
“Terima kasih banyak, Pak. Maaf sekali, saya mengganggu istirahat, Bapak.”, ucap Rian saat berkunjung ke rumah Dekan.
Tak lama lagi ada ajang kompetisi paper bergengsi di bidang Fisika. Banyak dari para mahasiswa yang tertarik dengan sains ingin mengikuti kompetisi ini. Selain menambah CV, konon kompetisi - kompetisi berskala internasional ini bisa menjadi salah satu tiket pelicin untuk bisa lolos seleksi perguruan tinggi di luar negeri.
Rian harus memproses semua administrasi agar mahasiswa mereka bisa mengikuti kompetisi ini. Berbeda dengan kompetisi sains lainnya, kompetisi ini yang memiliki persyaratan administrasi yang paling ribet.
Ditambah lagi, ini adalah pertama kalinya kampus mereka mengikuti ajang kompetisi ini. Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti, Rian harus mengirimkan beberapa persyaratan dan diantaranya ada yang memerlukan tanda tangan dan persetujuan Dekan.
“Hah… sebenarnya saya sudah mau masuk. Tapi biasalah orang rumah melebih - lebihkan. Alhasil saya harus di rumah semingguan lagi. Padahal, pekerjaan saya bisa dibilang sudah menumpuk seperti gunung.”, kata Dekan setengah curhat.
Rian tersenyum simpul.
“Itu tandanya, banyak yang khawatir dengan Bapak. Oiya, berarti bisa saya simpulkan Bapak tidak ikut untuk acara pentas seni besok?”, tanya Rian teringat pada pertanyaan sponsor yang diminta oleh Ketua BEM Fakultas hari ini.
“Ah… besok ya acaranya? Saya ingatnya masih seminggu lagi. Aduh, walaupun saya sudah tua, tetapi saya sangat menyukai musik. Saya berharap sekali bisa mengikuti acara ini.”, ucap pria paruh baya itu menyeruput minuman hangat miliknya.
“Malam Pa.”, ucap seseorang muncul dari pintu gerbang utama.
Sepertinya salah satu dari putera Pak Dekan. Selain memberikan sapaan pada papanya, pria itu juga menunduk sebentar untuk menyapa Rian. Usianya lebih tua dibandingkan Rian dan mengenakan baju berwarna putih.
“Eh, eh.. Mumpung kamu ada. Papa besok izin, ya. Papa mau lihat acara pentas seni di kampus. Sekali aja. Cuma sebentar. Gapapa, kan?”, tanya Pak Dekan menghadang puteranya yang baru lewat dengan menggunakan payung panjang tertutup yang tak jauh dari jangkauan tangannya,
“Papa ada - ada aja. Sembuh dulu, pa. Baru ikut acara pentas seni. Berasa masih muda aja.”, ucap Puteranya.
“Boleh lah.. Cuma sebentar doang.”, Pak Dekan kembali bertanya lagi pada anaknya.
Rian tersenyum tipis. Bayangan mengenai papanya terlintas kembali di pikirannya tatkala melihat interaksi antara Pak Dekan dengan puteranya. Rian tak menyangka, guyonan dan pertarungan mulut mereka yang menyebalkan itu, Rian sangat merindukannya.
Dulu, ada juga masanya Rian seperti ini dengan papanya.
“Boleh, asal papa ada yang jaga. Claudia besok ada kelas, ga?”, tanya putera Dekan akhirnya mengalah pada rayuan papanya.
“Nah.. besok papa ajak Claudia sekalian. Dia itu juga harus banyak refreshing. Kerjaaaa terus.”, komentar Dekan.
“Papa main menyimpulkan aja. Tanya dulu, pa. Kalau dia sibuk, nanti minta tolong yang lain. Kak Sera atau Mas Ken.”
“Gampang.. Di depan papa juga bisa. Rian bisa jaga papa, kok. Sudah kamu masuk, makan malam, mandi, dan istirahat.”
“Jadi, datang saya. Kenapa? Saya perlu kasih kata sambutan, ya memangnya?”, tanya Dekan bersemangat setelah mendapatkan kartu hijau untuk datang ke Pentas Seni.
Semua orang di rumah mengkhawatirkannya. Beliau menghormati itu dan bertanya sebelum pergi.
“Sepertinya begitu, Pak. Saya hanya dititipkan pesan untuk menanyakan apakah Bapak akan hadir besok.”, jawab Rian.
“Ya sudah. Confirmed saya hadir. Kalau perlu kata sambutan, saya akan hadir di awal. Nanti kamu kabari saya saja.”, ujar Dekan.
“Sebentar Pak, mohon maaf ada yang telepon.”, ucap Rian berdiri dan menjauh dari sana sebentar untuk mengangkat telepon.
“Halo?”, tanya Rian.
Pria itu sudah melihat nama ‘Raka’ pada layar ponselnya. Dia sedikit bingung kenapa Raka menghubunginya.
“Halo selamat malam Pak Rian. Perkenalkan saya Kirana, Pak.”, ujar suara seorang gadis dari seberang telepon. Rian tahu dan kenal betul dengan suara ini.
‘Kirana. Ngapain dia nelpon pake hape Raka dan malah memperkenalkan diri?’
“Mohon maaf Pak, saya mau ijin bertanya apakah Pak Rian masih di rumah Pak Dekan?’, tanya Kirana bertanya dengan sesopan - sopannya.
Penggunaan kata yang dia pilih untuk merangkai kalimat sangat berbeda dari biasanya.
Rian mengernyitkan dahi.
“Kenapa kamu?”, tanya Rian dengan gaya santainya.
__ADS_1
“Guys, bentar ya.. Gue kesana dulu.”, kata Kirana memberikan informasi pada Raka dan Radit agar dirinya bisa mengobrol di tempat yang lebih tenang sebentar.
Padahal, tempat yang sekarang sudah sangat sepi. Radit dan Raka tentu saja heran. Terlebih Raka yang sepertinya sedang berpikir.
“Kak Rian ke tempat Pak Dekan, kan? Kak Rio yang info. Pesan dari Kak Rio, apa sudah disampaikan? Kita butuh final decision nya malam ini supaya persiapan besok maksimal.”, ucap Kirana dengan nada serius.
“Kamu lagi di kampus? Bareng Raka? Ini nomor ponsel Raka yang saya simpan di hape saya.”, kata Rian bertanya.
‘Aduh… mana gue tahu dia nyimpen nomor ponsel Raka segala. Ngomong apa nih gue.’, Kirana sedikit panik.
“Terus kenapa kalo ponselnya Raka? Wajar dong. Aku pacarnya.”, ucap Kirana sambil bersandar di sebuah tiang yang ada di ujung jalan trotoar.
Kirana menolehkan pandangannya sebentar ke arah Raka dan Radit yang sedang mengobrol. Semoga saja mereka benar - benar mengobrol. Raka dan Radit adalah dua orang yang sangat langka berada dalam satu frame.
“Belum lama ini kamu ga komentar apa - apa kalau disinggung tentang hubungan kamu sama Raka.”, tanya Rian yang masih belum menjawab pertanyaan inti dari Kirana.
“Makasih buat seseorang yang udah nyadarin aku kalau lebih baik memegang masa sekarang daripada masa lalu. Maaf Pak, saya cuma mau mastiin Pak Dekan besok hadir atau agar saya bisa finalisasi line-up pentas seni besok.”, ujar Kirana mendadak mulai formal lagi karena Raka berjalan ke arahnya.
“.....”, Rian sempat terdiam sebentar.
“Hn. Pak Dekan besok hadir. Tapi siang. Jadi kemungkinan beliau tidak bisa kasih sambutan di awal. Kalau perlu, beliau menyarankan untuk kata sambutan di selipkan ditengah. Beliau tidak bisa lama dan ingin menyaksikan penampilan tempo dulu terutama yang berbau tradisional.”, jelas Rian pada Kirana.
“Baik, Pak. Makasih infonya ya, Pak.”, ucap Kirana menutup panggilan teleponnya malam itu.
“Nih.”, kata Kirana menyerahkan ponsel itu pada Raka.
“Udah?”, tanya Raka.
“Hn.”, jawab Kirana singkat.
“Terus, gimana, Ran? Pak Dekan bisa hadir?”, tanya Radit dengan nada serius.
Raka mengernyitkan dahi dan bergumam dalam hati kalau si Radit sok serius.
“Jadi, Dit. Tapi kayaknya kita mesti ubah line-up nya lagi, deh.”, ujar Kirana.
Kemudian dia menjelaskan secara singkat informasi yang dia terima barusan dari Rian.
“Ya udah. Kamu pegang filenya di ponsel kamu, kan? Kita diskusi sebentar disini aja. Biar clear dan anak - anak yang mau balik juga bisa balik cepet.”, ujar Radit menyarankan.
Dahi Raka langsung mengernyit. ‘Aku, Kamu? Gila juga ya nih cowok’, komentar Raka dalam hati.
Untuk urusan acara, Radit memang cepat tanggap sehingga bisa diandalkan. Tapi untuk urusan tebar jala, dia juga berada di urutan paling atas.
“Laptop gue di dalem sih. Mau sekalian balik ke aula aja?”, tanya Kirana.
Kirana bisa dibilang sudah sedikit terbiasa dengan bahasa Radit yang seolah masih saja mendekatinya. Padahal, sudah jelas - jelas ada Raka di sampingnya. Meskipun Raka hanya pacar pura - pura Kirana.
“Boleh, di dalem aja kalau begitu. Raka, lo bukannya mau balik malam ini? Besok pagi baru datang lagi. Gue kira teman - teman satu tim lo udah pada balik makanya lo ada disini.”, tanya Radit.
Tentu saja Raka tahu maksud Radit ingin menyingkirkannya dari sini.
“Kamu yakin mau nginep? Ga pulang bareng aku aja? Besok pagi aku jemput.”, ucap Raka yang mendadak hangat dan manis pada Kirana.
Bahkan laki - laki itu memegang bahu Kirana sengaja agar dirinya bisa berhadapan dengannya. Mata Kirana langsung membulat.
‘Apa - apaan nih orang.’, ucapnya dalam hati sambil memberikan sinyal pada Raka.
‘Mending ga usah aneh - aneh deh lo.’, kira - kira tatapan mata Kirana mengucapkan demikian.
Raka tersenyum tipis.
“Oke.. sayang. Aku balik duluan. Kamu hati - hati, ya. Tar malam telpon aku.”, ucap Raka puas melihat ke arah Radit sambil berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
‘Udah gila kali yah itu orang. Kelakuannya random banget. Belom juga berapa hari dia nyuekin gue. Sekarang sok - sok manis.’, wajah Kirana memerah karena malu dengan Radit.
Meskipun dia tidak menyukai Radit. Tapi, Kirana merasa khawatir sekarang kalau - kalau Radit berpikir gaya pacarannya seperti itu. Kirana hanya bisa tertawa canggung selepas Raka pergi.
Radit dan Kirana menuju aula sesuai rencana dan mengumpulkan anak - anak acara yang masih terlihat sibuk dengan properti mereka masing - masing.
“Jadi, Ran. Kalo Pak Dekan maunya seperti itu. Saran line-up gue kaya gini. Lo, bisa punya banyak waktu untuk band pembuka di awal. Terus di tengah, waktu mahasiswa lebih banyak pengen makan, lo bisa masukin acara yang ini sama yang ini, dimana para jajaran dosen yang generasinya beda sama kita, lebih suka.”, jelas Radit memberikan pengarahan.
Tidak hanya Radit dan Kirana. Tetapi ada juga beberapa anak acara lain. Mayoritas anak acara memutuskan untuk menginap di kampus karena masih ada beberapa properti yang harus mereka siapkan.
**********
Ting Tong
Terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Kirana saat gadis itu sibuk membersihkan wajahnya di salah satu toilet aula kampus. Kirana tidak menghiraukannya. Dia sedang sibuk dan tangannya juga basah.
Kirana memutuskan untuk lanjut menggosok giginya dan memasang beberapa lotion setelah itu.
Ting Tong
Ada pesan masuk lagi tak berapa lama setelahnya. Kirana masih tak menghiraukannya. Berhubung itu hanyalah chat, dia tidak terlalu menggubrisnya. Nanti juga bisa dibalas, pikirnya. Kirana juga sudah menghubungi mamanya dan beliau pasti sudah tidur sekarang. Jadi, kecil kemungkinan pesan itu dari mamanya.
“Ran, udah selesai? Yuk, balik. Anak - anak yang lain udah pada siap - siap tidur.”, ujar salah seorang mahasiswi yang juga merupakan staf untuk acara ini.
Dia tidak satu jurusan dengan Kirana, sehingga hanya bertemu saat persiapan acara ini saja.
“Oh.. oke. Anak - anak acara?”, tanya Kirana mengambil handuk dan mengalungkannya di bahu.
Kirana dengan telaten memasukkan peralatan mandinya kembali ke dalam tas kecil bening dengan motif kalimat ‘Morning Routine’ di covernya.
“Anak - anak acara masih di aula. Yang cewek udah pada tidur. Yang cowok masih siapin beberapa properti lagi. Kemungkinan mereka bakal tidur di aula.”, jelasnya.
“Hm.. oke - oke.. Ya udah yuk. Udah mulai sepi juga.”, ucap Kirana tersenyum tipis.
Dia tahu temannya ini sudah takut karena hanya mereka berdua di toilet itu. Kirana juga. Tapi, mereka berdua bersikap seolah - olah biasa saja agar tidak terlalu berlebihan.
Para mahasiswa perempuan yang menjadi staf acara menginap di salah satu ruangan di dalam aula. Semacam ruangan serbaguna yang sudah mereka sulap menjadi bilik. Sementara untuk mahasiswa laki - laki, mereka mengambil ruangan serbaguna satunya yang berada di bagian atas aula.
Ada sekitar 10 orang mahasiswa perempuan yang menginap termasuk Kirana dan teman perempuannya tadi bernama Dwi. Dwi adalah staf bagian sponsorship. Hanya mereka berdua yang belum tidur sementara yang lain sudah tepar karena sudah mempersiapkan ini sejak pagi.
“Ran, lo beneran jalan ama Raka, ya?”, tanya Dwi tiba - tiba.
Kirana yang sedang memeriksa ponselnya sontak langsung terkejut.
“Haha kenapa tiba - tiba lo malah nanyain itu sih? Udah tidur. Besok peperangan kita dimulai.”, balas Kirana dengan halus menolak untuk membahas topik yang dilontarkan temannya.
Pesan 1
Kamu nginep di kampus? Udah dapat approval dari manajemen kampus? Si Radit ama Raka nginep juga?
Pesan 2
Ran, kamu udah telepon mama? Tempat nginep cowok dan cewek dipisah, kan?
Pesan 3
Ran?
‘Ngapain Kak Rian kepo banget? Tumben. Perasaan kemaren - kemaren dia cuek banget.’, pikir Kirana dalam hati sambil membaca kembali pesan - pesan itu.
‘Tunggu, kok isi pesannya kaya berasa aku anak kecil sih? Ampe nanya tempat nginep cewek dan cowok dipisah? Buat apa coba?’, Kirana membaca pesan itu beberapa kali dna berpikir.
‘Ah.. mending ga usah aku jawab aja.’, ujar Kirana sambil menaruh ponselnya begitu saja di samping dan menarik selimut yang dia bawa dari rumah.
__ADS_1