
“Kita cerai saja. Aku akan menyerahkan semua prosesnya besok ke pengadilan. Mungkin tidak akan terlalu sulit, karena ketika papa mendaftarkan pernikahan kita juga tidak terlalu sulit.”
“.....”, masih hening dari arahnya.
“Kamu nggak perlu datang. Aku yakin proses ini akan berlangsung sangat cepat. Tidak usah khawatir.”
“Kak Rian,”, hanya kata itu yang keluar dari bibir gadis ini.
Hati Rian begitu sakit saat ini. Entah memikirkan hati Kirana atau hanya sekedar hatinya yang tak mampu merelakannya.
“Barangmu sudah aku kirim ke rumah. Aku sudah mengatakan semuanya ke mama. Lagipula pernikahan kita adalah perjanjian antara papamu dan papaku.Papa sudah gak ada. Papamu juga sudah bercerai dari mamamu. Jadi kita udah nggak perlu lagi ngejalanin pernikahan tanpa cinta ini.”, Rian tidak tahu apakah dia benar - benar bermaksud seperti kalimat yang dia ucapkan barusan.
“Kamu bercanda kan, kan?”, Kirana berusaha memastikan apakah pria di depannya ini tengah bercanda atau tidak.
“Aku lelah. Kamu pulang lah sekarang. Aku akan memesankan taksi untukmu. Mumpung hari belum larut.”, kemudian Rian meninggalkan gadis itu begitu saja di pelataran parkir apartemen.
Dia sudah memanggilkan taksi dan memastikan taksi itu akan datang menjemputnya. Rian bahkan tak memberikan waktu untuk sekedar menunggu taksi benar - benar datang, mengantarkan Kirana masuk ke dalam taksi, dan memastikan gadis itu aman.
Rian masuk. Tetapi sebenarnya dia tidak benar – benar masuk. Rian masih menempatkan dirinya pada jangkauan Kirana sehingga bisa tetap memperhatikannya tanpa gadis itu tahu sama sekali.
Rian melihat Kirana terdiam di tempat itu selama 1 jam. Dia menangis. Rian tak tahu apa yang ditangiskannya.
‘Bukankah ia tak menyukaiku?’, begitu pikir Rian dalam hati.
Ya. Bukankah selama ini mereka tidak saling menyukai. Memang, mereka sudah lebih akrab dan terbiasa satu sama lain dalam hubungan singkat ini. Tetapi, bukan CINTA, kan? Dia tak pernah menyatakan itu. Tak pernah merasa merasakan hal itu. Begitu pula dengan Kirana.
Rian yakin akan hal tersebut. Gadis itu hanya menjadikannya tempat naungan baru setelah papanya berselingkuh dengan wanita lain dan menceraikan mamanya. Perjanjian ini menjadi tameng, kan untuk Kirana berlindung pada dirinya.
Hal yang baru yang membuatnya nyaman. Tapi, bukan CINTA. Pasti bukan itu.
Setidaknya seperti itu kesimpulan yang diambil oleh Rian di dalam pikirannya.
Keesokan harinya, Rian sudah bersiap ke bandara. Tujuannya kali ini bukan ke Perancis. Pergi kembali ke negara itu hanya akan membuatnya tambah susah saja.
Memikirkan tentang Perancis, membuat Rian teringat pada janji Clara. Dia masih ingat kalau gadis itu punya niat untuk mengirimkannya surat. Tapi, sampai saat ini tak satu pucuk suratpun Rian terima.
Jadi, bukan ke Perancis. Penerbangannya kali ini adalah ke London. Rian punya beberapa teman disana. Dia adalah salah satu penyumbang novel terbesar di galeri perpustakaan miliknya yang ada di Perancis. Mungkin ia akan sangat kecewa mendengar perpustakaan itu collapse begitu saja.
__ADS_1
Tak lama, ponsel Rian berbunyi. Gadis itu menghubunginya. Rian bisa melihatnya dari tempat dia berdiri sekarang. Meski Rian sudah melihat Kirana berdiri diam di tempatnya yang sama bersama tangisnya yang pecah, Rian masih tak berniat mengangkatnya teleponnya.
Rian justru mematikannya. Entah dari mana Kirana tahu tentang penerbangannya. Tapi Rian tetap tak ingin berusaha mengangkat telepon itu meski melihat kesungguhannya.
Dia tak ingin tatapan, pelukan, dan sentuhan hangat Kirana membuatnya luluh dan berat meninggalkan negara ini. Semua sudah tidak bisa diperbaiki. Semua sudah tak lagi sama.
**********
“Hi, Rian.”, sapa rekannya dari kejauhan.
“Hi, Selamat Malam Dan”, Rian juga menyapa dengan hangat.
Pria itu sudah landing di London dengan selamat. Seiring dengan sampainya pijakan roda pesawat ke tanah London, saat itu juga semua kenangan dan masa lalu yang memberatkan pundaknya dia buang.
“Kau sampai dengan selamat. Ingin langsung ku antar ke apartemen barumu?”, tanya Dan, pria yang menjadi salah satu sahabat sekaligus donatur utama novel untuk perpustakaannya.
Meski perpustakaan itu kini menjadi aset yang terlupakan.
“Tentu saja. Tapi aku sedikit lapar.”, ujar Rian memegang perutnya.
“Baiklah. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.”, ujar Dan dengan semangat.
*************
“Kau sudah menikah?”, tanya Dan yang memang sempat mendengar kabar itu dari sahabat dekat Rian.
Meski pernikahannya di Indonesia tertutup, terkadang Rian menyelipkan berita itu pada setiap percakapannya dengan rekan - rekannya sebagai lelucon. Seolah sangat yakin kalau rekannya tak bisa dengan mudah mempercayainya. Dan, toh mereka juga tinggal di luar negeri.
“Ehm.. yah.”, jawab Rian datar.
“Wow. Congrats.”, Dan langsung dengan riang menyambut kabar itu.
“Lalu, kenapa kau kemari?”, tanya Dan kali ini dengan wajah bingung.
“Kami baru bercerai kemarin.”, jawab Rian dengan nada tak kalah datar dengan yang tadi.
“Oh What???.. Ini tidak sepertimu. Baiklah sepertinya kita harus ganti topik. Bagaimana dengan perpustakaan?”, tanya Dan kembali.
__ADS_1
“Awalnya ingin ku tarik semua novelku dari Perancis. Tapi ternyata di perjalanan aku menemukan orang yang bisa di percaya. Begitulah. Setidaknya aku akan punya tempat jika kembali ke sana.”
“Perancis adalah hidupmu kan?”
“Kau masih mengenalku dengan baik.”
“Aku sudah mendengar tentang papamu dari seorang teman. Aku turut bersedih.”
“Terimakasih.”
Mereka banyak bertukar cerita. Bahkan lebih ketika mereka sudah sampai di sebuah restoran Perancis tak jauh dari perusahaan Dan. Dia designer dan programmer.
Sangat senang bertukar pikiran dengannya. Wawasannya terbuka dan dia tidak kaku seperti orang kebanyakan. Rian dan Dan sudah menjadi teman sejak dulu masih bersekolah di Perancis. Dialah orang pertama yang Rian kenal di Perancis, sesama mahasiswa Asing.
“Apa rencanamu?”
“Aku ingin buka perpustakaan yang sama dengan yang di Perancis. Dan melanjutkan pendidikanku. Hanya saja masih menunggu.”
“Menunggu?”
“Entahlah. Sejujurnya aku hanya ingin menenangkan diriku. Begitu banyak yang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Aku seperti baru dapat telur emas, dan tiba – tiba pecah lalu hilang.”
“Kau masih seperti dulu?”
“Hm?”
“Senang menggunakan perumpamaan.”
***************
2 tahun kemudian
“Oh terimakasih. Anda benar – benar sangat membantu saya. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.” ujar Rian pada seseorang di ponselnya, ia baru akan menikmati panasnya kopi ketika ponselnya kemudian kembali berdering dan berdering.
Terlalu sibuk. Rian terlihat duduk dengan santai di balkon perpustakaannya. Masih di tempat yang sama, London.
Perpustakaannya tidak seperti perpustakaan di Perancis yang memiliki banyak pengunjung. Padahal konsep yang di pakainya sama. Entah karena lokasi, tapi meskipun ia sudah melakukan riset untuk meningkatkan pengunjung di perpustakaan nya, semua itu sepertinya sia – sia.
__ADS_1