Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 67 Salah Sangka


__ADS_3

“Oke, terima kasih Dok.”, ucap Rian pada seorang petugas yang membantunya melakukan proses administrasi di rumah sakit.


“Lo udah ngehubungin keluarga?”, tanya Rian menghampiri Claudia di kursi tunggu.


Dokter sudah melakukan pemeriksaan. Papa Claudia atau Dekan Fakultas tempat Rian bekerja kelelahan sehingga mengakibatkan dirinya kehilangan keseimbangan dan kesadaran. Beberapa asupan terpantau kurang sehingga mempengaruhi kinerja tubuh salah satunya otak.


Secara keseluruhan beliau tidak apa - apa. Hanya saja gejala vertigo yang menyerang cukup berat sehingga masih harus berbaring di rumah sakit. Asupan makanan juga harus dijaga dan diminta untuk beristirahat.


Claudia menggeleng. Dia sangat panik. Sebagai anak paling bungsu, dia tidak pernah sekalipun mendapati papanya seperti itu sebelumnya. Semua memang selalu dipantau dan dikontrol oleh kakak - kakaknya yang secara bergantian datang ke rumah.


Hanya satu orang saja kakak Claudia yang tinggal di rumah. Sementara yang lain sudah memiliki keluarga masing - masing. Ibu Claudia biasanya lebih sering berotasi mulai dari anak yang paling pertama hingga kembali lagi ke rumah setiap minggunya. Claudia tidak terlalu dekat dengannya.


“Gue saranin lo telepon sekarang.”, ucap Rian singkat dan memberikan beberapa surat yang dia dapatkan tadi di bagian administrasi.


“Terima kasih.”, jawab Claudia.


Dia merasa tenang karena Rian ada bersamanya. Dia benar - benar gemetar karena takut papanya kenapa - kenapa.


“Halo, kak.. Kak papa di rumah sakit.”, Claudia akhirnya mulai menghubungi satu per satu keluarga intinya.


Mereka tentu saja kaget. Mayoritas mereka langsung menuju kesini. Sebagian yang masih bekerja mengirimkan istri mereka terlebih dahulu termasuk mama Claudia yang sekarang sedang menginap di rumah kayak Claudia, anak ketiga.


“Ini..”, ucap Rian menyodorkan minuman hangat pada Claudia.


Setidaknya mereka sudah 4 jam berada di rumah sakit. Hari sudah mulai gelap. Sembari Claudia menghubungi keluarganya, Rian berinisiatif untuk membeli minuman hangat dari vending machine yang tak jauh dari sana.


“Claudiaa….”, tak lama kemudian, salah seorang yang mungkin saudara Claudia datang.


Claudia terpaksa meletakkan kembali minuman hangat yang tadi diberikan Rian padanya karena dia harus menangkap pelukan dari kakaknya yang usianya terpaut jauh darinya.


Tentu saja Rian tak mengenalnya. Dia membawa satu orang anaknya yang sudah besar dengan seragam SMP nya. Sepertinya dia bersekolah di sekolah islam swasta. Terlihat dari tulisan di baju seragamnya.


“Sudah boleh jenguk papa?”, tanya kakaknya itu.


Claudia menggeleng.


“Masih belum. Tunggu informasi dari dokter. Soalnya papa vertigo berat, jadi baru di kasih obat sama dokter dan sedang istirahat.”, jelas Claudia.

__ADS_1


“Kecapekan? Atau ada penyakit lainnya? Kemaren pas Medical Check-up rutin, kata Mas Aryo oke kok.”, ucap kakaknya.


Aryo adalah salah satu kakak laki - laki Claudia yang berprofesi sebagai dokter spesialis. Dia yang selalu bertugas mengatur jadwal Medical Check-up rutin papa di rumah sakit tempat dia bekerja.


Walaupun bukan dia yang melakukan, tetapi dia yang selalu melakukan booking, mengatur jadwal, dan mengingatkan papanya.


“Hm..”, jawab kakaknya.


Saat tak ada lagi yang bisa dia lakukan, kakak Claudia baru sadar kalau ada seorang pria disana. Kakaknya langsung melirik Claudia dan melontarkan pertanyaan dengan memberikan kode mata yang intinya. ‘Siapa? Pacar kamu?’


Claudia hanya tersenyum. Dalam hati, sebenarnya dia berharap begitu. Tetapi bagaimana, ya. Claudia sudah melihat ada foto wanita lain di mobil Rian.


“Maaf Rian. Kenalin, ini kakak gue. Ini anaknya. Lo tahu sendiri gue anak paling bontot. Jadi kakak gue udah pada tua semua.”, ucap Claudia sambil bercanda.


“Enak aja.. Kenalin, saya Sera.”, ucap wanita itu.


“Rian.”, Rian menjabat uluran tangan untuk salam itu sambil tersenyum.


“Claudia, sorry. Berhubung udah ada yang nemenin. Gue balik duluan, ya.”, ucap Rian langsung menghaturkan pamit.


“Eh.. kenapa? Gapapa loh. Terusin aja.”, kata Sera, kakak Claudia tertawa tipis.


Dia datang ke Rumah Sakit dengan perasaan was - was, takut kalau papanya kenapa - kenapa. Tetapi, setelah mendengarkan penjelasan dari Claudia, kecemasannya perlahan hilang dan sekarang sudah bisa langsung melayangkan candaan.


Rian tidak terlampau menanggapi candaan itu. Wajahnya masih serius meski tersenyum tipis.


“Gue masih harus meriksa banyak berkas UTS dan ini…”, kata Rian sambil menunjuk ke bawah.


Sedari tadi, dia hanya mengenakan sendal jepit saja.


“Ohiya.. Thanks banget ya, Rian.”, ucap Claudia tak bisa menahan Rian lagi.


Dia juga malu pada kakaknya.


***********


‘Kenapa dia harus ada disana sih? Memangnya perempuan itu siapa? Duduk sebelah - sebelahan pula. Hah…!’, Kirana menendang - nendang apapun yang ada di depannya sambil berjalan keluar dari Rumah Sakit.

__ADS_1


Terkadang dia menendang dedaunan kering, terkadang botol air mineral, atau bahkan kerikil. Dia segera menyusul keduanya di Rumah Sakit dan sesekali mengintip. Kirana bahkan sampai rela menunggu beberapa jam hanya untuk mencari tahu siapa wanita itu.


Meski dia hanya melihat dari kejauhan, dia yakin wanita itu cantik. Tapi, Kirana belum sadar, kalau wanita itu adalah wanita yang sama yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya tadi siang.


Kalimat kakak Claudia yang tanpa sengaja dia dengarkan dari jarak yang tidak terlalu jauh membuat Kirana semakin bete dan akhirnya memutuskan untuk keluar dan pulang. Tasnya masih dia tinggalkan di kampus.


Ghea baru saja mengirimkan chat kalau gadis itu menitipkannya di helpdesk. Sahabatnya itu sedang mengerjainya. Kirana atau siapapun di kampus itu akan merasa lebih baik kalau tasnya tertinggal di kelas dibandingkan mendarat di tangan helpdesk.


Proses untuk mengambilnya lebih ribet mengalahkan prosedur mengurus surat nikah beda negara. Kirana sudah pernah 2x mengalami hal ini dan dia harus melewati berbagai lapis prosedur hanya untuk memastikan bahwa barang itu benar - benar miliknya.


Bahkan prosedurnya mungkin bisa mengalahkan soal - soal Fisika. Ghea memang keterlaluan. Dia pasti merasa kesal karena ditinggal sendirian dan Kirana bahkan tak mengatakan apa - apa tentang itu.


Kirana kembali menendang - nendangkan kakinya sambil berjalan. Kebetulan dia menendang kerikil tanpa dia sadari dan mengenai seseorang yang ternyata adalah seorang pria paruh bawa dengan motornya. Entah dia tukang ojek atau apa. Tetapi pria itu mangkal di sekitaran halte tak jauh dari rumah sakit.


“Woy… hati - hati dong. Kalau kena mata saya gimana? Kamu masih mahasiswa kok tendang - tendang kerikil sembarangan?”, teriak pria itu.


Dia sudah berumur nampaknya. Terlihat dari rambut putih yang menutupi kepalanya serta beberapa keriput kecil di bagian matanya.


“Oh.. maaf - maaf Pak. Saya gak sengaja.”, kata Kirana langsung panik.


Langit sudah gelap pertanda hari sudah malam. Kirana sudah berjalan ke luar rumah sakit selama 15 menit dan bahkan tidak sadar dia berbelok kemana sendirian saking tidak konsennya. Dan sekarang dia malah mencari gara - gara dengan tukang ojek pangkalan.


“Maaf - maaf. Untung kena helm gue. Kalau kena mata gue gimana? Gue tanya deh sama lo. Hah? Jalan tuh hati - hati. Bukan sekolah aja digedein. TIngkah laku juga.”, ucapnya masih dengan sangat gahar dan sangarnya.


Hal ini tak lain karena dirinya sangat terkejut ketika kerikil itu melayang mengenai kaca helm nya saat dia sedang bermain game online.


“Mohon maaf Pak.. saya minta maaf atas kesalahan yang diperbuat adik saya ya, Pak. Saya suruh tunggu disana, dia malah jalan - jalan. Saya pastikan akan saya marahin di rumah. Ini buat beli rokok, Pak.”, tiba - tiba Rian muncul.


Kirana langsung melirik ke belakang kebingungan.


‘Bagaimana tiba - tiba dia bisa disini? Tidak. Bagaimana tiba - tiba dia bisa tahu aku disini? Tunggu dia tahu ga sih, ini aku? Gelap soalnya.’, Kirana bertanya - tanya dalam hati.


Tadi dia sudah ketakutan dan hampir menangis. Dia tidak pernah ke daerah sekitar sini sebelumnya.


“Iya, saya minta maaf Pak. Untung Bapak gak kenapa - kenapa. Saya ijin bawa adik saya dulu, ya Pak?”, ucap Rian langsung menarik Kirana.


Pria itu tidak banyak bicara lagi dan membiarkan Rian pergi membawa Kirana.

__ADS_1


__ADS_2