Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 44 Siapa Wanita itu?


__ADS_3

“Lo yakin ga mau bareng gue?”, tanya Ghea pada Kirana.


Gadis itu sudah mendengar jawaban Kirana dua kali, tetapi dia ingin kembali meyakinkan diri. Pasalnya, Kirana sangat aneh, tiba - tiba dia mengatakan tidak akan pulang bersama Ghea. Padahal, mall yang sedang mereka kunjungi ini terbilang jauh dari tempat tinggal Kirana.


“Yakin. Berisik banget. Udah pulang aja. Tar kamu dicariin mama kamu loh.”, kata Kirana melambaikan tangannya seolah segera mengusir Ghea dari sana.


“Kok lo mencurigakan banget, sih? Lo mau lanjut nge-date sama Raka, ya?”, tanya Ghea dengan menyipitkan mata seolah menunjukkan kecurigaannya.


“Apaan sih Ghe. Lo telpon aja orangnya, tanya doi lagi dimana.Lagian, gue kan udah bilang kalo gue sama dia itu cuma pura - pura. Fake.”, ujar Kirana mantap.


“Iya - iya. Ya udah, lo hati - hati baliknya. Telpon gue kalo dah nyampe rumah.”, ucap Ghea.


“Dih… ngapain…”, balas Kirana tertawa karena Ghea sudah menyindirnya lebih dulu.


Ghea segera menghilang dibalik kerumunan orang - orang. Kirana langsung melihat jamnya dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan Ghea.


“Perasaan tadi gue bener - bener lihat Kak Rian, deh. Tapi dia ngapain coba disini. Kalau ternyata bukan doi, gimana nih? Mana udah bela - belain ga ikutan sama Ghea lagi. “, ucap Kirana sambil berjalan mencari - cari ke arah terakhir kali dia melihat sosok seperti Rian.


Sembari Ghea ke toilet untuk membersihkan beberapa noda makanan yang menempel di bajunya serta memenuhi panggilan alamnya, Kirana menunggu di depan sebuah etalase parfum - parfum mahal.


Tak jauh dari sana, tepatnya di lantai atas, Kirana tanpa sengaja seperti melihat seseorang yang mirip Rian. Itu terjadi sekitar 30 menit yang lalu. Awalnya Kirana merasa dia salah lihat. Kalaupun benar, dia berpikir mungkin - mungkin saja pria itu ada di sekitar sini. Toh rumahnya juga memang dekat - dekat sini.


Sekitar 30 menit yang lalu.


‘Kak Rian? Itu benar - benar Kak Rian, ya? Ngapain dia disini?’, tanya Kirana dalam hati.


“Eh.. bodo amat. Mau itu Kak Rian kek, mau siapa kek. Ga peduli.’, ucap Kirana.


‘Tapi gitu - gitu dia udah nganterin gue tempo hari buat ketemu Yana. Yah, walaupun akhirnya tetep ga ketemu juga. Tapi dia kan udah mau nemenin.’, tutur Kirana lagi.


‘Tunggu, trus emangnya kenapa? Toh kita juga ga ada hubungan apa - apa. Doi juga tahu nya gue kan pacaran ama Raka. Mau ngapain juga kalo gue nyamperin dia. Mau say halo? Kan ga mungkin.’, Kirana terus berperang dengan batinnya sendiri.

__ADS_1


Ghea juga tak kunjung menunjukkan batang hidungnya padahal sudah lebih dari 10 menit dia berada di dalam toilet. Setengah hati Kirana penasaran itu Rian atau bukan. Kalau iya, dia sedang bersama siapa.


Sementara setengah lainnya mengatakan dia juga tidak peduli karena toh mereka tidak punya hubungan apa - apa lagi.


Sekembalinya Ghea dari toilet, Kirana tiba - tiba meminta Ghea untuk pulang lebih dulu karena dia masih ada keperluan lain.


**********


“Mba, maaf mau tanya.. Kalo naik ke lantai itu kemana, ya”, ucap Kirana bertanya pada salah satu customer service di lantai dimana dia melihat Rian hampir 40 menit yang lalu.


“Oh.. itu ke klub, mba. Masuknya bisa lewat pintu sebelah sana. Bisa tunjukkan tanda pengenal dan membership kalau ada sebelum masuk, ya.”, ucap wanita dengan setelah rapi itu.


“O-oh… “, Kirana tersenyum pada wanita itu.


‘Ga mungkin lah, ya Kak Rian masuk kesana. Tapi gue cari - cari dari tadi juga gak keliatan orangnya. Seinget gue tadi juga orang yang mirip Kak Rian naik kesana.’


‘Tapi masa sih di ke klub. Dulu kayanya ga pernah.’


.


.


.


“Mas, lain kali temannya kalau gak kuat minum dan cuma mau berantem aja, gak usah diajak ke klub, ya. Bikin heboh dan ganggu tamu yang lain aja.”


Kirana baru saja hendak meninggalkan tempat itu untuk turun kembali ke lantai bawah sampai dia mendengar ada suara pria bertubuh besar berteriak. Kirana yang baru saja akan masuk ke dalam lift kemudian menoleh sebentar.


Awalnya dia terlihat biasa saja. Namun, saat dia menyadari pria yang sedang memapah seseorang itu adalah Rian. Kali ini dia tidak salah lagi karena dia melihatnya wajahnya dengan jelas dari arah depan.


‘Kak Rian? Bener. Itu bener - bener Kak Rian.’, Kirana mencoba untuk memicingkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya kalau itu benar - benar adalah Rian.

__ADS_1


Saat dia sudah yakin, Kirana perlahan melangkah mendekati kedua orang itu.


“Raka???”, ucap Kirana terkejut saat menyadari bahwa pria yang sedang dibopong Rian tak lain adalah pacar pura - puranya Raka.


Saat sudah mendekat dan melihat bahwa itu Raka, Kirana langsung memfokuskan pandangannya pada laki - laki itu. Dia tidak melihat ke arah Rian yang sudah terkejut melihat keberadaan Kirana disana.


Sebaliknya, Raka yang sudah 70% sadar hanya tersenyum sebentar sebelum kembali oleng.


“Kak Rian, ini bocah kenapa sih?”, tanya Kirana akhirnya baru mengarahkan pandangannya pada RIan.


Alangkah terkejutnya Kirana saat melihat wajah Rian yang sudah terdapat beberapa luka memar terutama di bibirnya. Padahal baru beberapa waktu yang lalu Kirana melihat bibir pria itu juga terluka.


“Ya ampun Kak, ini kenapa? Kok bisa luka - luka begini?”, tanya Kirana kaget.


Gadis itu juga memegang bibir Rian dan pria itu mengaduh karena memang se sakit itu. Kirana benar, bekas luka yang sebelumnya belum sembuh dan sekarang malah ada luka lainnya.


"Ngapain kamu disini?", tanya Rian segera menepis sentuhan tangan Kirana di pipinya.


"Justru aku yang harusnya bertanya. Ngapain Kak Rian disini. Terus bareng Raka lagi.", awalnya memang Rian yang bertanya. Tetapi bukan Kirana namanya kalau tidak meledak - ledak dan langsung menghujani pria itu dengan banyak pertanyaan.


"Aku yang tanya duluan,", balas Rian.


"Tapi, aku yang seharusnya butuh penjelasan disini. Aku tanya sama mba - mba yang disana, katanya ini adalah Klub. Lalu, apa yang seorang Rian lakukan di dalam klub bersama dengan Raka yang sepertinya sudah minum banyak di dalam. Antara memang dia tidak kuat minum atau dia memang sudah minum semua persediaan di dalam sana.", kata Kirana.


"Jangan bilang kamu juga mau masuk kesini? Ran, kamu ...", ujar Rian memelototkan matanya karena sekarang dia mulai berpikir Kirana punya rencana untuk masuk ke dalam klub sebelum akhirnya bertemu dengannya.


"Nah loh - loh, kenapa malah dibalik. Bukannya kak Rian yang kesini. Kenapa sekarang jadi nanyain aku."


"Lah, kamu sendiri ada di depan sini, mau apa lagi kalau bukan masuk ke klub."


"Hello, yang barusan dari dalam siapa? Kak Rian, kan?"

__ADS_1


Akhirnya mereka terlibat adu argumen dimana tidak ada diantara keduanya yang mau mengalah. Sementara disamping mereka Raka sepertinya sudah masuk ke alam mimpi tanpa peduli apa yang terjadi.


__ADS_2