Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 59 Reuni di Lapangan Tenis


__ADS_3

‘Ooooohhhhh….’


Kira - kira seperti itu ekspresi teman - teman Rian saat dirinya menghampiri wanita yang tiba sekitar satu setengah jam kemudian setelah terakhir Rian menutup ponselnya. Wanita itu adalah Claudia, anak dekan kampus yang terlibat satu proyek penelitian dengan Rian.


Wanita itu juga menunjukkan ketertarikannya pada ilmu sains terutama Fisika. Dia saat ini mengajar di salah satu Universitas swasta ternama.


Claudia hadir lengkap dengan tas tenis miliknya yang berwarna hitam dengan akses sedikit putih pada bagian tulisan. Tidak tanggung - tanggung, Claudia juga mengenakan outfit tenis lapangan lengkap dengan bando dan kunciran ekor kuda.


“Hai..”, sapa Claudia begitu Rian datang menghampirinya setelah wanita itu menghubunginya via telepon.


Tempat ini adalah salah satu lapangan untuk bermain tenis yang disewa untuk permainan privat. Setiap Sabtu, teman Rian memang sengaja menyewanya setengah hari. Biasanya mereka hanya menyewa maksimal dua lapangan tergantung berapa jumlah yang hadir.


Maklum, mereka sudah memiliki kesibukan masing - masing dan bahkan ada yang sudah berkeluarga. Sehingga, tidak setiap waktu mereka bisa menghabiskan waktu liburan di lapangan tenis.


Khusus hari ini, setelah mendengar informasi bahwa Rian akhirnya akan datang, banyak diantara mereka yang berada di grup chat yang sama juga ikut datang. Dari situlah kenapa lapangan yang di sewa jadi 4.


“Rian, kenalin dong.”, ujar beberapa teman Rian yang kebetulan memang sedang jomblo.

__ADS_1


Rian tersenyum tipis membalas sapaan Claudia sebelum akhirnya dia mempersilahkan Claudia untuk sekedar berkenalan singkat dengan rekan - rekannya. Rian juga memberikan kode agar Claudia bisa menaruh tasnya di tempat yang sudah tersedia.


“Haloo.. Kenalin, gue Claudia.”, ucap Claudia dengan nada yang ramah sambil tersenyum.


Ekspresinya sukses memberikan panah - panah yang menusuk hati para jombloers yang ada di sana.


“Oh kenalin, gue Rehan”


“Gue Deden”


“Gue Apen”


Satu per satu diantara mereka mulai berkenalan. Mereka yang jomblo bersemangat karena sudah lama lapangan tenis mereka gersang karena memang satu grup hanya diisi oleh teman - teman laki - laki saja.


Mereka juga ada grup alumni SMA tetapi setiap kali ada undangan untuk berkumpul dan bermain tenis, selalu saja sepi.


“Kesibukannya apa nih? Kenal Rian dimana?”, seseorang mulai dengan berani mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


Padahal, Rian berharap proses perkenalan ini sudah sampai disini. Dia takut Claudia merasa tidak nyaman. Padahal, sebenarnya dia yang merasa lebih tidak nyaman. Seketika dia menyesal karena sudah berbicara jujur pada Claudia. Padahal mungkin kebohongan kecil tadi bisa menyelamatkannya hari ini.


Rian kesini juga karena pikirannya sedang kalut. Dia mana pernah datang ke acara reuni SMA karena dia sangat tidak suka berbasa - basi atau mengobrol panjang. Contohnya seperti saat ini.


“Kesibukanku sama dengan Rian. Mengajar.”, balas Claudia sopan.


Terbalik dari apa yang dipikirkan oleh Rian, Claudia sepertinya sangat nyaman dan senang bertemu dengan teman - teman Rian.


“Oh.. Benarkah? Rekan kerja? Kalian mengajar di kampus yang sama? Enak sekali, Rian…”


“Dari dulu dia memang selalu saja dikelilingi oleh wanita - wanita cantik.”


Komentar teman - teman Rian sontak membuat Claudia tersenyum.


“Tidak… tidak.. Kami tidak mengajar di kampus yang sama. Sayangnya. Tapi, kami akan terlibat dalam proyek yang sama untuk beberapa bulan ke depan.”, jawab Claudia.


Sebetulnya, gadis itu tidak perlu menjawabnya dengan lengkap. Cukup sampai pada profesinya sebagai dosen saja. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Rian. Dia benar - benar tidak berniat untuk memperpanjang percakapan ini.

__ADS_1


__ADS_2