dari mereka bahkan sudah ada yang pulang lebih dulu.
Pengunjung semakin sepi. Para dosen juga sudah banyak yang pulang sejak jam 8 malam tadi. Kebanyakan yang menonton hingga acara selesai adalah mahasiswa terutama mereka yang berada di tahun - tahun awal.
Sementara itu di ruangan Pak Rian.
“Loh, kamu masih disini yan?”, tanya Pak Yoseph.
“Eh.. Pak Yoseph.”, balas Rian yang terkejut dengan kehadiran Pak Yoseph di ruangan dosen.
“Ngapain Pak?”, tanya Rian.
“Saya mo ngambil sepatu. Tadi siang saya ganti sendal karena ternyata panas banget di luar. Sekarang saya mo ganti sepatu lagi buat pulang. Nanti diomeli istri.”, ucapnya menjelaskan.
Rian mengangguk paham.
“Lah, kamu ngapain disini? Pantes gak keliatan dari tadi. Saya kira kamu pulang. Tahunya di ruangan.”, ucap Pak Yoseph sambil memasang tali sepatunya.
Rian hanya tersenyum ringan dan tidak menjawab.
“Ya sudah. Saya mau pulang dulu.”, ucap Pak Yoseph.
“Acaranya udah selesai, Pak? Tadi saya sempat turun jam 10, masih ada yang perform.”, tanya Rian.
“Udah.. baru banget. Saya kira jam 8 kelar. Ternyata sampai jam 10 lewat. Tadinya saya udah mau pulang. Eh ternyata ada artis yang ikut ngisi. Jadilah saya stay sampai selesai.”, ucap Pak Yoseph menjelaskan, padahal Rian sebenarnya tidak tertarik dengan penjelasannya.
Pria itu hanya tersenyum ramah sebagai respon.
“Kamu nunggu siapa? Eh.. kamu beneran pacaran sama anak gadisnya Pak Dekan? Tadi saya lihat kamu bareng dia.”, tanya Pak Yoseph.
“Enggak Pak.. kebetulan aja.”, jawab Rian.
Pak Yoseph mengeluarkan ekspresi tak percaya.
__ADS_1