Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 66 Rencana Terselubung Raka


__ADS_3

Mobil sedan berwarna hitam tampak keluar dari halaman parkiran. Di pintu keluar parkir, seseorang membuka kaca mobilnya untuk melakukan tapping keluar dengan menggunakan kartu mahasiswa.


Di kampus ini, setiap mahasiswa yang memiliki kendaraan, diperbolehkan untuk parkir gratis dengan menggunakan kartu mahasiswa mereka, selama parkiran tersedia. Jika penuh, maka mereka harus parkir di halaman fakultas atau fasilitas lain dimana mereka harus rela melakukan pembayaran.


Meski begitu, tarif parkiran yang dipatok masih relatif murah. Selama ini, jarang sekali kasus dimana parkiran benar - benar penuh. Sehingga, para mahasiswa bisa legowo memarkirkan motor mereka.


Kebanyakan mahasiswa menggunakan transportasi umum lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki atau sepeda kampus yang disediakan dengan tarif yang sangat murah per jamnya.


Raka, pria itu nampak mengendarai mobil sedan berwarna hitam yang ternyata adalah mobil milik Fas. Gadis itu juga terlihat berada di bangku penumpang. Alhasil beberapa orang yang kebetulan lewat dan mengenal mereka langsung berbisik - bisik. Keduanya mulai terlihat bersama belakangan ini.


Mereka yang mengenal Radit akan bertanya - tanya mengapa Fas justru terlihat jalan bersama Raka dan bukan Radit. Begitu juga dengan Kirana.


“Jadi, lo resmi putus sama Radit?”, tanya Raka sambil mengendarai mobil itu dengan santai keluar dari lingkungan kampus.


“Belum. Masih break.”, jawab Fas dengan malas.


Gadis itu memilih untuk menolehkan pandangannya pada jendela mobil untuk melihat pemandangan sekitar yang asri. Setidaknya sampai pintu depan kampus.


“Gak salah? Belakangan gue sering liat Radit menempel terus dengan Kirana. Yakin, dia pahamnya lo break sama dia, dan bukan putus?”, tanya Raka terdengar seperti sedang mengompori.


Mereka berdua mulai dekat setelah tahu keberadaan satu sama lain. Fas yang mengambil banyak kelas berbeda dengan Raka plus dia juga merupakan mahasiswa jurusan yang berbeda membuat keduanya tidak tahu kalau mereka satu kampus.


Baru sekitar dua minggu ini mereka mulai terlihat sering bersama.


“Hah.. Si Kirana itu maunya apa sih? Cantik juga jauh.. Demennya nempeeel mulu sama laki orang.”, gerutu Fas kesal.


Raka sedikit terkejut. Dia memang menantikan respon yang fantastis. Tapi, respon yang barusan diberikan oleh Fas justru melampau ekspektasinya.


“Lo nyalahin Kirana? Bukan Radit?”, tanya Raka sekilas seperti melakukan pembelaan terhadap Kirana.


“Trus? Apa coba namanya? Eh.. asal lo tahu, yang menginisiasi pacaran ini adalah Radit. Dia yang nembak gue duluan. Bukan gue yang ngemis minta pacaran sama dia. Berarti dia suka dong sama gue.”, balas Fas.


“Hm.. oke.. “, Raka tak percaya 100% yang dikatakan Fas.


Tapi tidak masalah, Raka tidak terlalu memikirkannya. Toh hubungan mereka berdua tidak memberikan impact apapun untuk Raka.


“Dan lo, lo beneran pacaran sama Kirana? Darimananya sih yang lo suka. Gue muter 360 derajat, pun gak ada yang bikin gue suka sama dia.”, terang Fas dengan intonasi yang sama seperti sebelumnya. Masih kesal.


Dia memang sedang kesal beberapa hari ini karena beberapa hal. Pertama adalah UTS. Keputusan dia untuk break sementara dengan Radit membuat dia kehilangan sumber untuk mengajarinya UTS dan juga motivasi untuk belajar.


Kedua, Radit nampak tak punya niat sama sekali memperbaiki hubungan mereka malah sampai mundur dari Ketua BEM. Padahal, Fas sangat bangga sekali memiliki pacar seorang Ketua BEM. Setidaknya itulah yang dia jual setiap kali berkumpul dengan teman - teman yang lain.


Dan sekarang, cowok itu malah akrab dengan Kirana?


“Ya jelas lah kamu ga suka. Kamu kan perempuan, sukanya sama laki - laki. Jelas kamu gak suka sama Kirana.”, canda Raka.


“Ga usah bercanda deh, Raka. Sekarang kita mau kemana?”, tanya Fas.


“Klub?”, balas Raka.


“Heh.. ini tuh di Indonesia. Bisa digoreng aku sama papa kalau ketahuan ke Klub. Party boleh, Klub engga.”, kata Fas menggebu - gebu.


“Apa bedanya?”, tanya Raka bingung.


“Party itu di rumah orang yang dikenal. Isinya mayoritas yang kita kenal. Kalo klub? Kamu lupa kamu di hajar orang di klub?”, ucap Fas.


“Bukan, bukan aku yang dihajar.”, jawab Raka.


“Eh? Bukannya waktu itu kamu bilang kalau kamu abis berantem di klub?”, tanya Fas bingung.


“Aku bilang aku berantem. Tapi, aku gak bilang aku yang digebukin.”, balas Raka.


“Terus?”, tanya Fas bingung.


Laki - laki di sampingnya ini masih aneh sama seperti dulu. Penuh tanda tanya dan tiap menjawab pasti gak komplit alias setengah - setengah.


‘Hm.. bukan saatnya kamu tahu, Fas.’, ucap Raka dalam hati.


“Kamu kenal Claudia?”., tanya Raka.


“Eh? Tiba - tiba nanya itu. Fix, aneh.”, komentar Fas.


“Jawab aja. Kenal Claudia, ga?”, tanya Raka kembali.


“Claudia siapa? Claudia anak dekan?’, tanya Fas.

__ADS_1


“Anak Dekan?”, tanya Raka terkejut.


“Nama Claudia banyak. Tapi kalo lo tanya Claudia yang gue kenal ya, cuma anak Dekan. Dekan sama bokap gue kan satu almamater. “, ucap Fas.


“Ah.. dan lo anak ga direncanakan?”, ucap Raka kembali melontarkan lelucon.


Secara Dekan Kampus sudah bisa dibilang berumur. Kalau beliau satu angkatan dengan papa Fas, berarti usia papa Fas, tidak jauh berbeda. Kalau dilihat - lihat, Claudia sepertinya sudah usia 28 ke atas. Mungkin 30-an karena dia berbicara dengan santai pada Rian.


“Iya.. kenapa? Puas lo?”, kata Fas tidak berkomentar banyak.


Dia sudah terbiasa dengan julukan itu karena dia memang anak paling terakhir. Kakak pertamanya bahkan sudah memiliki 5 anak. Dan beberapa keponakannya malah lebih tua darinya sedikit.


“Kenapa lo tiba - tiba nanyain Claudia? Trus lo nanya, seolah - olah lo cuma tahu namanya doang. Buat apa?”, tanya Fas bingung. Tetapi dia cukup cerdas untuk bisa menemukan keanehan dari pertanyaan Raka.


Bukannya menjawab, Raka justru malah mengangguk - angguk saja.


“Ih.. jangan cuma angguk - angguk aja, Rakaa.. Di jawab. Kenapa kamu tiba - tiba nanyain orang yang namanya Claudia.”, tanya Fas.


“Gapapa.. Kamu punya nomornya?”, tanya Raka.


“Gapapa, tapi kamu minta nomor? Nomor apa? Nomor rumah?”, tanya Fas juga ikut bercanda.


“Ya.. nomor hape lah.. Nanti boleh juga kalau kamu mau kasih nomor rumah.”, ucap Raka juga tak menolak.


“Ngaco, kamu.”, ucap Fas.


Fas sudah memegang ponselnya untuk mencari nama Claudia. Dia yakin betul sudah pernah menyimpan nomor wanita itu.


“Seriusan ih.. Buat apa? Kalo enggak, aku ga kasih.”, kata Fas.


Raka mencoba menjangkau ponsel Fas. Namun, Fas dengan cepat menyadari dan menariknya agar Raka tak berhasil mendapatkannya.


“Jawab dulu. Lo naksir apa dia?”, tanya Fas.


“Hn.”, jawab Raka.


“Berarti lo sama Kirana?”, tanya Fas langsung to the point.


“Kirana kan seumuran. Kalo Claudia kan beda. Lagian Kirana ga bisa diajak ke klub.”, kata Raka.


“Hah… gue masih belum bisa dapet jawaban dari pertanyaan gue.”, kata Fas menyipitkan matanya.


********************


Tok tok tok


Claudia menghampiri ruangan papanya yang masih berada di lantai yang sama dengan ruangan para dosen Fisika. Claudia mencoba mengetuk tipis beberapa kali namun tak ada yang menyahut.


Untuk memberitahu kedatangan seseorang di ruangan Dekan, mereka memang tidak perlu menakan dengan kencang. Ruangan dekan berada di area yang lebih kedap dan jauh dari kebisingan. Sehingga, sedikit pergerakan saja pada pintu sudah bisa terdengar ke dalam.


Tok tok tok


Claudia kembali mengetuk pintu namun tidak ada suara yang merespon dari dalam. Wanita itu bingung. Padahal barusan jelas - jelas pria bernama Bram itu mengatakan melihat Pak Dekan berjalan ke ruangannya.


Meskipun Claudia adalah putri dari Dekan Fakultas, Claudia masih cukup sopan untuk tidak langsung menyelonong masuk. Meski dia putrinya, tetapi dia tetap saja tamu di kampus ini. Setelah beberapa kali mengetuk, Claudia baru berani untuk mencoba masuk dan melirik ke dalam.


Alangkah terkejutnya Claudia saat melihat papanya sudah tersungkur didekat meja miliknya. Sebuah sajadah sudah terbentang yang kemungkinan beliau memang berencana ingin menunaikan shalat.


Sontak Claudia langsung berteriak. Beberapa orang yang memiliki ruangan tak jauh dari sana langsung menghampiri. Claudia langsung mengatakan dan meminta bantuan. Tak lama, suara riuh itu juga terdengar ke ruangan dosen Fisika.


Saat itu bertepatan dengan jam makan siang yang sudah usai dan jam pelajaran baru dimulai. Sehingga, tak banyak orang yang berada di ruangan mereka. Beberepa dosen yang menghampiri Claudia juga adalah asisten dosen yang kebetulan sedang meeting di ruangan sebelah.


Salah seorang akhirnya berlari ke ruangan dosen Fisika untuk meminta bantuan. Bram sudah tidak disana karena dia ada kelas. Hanya Rian dan Pak Yoseph, Alex, dan Devanka yang berada disana.


Mereka langsung berlari menghampiri.


“Kenapa?”, tanya Pak Yoseph ikut panik.


“Rian, papa.. “, ucap Claudia yang langsung memanggil nama Rian yang dia kenal ketika melihat pria itu di pintu.


Melihat apa yang ada di depannya, Rian dengan sigap mengambil ponsel dan melakukan panggilan darurat. Beruntung, kampus mereka memiliki rumah sakit.


“Ambulans akan segera datang.”, ucap Rian langsung mendekat dan mencoba melihat sedikit.


Sebelumnya, dia pernah belajar tentang kedokteran, sebelum akhirnya memutuskan untuk menggeluti dunia Fisika. Setidaknya untuk basis pengetahuan dia mengetahuinya.

__ADS_1


15 menitan mereka menunggu sampai beberapa orang muncul dengan para petugas kesehatan. Alex memerintahkan para asisten dosen tadi untuk standby di pintu masuk gedung dan juga parkiran untuk mengarahkan.


Dengan langkah sigap para petugas, Dekan berhasil di bawa ke dalam ambulans. Petugas kesehatan sempat memberikan pertolongan pertama. Setelah stabil. Mereka langsung menandunya ke ambulans. Claudia juga ikut masuk ke dalamnya.


Merasa takut dan bingung, Claudia ikut menarik lengan Rian untuk masuk bersamanya kesana. Tak ingin mencari masalah disaat seperti ini, Rian tidak menolak dan ikut masuk ke dalam. Terlebih, dia juga merasa sangat menghormati papa Claudia.


Kejadian itu tentu saja menarik perhatian mahasiswa terutama mereka yang berada di sekitar tempat. Baik di depan parkiran, sekitaran gedung, dan juga akses masuk fakultas. Kehadiran ambulans satu saja sudah berhasil menarik perhatian mereka. Apalagi ketika ada orang yang ditandu keluar dari gedung.


Gosip juga langsung dengan cepat menyebar.


“Kenapa? Kenapa?”


“Ada yang ditandu?”


“Eh,, dosennya ganteng.”


“Fokus woy”


“Eh,, siapa sih? Kenapa? Mahasiswa ya? Sakit?


“Ran, Ran, ayooo lihat dulu nanti lanjutin. Ambis banget.”, kata Ghea juga ikut menarik Kirana karena penasaran untuk melihat.


Suara ambulans dan beberapa mahasiswa yang saling bercerita membuat berita langsung tersebar. Bahkan untuk mereka yang sedang berada di perpustakaan.


“Ih.. lo aja sendiri. Ngapain ngajak - ngajak gue. Lagian ambulans bukan berarti ada yang sakit, kan?”, kata Kirana awalnya menolak.


Dia harus segera merekap dan memantau persiapan acara yang akan dilakukan BEM kurang lebih 2 minggu lagi.


“Sini.. itu dari gedung 8, loh. Jangan - jangan Pak Rian. Doi kan di gedung 8?”, Ghea hanya sekenanya.


Bukan karena Ghea tahu tentang Rian dan Kirana. Tapi, sebagai mahasiswa tingkat kedua, memang jumlah dosen yang mereka kenal masih sedikit. Ghea hanya tahu Rian, dosen Fisika yang ruangannya ada di gedung itu.


“Eh?”, Kirana langsung panik mendengar kata - kata Ghea.


Karena khawatir, akhirnya dia dengan suka rela meninggalkan apa yang dia kerjakan sekarang untuk mengikuti Ghea.


“Eh.. bener itu Pak Rian, tuh!”, ucap Ghea setelah berhasil menggeser beberapa mahasiswa lain yang masih di bawah mereka (Mahasiswa baru).


“Masa?”, Kirana juga ikut mencoba melihat diantara beberapa kerumunan untuk memastikan.


“Bukan dia deng. Pak Rian baik - baik aja.”, kata Ghea setelahnya.


Sisi tempat Ghea berdiri sekarang memang bisa melihat dengan lebih jelas. Sementara Kirana, harus terhalang pohon besar dan seorang senior yang berdiri di depannya.


“Bukan, bukan Pak Rian. Doi baik - baik aja, tuh.”, kata Ghea melaporkan seolah sedang siaran langsung.


Setelah senior tadi pergi, barulah Kirana bisa melihat dengan jelas. Tapi saat itu Dekan sudah ditandu masuk ke dalam ambulans. Kirana melihat bagian dimana Claudia menarik lengan Rian untuk ikut masuk.


Deg.


Siapapun yang melihat itu terlebih Kirana, pasti akan memiliki spekulasi yang kurang lebih sama.


“Pak Rian sama Mba itu? Maaf siapa namanya? Punya hubungan?”, tanya asisten dosen yang tadi stand by langsung melontarkan pertanyaan pada asisten dosen satunya.


“Hush.. udah ah balik. Kalo kita tetap disini, yang ada kerumunan mahasiswa gak bubar - bubar.”, jawab rekannya.


“Sudah sudah.. Lanjut aktivitasnya. Jangan berkumpul seperti itu.”, ucap Pak Satpam yang segera membubarkan kerumunan mahasiswa. Berbagai bisik - bisik riuh langsung terdengar.


“Ya udah, yu Ran. Balik.”, panggil Ghea berbalik.


Namun, Kirana yang dia panggil hanya terdiam saja di tempatnya.


“Eh… ngelamun aja. Gak baik loh ngelamun di bawah pohon? Napa? Orang pada langsung sibuk berbisik - bisik, kamu bengong.”, ujar Ghea.


“Ran, udah hayok… Hey!”, Ghea sampai harus menjentikkan jarinya di hadapan wajah Kirana agar gadis itu tersadar.


“Eh? Kenapa?”, tanya Kirana refleks dan kaget.


“Hayukkk… sejam lagi kelas. Katanya mau neyelesain checklist-an acara BEM.”, kata Ghea mengingatkan.


“Ah.. bener.. Iya.. Eh.. Ghe… gue pergi dulu ya. Titip absen nanti kelas jam 1.”, kata Kirana tiba - tiba menutup laptop dan menarik tasnya.


“Eh eh eh… mau kemana? Ajak - ajak dong.”, teriak Ghea yang harus berlapang dada karena Kirana sudah melesat dengan cepat.


‘Tuh anak kenapa sih? Tadi ditarikin ga mau. Sekarang malah mau titip absen. Dia lupa apa, itu dosen kalkulus sukanya manggilin nama mahasiswa satu - satu? Gimana caranya gue masukin absen dia, coba.’, gerutu Ghea dalam hati kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2