Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 43 Akhirnya Jujur


__ADS_3

“Jadi, gimana ceritanya? Apa yang mau lo akuin ke gue sekarang? Buruan Ran! Gue udah ga sabar. Dan lo tahu apa yang bisa gue lakuin kalo gue udah ga sabaran?”, ucap Ghea segera setelah mereka berhasil mengamankan satu spot meja dua kursi di restoran yang mereka incar.


Berhubung mereka sudah memilih pesanan jauh sebelum mereka sampai di resto, proses pemesanan berlangsung dengan cepat. Sekarang keduanya tinggal menunggu pesanan mereka datang. Melihat banyak yang datang kesini, pesanan mereka membutuhkan lebih banyak waktu.


“Boleh berubah pikiran, ga?”, tanya Kirana.


“ENGGAK.”, jawaban tegas dari Ghea langsung meluncur.


Kirana menarik nafasnya sebentar.


“Awas lo cerita ke yang lain, ya. Pokoknya gak boleh. Dan lo beneran harus traktir gue hari ini dan anterin gue pulang kampus seminggu ini.”, ujar Kirana.


“Mahal amat. Memangnya sefantastis apa sih cerita lo.”, tanya Ghea.


“Gak tertarik? Ya udah.”, ujar Kirana.


“Iyaa… iyaa.. Iyaa… gue beli cerita lo. Semua yang lo sebutin tadi akan gue lakuin. Sekarang cerita. Keburu dateng nih makanannya.”, ucap Ghea.


“Gue sama Raka pura - pura pacaran.”, ungkap Kirana.


Singkat, padat, dan jelas. Ghea seharusnya segera paham apa yang dimaksud oleh Kirana saat itu juga.


“Tunggu, gue gak begitu mendengarkan. Boleh lo ulang sekali lagi?”, tanya Ghea kembali.


Sebenarnya Ghea bisa mendengarkan Kirana. Perkataan Kirana barusan cukup jelas. Dia hanya merasa tidak yakin pada apa yang dia dengarkan.


“Gue sama Raka cuma pura - pura pacaran.”, ucap Kirana.


Ghea yang mendengar pernyataan gadis itu masih melongo. Mulutnya benar - benar membentuk huruf ‘O’. Ekspresi wajah Ghea sekarang bisa dijadikan salah satu meme dan akan viral.


“Perlu gue ulang lagi?”, tanya Kirana sudah menduga ekspresi Ghea akan seperti itu.


Yah, siapa yang akan percaya sih kalau ternyata dia memang hanya pura - pura pacaran dengan Raka. Sekelas Radit dan Rian saja bisa tertipu. Apalagi berkat perlakuan Raka yang sebenarnya kurang ajar tempo hari pada Kirana.

__ADS_1


Kalau dipikir - pikir sekarang, Kirana juga merasa tidak rela pria itu menciumnya tanpa aba - aba.


“Yang bener lo, Ran? Ini tu bukan prank, kan? Atau jangan - jangan di sekitar sini ada kamera tersembunyi. Sekarang ada yang lagi sembunyi dan ngasih gue kejutan selamat ulang tahun?”, tanya Ghea.


“Lo ulang tahun?”, tanya Kirana.


“E-enggak sih. Tapi wahhhhh…. Yang benar Ran?”, tanya Ghea kembali untuk yang kesekian kalinya.


“Mau berapa kali lagi sih Ghe nanya-nya? Kalau begini seharusnya gue naikin deh benefit yang gue dapat buat cerita rahasia besar ini ke lo.”, ungkap Kirana.


“Tapi kenapa? Maksud gue, lo yang gue pikir suka sama Radit malah ga nerima dia dan sekarang pacaran sama Raka. Pura - pura? Alasannya?”, tanya Ghea.


Oops. Kirana tidak memikirkan pertanyaan ini sebelumnya. Dia tidak mempertimbangkan Ghea akan terpikir untuk bertanya ini. Tentu saja. Aneh memang dia tiba - tiba pacaran dengan Raka. Sekarang lebih aneh lagi karena mereka pacaran pura - pura.


Alasannya? Pasti ada dong alasannya. Setidaknya itu yang sekarang ada di pikiran Ghea.


“Karena gue mau bikin Radit jauh dari gue.”, jawab Kirana ragu.


“Cuma karena itu? Gue gak yakin. Masa cuma karena hal itu, lo mau pura - pura pacaran sama Raka?”, tanya Ghea tak percaya.


Lebih banyak ngeles justru akan terdengar lebih mencurigakan. Lebih baik Kirana berhenti disini sekarang dan tidak meneruskan. Begitulah kira - kira pikirannya.


“Terus, siapa yang ngusulin ide ini lebih dulu? Jangan bilang lo dan Raka nerima gitu aja.”, tanya Ghea kembali seperti reporter.


Disaat - saat seperti ini, Kirana ingin sekali pesanan makanan mereka segera datang. Dia sudah tidak bisa menerima banyak pertanyaan lagi dari Ghea. Bisa - bisa dia juga harus mengungkapkan kalau dirinya dan Rian juga pernah ada hubungan sebelumnya.


‘Huh… kalau kenyataan yang itu aku beritahu pada Ghea, dia sudah pasti akan pingsan. Aku jamin.’, pikir Kirana.


“Enak aja. Memangnya gue cewe apaan? Raka yang ngusulin lebih dulu. Gue gak tahu apa tujuannya. Tapi yang jelas, gue juga butuh dia buat menjauh dari Radit. Gue capek harus berhadapan sama Fay. Ya.. lo bayangin aja. Udah sampai sebegininya, Radit masih aja berusaha untuk deket sama gue.”, jelas Kirana.


Seorang waiter datang membawakan minuman mereka. Karena haus, Kirana segera menyuruput minuman yang ada di depannya. Salah satu minuman viral yang mereka lihat di media sosial.


“Enak ya, Ran dikelilingi oleh banyak pria. Sekalian aja sama Pak Rian.”, celetuk Ghea.

__ADS_1


“Uhuk -uhuk-uhuk.”, Kirana langsung terbatuk - batuk mendengarnya.


“Ya ampun Ran. Pelan - pelan dong makannya. Gue tahu lo haus, tapi gak gini juga.”, ucap Ghea membantu mengambil tisu yang ternyata tidak ada di meja mereka.


“Ghea harus permisi pada orang di sebelahnya untuk mengambil tisu.


***********


"Buat apa lagi sih lo datang kesini? Jangan salah sangka. Gue di kampus bersikap biasa aja karena lo dosen. Tapi kalo di luar, jangan harap gue bisa bersabar dan bisa tersenyum manis.", ungkap Raka pada Rian yang sedang berdiri di depannya.


Mereka sedang berada di sebuah klub terkenal di pusat kota. Rian memang beberapa kali kesini untuk bertemu teman - teman lamanya yang tengah berlibur di Indonesia.


Rian tidak minum, hanya saja dia juga tidak memiliki polling suara yang besar untuk membawa semua rekannya memilih tempat berkumpul yang lain.


Saat dirinya bergerak menuju toilet sebentar, seorang pria yang dikenalnya terduduk di salah satu bangku bar di depan bartender. Rian seperti kenal tetapi dia tidak terlalu memikirkannya dan bergerak menuju toilet.


Sekeluarnya dari sana, dirinya kembali mencoba untuk melihat pria tadi. Beruntung, kali ini pria itu membalikkan kepalanya dan juga mengangkat sebagian rambut yang menutupi wajahnya.


'Raka?', tanya Rian kaget saat mengetahui laki - laki yang dia lihat itu adalah Raka, mahasiswanya.


Rian berpikir untuk mengacuhkannya saja dan kembali berkumpul dengan teman - temannya. Namun beberapa menit kemudian, dia merasa terganggu dan kembali menghampiri Raka. Anak itu sepertinya sudah benar - benar mabuk. Meski begitu dia masih memegang satu gelas kecil di tangannya.


"Bangun.", ucap Rian pada Raka.


Raka tak bergeming.


"Bangun. Ngapain lo disini.", tanya Rian lagi.


Namun laki - laki itu juga tak menghiraukannya. Dia malah membalikkan kepalanya agar tak melihat Rian.


"Udah lama lo disini. Raka.. lo itu masih mahasiswa. Ngapain main di tempat begini?", tanya Rian.


"Heh.. ga usah sok - sok jadi dosen disini. Lo sama gue disini tuh sama. Urus - urusan lo dan gue juga gak akan mencampuri urusan lo.", ucap Raka meracau.

__ADS_1


"Raka... lo mabuk berat. Lo harus balik sekarang. Lo gak mau terlibat perkelahian disini kan?", ucap Rian.


Dia sangat mengenal tempat ini dan disini tidak seperti halnya di Perancis. Rian sangat kahawatir jika terjadi sesuatu pada anak ini.


__ADS_2