Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 104 Hubungan Raka dan Kirana


__ADS_3

“Raka, saya mau bicara dengan kamu sebentar.”, ujar Rian setelah menyelesaikan pertemuannya hari itu dengan para anak - anak klub Fisika.


Raka melirik sebentar ke arah Rian untuk sekedar membaca apa sebenarnya yang ingin dia bicarakan. Setidaknya untuk mengetahui apakah itu berkaitan dengan urusan kampus atau malah urusan pribadi.


“Membicarakan soal apa ya, Pak?”, tanya Raka.


Masih ada beberapa anak - anak klub yang sedang membereskan tas mereka disana. Sehingga, Raka tetap harus menjaga formalitasnya.


“Ikut saya sebentar.”, ucap Rian meninggalkan spidol yang tadi dia pegang di atas meja dan bergerak keluar.


Raka mengikuti dari belakang. Rupanya Rian mengajak Raka untuk berbicara di lorong kampus yang menuju pada pintu keluar sebuah pelataran lantai dua. Pintu itu jarang - jarang dibuka di hari biasa. Hari ini, pintu itu terbuka.


Ada beberapa tanaman yang menghiasi area yang lumayan luas itu. Tanaman itu menjaga agar tempat tersebut tetap rindang.


Rian berhenti tepat di pinggir bangunan. Pandangannya mengarah pada bangunan - bangunan kampus fakultas lain yang letaknya berseberangan dengan tempat mereka berdiri sekarang. Hanya ada tanaman lebat yang membatasi kedua bangunan kampus.


Mereka bisa melihat beberapa mahasiswa lalu lalang. Baik yang menggunakan sepeda maupun berjalan kaki.


“Apa yang mau kamu bicarakan?”, tanya Raka.

__ADS_1


Hanya ada mereka berdua disini. Sehingga, Raka bisa lebih santai berbicara dengan Rian.


“Tempo hari, kenapa mengajak Kirana ke apartemen kamu? Ada urusan apa?”, tanya Rian.


Bingo. Di kepala Raka sudah menduga Rian memanggilnya kesini hanya untuk urusan pribadi.


“Kalau hanya ingin bertanya tentang urusan pribadi, aku rasa aku tidak perlu menjawabnya.”, ucap Raka kemudian ingin melangkah meninggalkan Rian.


Namun, Rian dengan cepat langsung menarik Raka. Sebuah tarikan yang tegas sampai - sampai Raka sedikit terkejut.


“Apa - apaan kamu? Ingin menghajarku? Kita masih di kampus.”, ucap Raka.


“Tanya saja Kirana. Kenapa bertanya padaku? Hm.. kenapa? Apa Kirana memutuskan untuk tidak berbicara denganmu? Hah… ternyata wanita yang membuatmu harus bergegas kembali ke Indonesia saat kakakku membutuhkanmu adalah Kirana. Lalu.. apa yang terjadi? Kenapa hubungan kalian tidak semulus yang aku bayangkan.”, ucap Raka dengan nada sarkas.


“Kamu tidak perlu tahu. Jawab saja. Kenapa kamu harus mengajak Kirana untuk datang ke apartemenmu? Raka, disini Indonesia. Kamu tidak bisa mengajak perempuan seenaknya untuk datang dan bertamu ke apartemenmu saat kamu hanya sendirian disana.”, ujar Rian menasehati.


“Ya.. ya.. Bapak dosen yang terhormat. Aku rasa kamu bertanya pada orang yang salah. Tuh, tanyakan saja pada Kirana sendiri.”, balas Raka sambil menunjuk ke arah Kirana dari lantai dua.


Rupanya Kirana sedang berada di sebuah parkiran. Dia baru saja keluar dari mobil Ghea.

__ADS_1


Selepas mengatakan hal itu, Raka langsung berlalu dari hadapan Rian. Kali ini, pria itu tidak mencegahnya. Tak berapa lama, Rian langsung bergegas untuk turun ke arah parkiran.


“Ran, kita bicara sebentar.”, ucap Rian yang langsung mencegat langkah Kirana.


Ghea sudah tidak terlihat. Sepertinya gadis itu hanya mengantarkan Kirana kembali ke kampus karena dia ada meeting BEM. Sementara Ghea yang sudah tidak ada kelas lagi lanjut pulang.


“Mau apa lagi? Sekarang ini sedang di kampus. Pak Rian mau mahasiswa melihat?”, ucap Kirana merasa terganggu dengan kehadiran Rian.


“Apa yang kamu lakukan di apartemen Raka tempo hari? Apa itu pertama kalinya?”, tanya Rian tidak mempedulikan kata - kata Kirana.


“Permisi.”, ucap Kirana memaksa untuk lewat.


Sementara Rian kembali mencoba menghentikan langkah Kirana. Alhasil, tas Kirana terjatuh. Dia juga tidak memasang resleting tasnya sehingga beberapa barang dan buku di dalamnya terjatuh.


Secarik kertas berada diantara tumpukan buku yang terjatuh. Kirana terkejut karena surat ancaman itu terbuka dan ikut terjatuh. Sebelum Rian menyadarinya, Kirana buru - buru memasukkannya ke dalam tas.


Meski melihat kertas itu, tapi karena Kirana sudah keburu memasukkannya dengan cepat, Rian tak menyadarinya.


“Oh… Rian.. disini kamu rupanya. Saya sudah cari - cari kamu dari tadi.”, seorang dosen senior tiba - tiba menghampiri.

__ADS_1


“Permisi, Pak.”, Kirana langsung pergi dari sana segera setelah perhatian Rian teralihkan oleh dosen senior tadi.


__ADS_2