Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 96 Kepo tapi Gengsi


__ADS_3

“Kenapa kamu Rian? Tumben bengong begitu. Bosen jomblo?”, tanya Pak Yoseph yang sedari tadi terus melihat Rian menundukkan kepalanya.


Sesekali dia akan menggeser kursinya ke sebelah kiri atau belakang. Kemudian melihat ke arah jendela dan AC. Hal itu dia lakukan beberapa kali sampai menarik perhatian Pak Yoseph, dosen Fisika yang juga ada di ruangan tersebut.


Sebenarnya yang lain juga merasa aneh. Namun, sebagai dosen yang lebih tua, memang hanya Pak Yoseph yang berani mengatakannya pada Rian. Sementara yang lain mencoba untuk menyesuaikan diri daripada disemprot oleh Rian.


Rian tidak berkutik mendengar kata - kata dosen itu. Dia mendengarnya dengan jelas. Tetapi, dia hanya tidak ada mood untuk membalasnya. Rian mencoba melihat ke ponselnya, memegangnya, kemudian meletakkannya kembali begitu saja.


Siapa yang tidak bingung dengan tindakan Rian.


“Kalau mau telpon, telpon aja. Gak usah banyak mikir.”, ucap Pak Yoseph memberikan saran sambil memasang sepatunya.


“Ya sudah, kalau begitu saya duluan. Sudah sangat sore.”, ucap Pak Yoseph mengambil tas ranselnya.


“Sampai ketemu besok, Pak.”, sapa dosen - dosen yang lain.


Mereka sepertinya masih berkutik dengan laptop atau PC mereka masing - masing. Kembali pada Rian yang sekarang memilih untuk menatap ponsel di depan mejanya.


Sembari menghela nafas, Rian akhirnya mengambil ponsel itu dan mengetik huruf disana seperti mencari kontak seseorang.


Tidak. Dia tidak menemukan kontak yang dia cari. Rian kembali meletakkan ponselnya. Karena kontak yang dia cari tidak ditemukan, pria itu mengurungkan niatnya untuk membuat panggilan telepon.


“Permisi Pak. Oh syukurlah Pak Rian masih disini.”, ucap salah seorang mahasiswa yang baru saja mengetuk pintu dan masuk.


Mahasiswa itu memegang beberapa lembar dokumen di tangannya.


“Ini dokumen persiapan keberangkatannya Pak. Bisa silahkan dicek terlebih dahulu.”, ucap mahasiswa itu.


“Berapa hari, saya lupa.”, balas Rian.


“Lima hari, Pak.”, jawab mahasiswa itu kembali.


“Wah.. lama juga ya.”, komentar Rian.


Mahasiswa itu sedikit terkejut. Padahal ini bisa dibilang kesempatan yang sangat bagus. Kalau bisa sebulan, dia juga akan ikut sebulan. Rian bersama dengan satu tim klub penelitian Fisikanya yang terdiri dari lima orang akan segera berangkat ke luar negeri untuk mengikuti perlombaan exhibition dalam rangka mempresentasikan hasil penelitian mereka.


Dari 300 tim yang submit, hanya 50 tim yang dipilih dari berbagai Universitas di dunia. Rian seharusnya bangga dan senang. Tetapi, hal tersebut tidak terlihat dari pancaran wajahnya. Sebaliknya, dia terlihat khawatir.


“Kalau cari pembimbing lain, sudah telat ya?”, pertanyaan yang terdengar sebagai celetukan itu tidak hanya membuat mahasiswa di depannya heran, tetapi juga para dosen yang tadi sibuk bekerja.


“Ngaco Pak Rian. Masa cari pembimbing lain.”, ucap Risha, salah seorang dosen perempuan yang tergolong muda diantara yang lainnya.


“Ditambah lagi, Pak Rian itu bagian dari researcher nya. Bisa dibilang kontribusi Bapak 80% dari penelitian ini. Kenapa mencari pembimbing yang lain?”, tanya mahasiswa itu.

__ADS_1


Banyak mahasiswa yang merasa Rian sangat killer. Tapi, untuk mereka - mereka yang jago Fisika terutama berada di klub Fisika, aura Killer Rian justru mereka anggap sudah biasa.


“Pak Rian, apa jangan - jangan Pak Rian lagi nyari tanggal nikah, ya?”, salah seorang dosen pria yang lebih muda dari Rian mulai nyeletuk sekaligus bercanda.


“All clear. Sampai ketemu Sabtu di Bandara.”, ucap Rian pada mahasiswa yang ada di depannya.


Semua berkas sudah dia cek dan beberapa sudah dia tanda - tangani. Mahasiswa tadi hanya perlu men-scan dokumen itu dan menyerahkannya pada penyelenggara acara.


Baru saja mahasiswa tadi ingin keluar dari ruangan itu, Rian kembali memanggilnya.


“Tunggu, kamu punya nomor Raka, ga?”, tanya Rian.


“Hm? Mahasiswa baru yang masuk klub Fisika, Pak?”, tanya mahasiswa itu meyakinkan.


“Hn. Punya?”, tanya Rian kembali.


“Saya gak simpan. Tapi saya bisa cek ke junior saya. Sebentar ya, Pak”, ucap mahasiswa itu.


Rian sudah mendapatkan nomor ponselnya. Rian punya nomor ponsel Raka. Tetapi nomor ponsel yang dia gunakan di luar negeri. Sementara ponsel baru yang dia gunakan, Rian tak memilikinya.


“Halo.”, sapa Raka lebih dulu.


Rian sengaja menunggu Raka membalas agar dia bisa memastikan itu benar - benar Raka.


“Eh, Raka.. ini gimana caranya? Malah terima telpon.”


'Raka beneran lg sama Rana? Hah kenapa gw tutup lagi telponnya.', Rian menyesali tindakannya barusan.


'Kirana bukannya tahu aku mau pergi ya, kenapa gak ada basa basinya? Hati - hati kek apa kek. Apa jangan - jangan udah beneran move on?'


'Hah.. Apa apaan sih kamu Rian.. Kenapa malah jadi kaya anak remaja 20-an gini sih pemikirannya?'


'Sejak mutusin untuk ga ada apa - apa lagi sama Rana, bukannya kamu juga harusnya udah ikhlas mau dia jalan sama siapa aja? Kenapa sekarang malah belaga sewot?'


'Bukannua di rumah sakit udah terus terang, kenapa endingnya malah begini lagi.'


Berbagai pikiran bermunculan dari kepala Rian membentuk bayangan - bayangan Rian yang baru. Seolah, ada banyak Rian yang sedang berdiskusi di depannya.


"Pak Rian... Pak.. Pak Rian...", seseorang menghentikan lamunan Rian.


"Oh? Kenapa?", tanya Rian terkejut.


"Saya mau balik dulu. Risha juga barusan udah balik.", jelas Bram.

__ADS_1


"Tumben ga ngasih tahu.", ujar Rian.


"Udah kali Pak. Cuma Pak Riannya aja yang ga ngeh. Ngelamunin siapa? Mantan?", celetuk Bram sembarangan.


Dia tidak menyadari kalau celetukannya adalah yang sebenarnya.


"Pak Rian mau nginep?", tanya Bram menggoda.


"Bentar lagi saya pulang.", ucapnya kesal.


Suasana ruangan dosen Fisika sudah sepi. Ruangan lain juga kurang lebih sama karena ini sudah menunjukkan jam 7 malam. Biasanya, jika tidak ada ujian dan acara khusus, ruangan dosen pasti sudah sepi. Kebanyakan dosen Fisika mengambil kelas sebelum jam 6 sore.


Meskipun itu adalah kelas pasca sarjana, mereka mengusahakan agar mereka tidak mengajar di jam malam.


Rian mulai mengemasi barang - barangnya, menutup laptop, dan memasang sepatunya.


'Hah...', Rian melemparkan kaus kakinya begitu saja dan menendang sepatunya. Perhatiannya kembali tertuju pada telepon barusan.


Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dia juga stress sendiri dengan perasaannya yang seperti anak remaja saja. Padahal, jelas - jelas dia sudah dewasa.


'Lagian, Kirana juga udah gue ingetin berkali - kali masih ga gubris juga. Udah dibilangin hati - hati kalau jalan sama cowok. Kenapa jam segini masih sama Raka bukannya di rumah?'


'Hah.. ga ada gunanya juga gue bilang gini. Suami bukan. Kakak juga bukan. Hah..', Rian menggaruk - garuk kepalanya padahal tidak gatal sama sekali.


Tok tok tok tok


"Rian? Kamu belum pulang?", tanya Pak Dekan yang kebetulan lewat di depan ruangannya.


"Oh.. ini mau siap - siap, Pak.", jawab Rian.


"Oh.. saya kira kamu mau menghabiskan malam akhir pekan kamu di kantor.", ucap Pak Dekan.


Rian hanya tersenyum pura - pura menggubris.


"Atau perlu saya panggil Claudia? Dia nanyain kamu terus. Kalau kamu kosong mungkin bisa keluar bareng dia.", ucap Dekan tersebut.


"Hahaha.. enggak Pak. Ga usah khawatir. Saya udah ada janji juga, kok.", balas Rian berbohong.


'Janji dengan siapa?- Ngarang.', inner Rian berucap.


"Oh.. sudah punya pacar kamu sekarang?", tanya Pak Dekan.


"Ah.. masih PDKT kok, Pak.", jawab Rian menambahkan kebohongan lagi.

__ADS_1


"Hm.. baiklah. Enjoy masa PDKT nya kalau begitu.", ucap Pak Dekan itu berlalu.


Setidaknya Rian bisa mengerem pergerakan Claudia yang belakangan terus mendekatinya.


__ADS_2