Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 41 Serba Serbi Dosen Killer


__ADS_3

“Pak Rian tu aneh ya orangnya.”, sejak tadi Ghea terus membicarakan Rian.


Bahkan sambil mengerjakan tugas yang diberikan juga tetap membicarakannya. Kirana tak bisa diam saja, namun dia juga tak bisa terus menimpanya dengan jawaban yang wajar.


Bagaimana pun Kirana mencoba memberikan respon, dirinyalah lah satu -  satunya yang merasa aneh dengan jawaban yang dia  berikan.


“Ya udahlah terima aja.”, sahut Kirana dan ini menjadi salah satu jawaban aneh darinya.


“Aneh, kemaren – kemaren lo jelas bertentangan dengan dia. Eh .. tunggu dulu. Lo belom traktir gue atas jadiannya lo ama anak baru itu.”, celoteh Ghea.


Bukan Ghea namanya kalau tidak ingat menagih masalah traktiran.


Padahal, sudah lama ia tak membicarakan tentang Raka di hadapan temannya. Ekspresi Kirana mendadak berubah.  Entah tadinya dia merasa senang bisa membicarakan Rian, meski dia bingung. Tapi begitu mendengar nama Raka, hatinya merasa tidak enak.


‘Kenapa gue bisa lupa sama masalah yang satu ini. Cowok ke bule – bulean yang juga membawa tradisi ke bule – buleannya itu dengan berani – beraninya nyium gue, depan Radit lagi. Dasar gak punya otak. Dan kenapa waktu itu gue nerima dia jadi cowok bohongan gue. Aduuuh gimana caranya gue bisa bertahan sebulan lagi.’, Kirana berpikir keras dalam hati.


‘Sebenarnya tujuan gue cuma bikin Radit yang super duper nyebelin itu jauh – jauh dari gue. Dan bikin gue lupa ama Rian. Tapi kenapa makin kesini jadinya malah makin aneh. Rian jadi lebih dekat dari kapanpun sama gue di semester ini. Kami bahkan sudah satu mobil dua kali. Kejadian langka yang bahkan nggak pernah ada sejak pertama kami bertemu sekitar setahun yang lalu di kampus ini. Kami yang bahkan sudah pernah menikah dan tinggal bareng sekarang seperti orang yang benar – benar baru bertemu untuk pertama kalinya. Jangan - jangan ini lagi yang namanya CLBK.  Aaah jangan sampe deh, gimana caranya gue ngadepin dia.’


Kirana berjalan di koridor sekolah. Hujan masih belum berhenti, bahkan bertambah lebat dari sebelumnya. Suasana kampus tidak terlalu berbeda, semua mahasiswa masih tetap sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.


Ada yang masih terperangkap di kelas mendengarkan penjelasan dosen yang seperti tidak ada habisnya. Ada yang di perpustakaan memilih untuk bergelut dengan tumpukan tugas yang semakin dikerjakan semakin banyak.


Ada yang sudah menyerah dengan aktivitas kemahasiswaannya dan memilih untuk mendapatkan obat paling terbaik di kantin kampus. Semua makanan yang panas - panas dan berkuah menjadi kotak P3K paling ampuh bagi mereka.


"Jadi, kapan gue ditraktir?", Ghea kembali mengeluarkan celetukannya tatkala Kirana tak juga memberikannya jawaban yang memuaskan.


“Eh .. ngelamun aja lo. Lo beneran suka ama anak baru itu?”, setelah sekian pertanyaan miliknya tak di jawab, Ghea menepuk bahu Kirana.


Sepertinya sahabatnya ini tidak akan membiarkan pertanyaannya terlempar begitu saja tanpa jawaban. Tetapi, sayangnya Kirana juga tidak memiliki jawaban yang memuaskan. Baginya dan bagi Ghea. Atau mungkin bagi semua orang.


Tidak mungkin dia menjelaskan bagian dimana dia dan Raka hanya berpura - pura pacaran saja. Detik itu juga, pasti Ghea akan berteriak dan tanpa sengaja memberitahukan pada semua orang. Kirana menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Emang kenapa?”, jawaban ngeles menjadi salah satu senjata ampuh untuknya.


“Maksud gue ini nggak kaya lo. Ato lo cuma pura – pura pacaran untuk menutup mulut tuh cowok?”, kata Ghea memberikan hipotesanya. Tanpa diduga, ia terbang dengan asumsinya sendiri.


Anehnya, Kirana justru berharap Ghea benar - benar akan bilang padanya bahwa dia hanya  berpura - pura pacaran dengan Raka.

__ADS_1


'Oke, aku akui asumsinya benar. Tapi untuk hal aku benar - benar menyukai bocah songong itu? Big No.', kata Kirana dalam hati.


Sementara dari luar, wajahnya hanya tersenyum tipis pada Ghea. Gadis itu tak menjawab iya ataupun tidak. Lebih baik bertahan dengan keambiguan untuk saat ini.


“Hai guys, udah pada makan belum?”, tiba – tiba entah dari arah mana Raka muncul dan menggamit lenganku.


'Oke, dia menjawab semua kecurigaan dan rasa penasaran Ghea barusan.'


“Belom, mau bareng?”, tanya Kirana membalas dengan santai.


“Enggak, cuma nanya.”, ucap Raka.


Mata Kirana membulat mendengar jawabannya.


'Apa - apaan cowok satu ini. Dia benar - benar pernah tinggal di Perancis, kan? Atau dia hanya berpura - pura saja?', Kirana terus bertanya - tanya dalam hati.


“Canda. Ya iyalah, kalau nggak ngapain gue capek – capek ke sini.”, balas Raka.


Tiba – tiba dan sungguh disaat yang tepat, Rian muncul entah dari mana. Pokoknya, secara tiba - tiba dia ada saja disana.


'Baiklah, untuk sesaat Kirana lupa kalau kantin yang satu ini berada dekat dengan gedung ruangan para dosen Fisika. Jadi, tidak aneh Rian ada di sekitar sini.


Tapi siluetnya berbeda, siluetnya terus menatap Raka berbeda. Tapi Kirana tidak bisa mengartikannya begitu saja. Terlalu cepat.


Di kantin, Kirana tak banyak bicara. Paling hanya menyetujui semua yang dikatakan Raka. Ia bercerita banyak hal, tentang kehidupannya di Perancis, tentang orang tuanya, hobinya, dan tak lama ceritanya berhenti ketika Radit menghampiri meja kami bersama pacarnya.


Kirana dapat dengan jelas melihat siluet cemburu dari wajah Raka. Kemudian Kirana tersenyum, timbul ide di otaknya untuk mengerjai laki - laki itu. Setidaknya hanya untuk hari ini.


“Ghea kan, nama lo?”, tanya Raka.


Ghea yang masih dengan wajah jutek terhadap Raka hanya mengangguk ketika pria itu memanggil namanya.


“Kami punya dua bangku kosong, mau gabung ?”, tanya Kirana sambil menunjuk satu bangku kosong di sebelah Raka yang sudah tampak memalingkan muka.


“Boleh – boleh.”  Seperti yang ku kira, Radit menerima tawaranku dengan mudah. Kini kami sudah berada di meja yang sama dengan urutan Kirana, Raka, Ghea, Radit, dan Fay.


Urutan yang menggembirakan semua orang bukan?

__ADS_1


Raka tampak canggung sekali, tidak seperti biasanya, kirana yang sedari tadi sudah cengar – cengir melingkarkan tanganku di lengannya yang ditekup di atas meja. Sementara itu, Ghea terus menunjukkan wajah marah – marahnya karena Kirana sangat tahu kalau dia sekarang merasa seperti obat nyamuk.


Dia bahkan menginjak kaki Kirana. Tapi Kirana berusaha bersikap tenang, dan mengirimkan sinyal.


'Tolonglah, ini hanya sebentar.'


“Kalian udah lama jadian?”, akhirnya Radit buka suara lagi.


“Berapa lama sih ka?”, dengan pintar Kirana melemparkan pertanyaan ini padanya.


Dalam hati Kirana bertepuk sorak padanya. Siapa suruh menggunakan Kirana sebagai alat hanya untuk membuat Fay cemburu. Kirana baru tahu belakangan tujuannya. Kirana tidak bodoh untuk tertipu pada wajah tampan di hadapannya ini.


“Uhm.. baru jalan dua minggu.”, jawab Kirana.


“Oh .. dan kalian sudah melakukannya?”, pertanyaan sensitif selanjutnya sukses membuat Kirana terbatuk - batuk.


“Hei, itu terkesan aku melakukan hal yang aneh – aneh saja. Santailah, di Perancis itu hal yang biasa.”, Raka mulai memberikan statement yang membuat Kirana panas dingin.


'Apa pria ini gila? Dia mau aku dianggap apa oleh Radit dan Fay. Aku ingin menjitak kepalanya sekarang juga.', ucap Kirana dalam hati.


Saat itu juga Kirana langsung menginjakkan kakinya ke arah kaki milik Raka. Dia yang dengan jelas – jelas melakukan itu hanya untuk membuat Radit dan Fay terkena serangan jantung, dan sekarang dia membuat cerita yang membuat Kirana seolah – olah kdirinya perempuan gampangan.


'Lihat saja. Dia akan mendapatkan pelajarannya sebentar lagi.', Kirana menatap Raka sambil memberikan ancaman tersirat pada pria itu.


“Udah cukup lama juga. Dan kami nggak tahu.”, pungkas Gheas.


Kali ini Kirana nampak terkejut karena Fay sudah mulai membuka mulutnya.


“Raka bukan tipe orang yang akan mengunggah video pernyataan cintanya ke media sosial supaya semua orang tahu.”, sindir Kirana.


Kirana begitu kesal hanya dengan mendengar gadis satu ini berbicara, gayanya sombong, dan terkesan di buat – buat.


“Ka, aku udah kelar, kamu masih mau disini? Aku masih mau ngerjain tugas dari Pak Rian tadi.”, kata Kirana sambil berdiri.


“Oh? Oke, aku juga mau ngerjain tugas itu. Bareng aja.”, balas Raka.


Kirana bisa melihat mata Radit seperti akan menyembul keluar.

__ADS_1


'Cowok satu ini, bukannya dia udah putus dari Fay? Kenapa masih lengket aja sih kaya lem? Lalu bagaimana dengan dananya? Jangan bilang, nenek sihir ini nggak mau ngasih gara – gara aku yang jadi PO nya.', protes Kirana dalam hati.


__ADS_2