Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 92 Cowok Red Flag


__ADS_3

Kirana tiba di kampus sedikit terlambat dari biasanya. Dia lupa untuk mengaktifkan alarm dan ketiduran.


Pagi - pagi dia sudah berlari ke depan dan lagi - lagi melupakan sarapannya. Apa lagi alasannya kalau bukan karena kelas ini adalah kelas Pak Rian.


Meskipun Kirana mengenal Rian, tetap saja malu menjadi yang ditegur di kampus. Apalagi kalau sampai terlambat. Rian adalah tipikal dosen yang tidak akan mengizinkan siswa yang terlambat untuk tetap masuk ke kelasnya.


“Hah.. akhirnya, sampai tepat waktu juga.”, ujar Kirana setelah berhasil mengambil tempat duduk di belakang.


Terlambat membuatnya harus rela kehilangan kursi paling depan.


“Pagi, Ran.”, sapa Raka tiba - tiba dari kursi di depan Kirana.


Saking fokus berlari dan mengambil kursi, Kirana bahkan tidak menyadari kalau Raka sudah berada di dalam kelas dan berada di depannya sekarang.


“Tumben telat. Udah sarapan?”, tanya Raka dengan nada gentle.


Kirana sedikit bergerak mundur karena heran. Tatapannya bahkan tajam penuh selidik ke arah Raka.


‘Ini orang kenapa ya? Salah makan kali ya?’, pikir Kirana dalam hati.


Kirana melihat ke sekeliling. Ghea belum juga tampak di dalam kelas. Ada apa dengannya? Apa gadis itu juga lupa mengaktifkan alarm miliknya?


‘Bukannya tadi malam jelas - jelas Ghea bilang harus bangun pagi hari ini karena tidak ingin terlambat masuk kelas Pak Rian.


Kali ini, dia harus berhasil mengerjakan kuisnya.’, pikir Kirana dalam hati.


“Nyarrin Ghea?”, tanya Raka yang langsung paham.


“Hm.. lo belom liat Ghea? Tumben belum masuk.”, tanya Kirana pada Raka.


“Tadi gue lihat doi lagi jalan ke ruangan Pak Rian. Tahu deh mau ketemu Pak Rian ato dosen lain.”, jawab Raka.


“Hm? Masa sih? Terus sekarang mana orangnya?”, Kirana bertanya balik.

__ADS_1


Raka hanya menggeleng - geleng kepalanya.


“Udah sarapan?”, merasa belum mendapatkan jawaban dari Kirana, Raka kembali mengulang pertanyaannya.


“Lo kenapa sih?”, akhirnya Kirana berbisik karena sikap Raka mendadak aneh.


“Kenapa? Gue cuma tanya lo udah sarapan atau belum. Kalau belum, gue mau nawarin ini. Lumayan buat ganjel.”, Raka menyodorkan dua buah coklat pada Kirana.


Kirana semakin mengernyit kebingungan dengan sikap Raka barusan padanya. Sebelum Kirana bisa kembali bertanya pada pacar pura - puranya itu, Rian keburu sudah berada di depan pintu. Pria itu berjalan masuk.


Di belakangnya, menyusul Ghea dengan tas ransel cokelat miliknya. Ghea berjalan ke deretan kursi kosong di sisi kiri. Jauh dari Kirana. Berhubung, sudah tidak ada lagi kursi kosong di sekitar Kirana.


Para mahasiswa menghindari sisi kiri karena entah mengapa, Rian seringkali menunjuk mahasiswa yang duduk di dekat sana untuk menjawab soal. Sampai sekarang, mereka belum tahu kenapa dosen mereka itu lebih suka menunjuk mahasiswa yang duduk disana.


Beberapa saat sebelum Rian masuk, beberapa mahasiswa nampak melayangkan pandangannya pada interaksi antara Raka dan Kirana. Mayoritas adalah mahasiswa perempuan.


“Liat tuh Kirana sama Raka. Masih adem ayem aja sih kayanya.”


“Selera Raka cuma sebatas Kirana doang? Sayang banget. Padahal Raka itu sebenernya cakep. Tapi agak low profile dan troublemaker aja.”


“Buktinya baik - baik aja tuh doi ama Kirana.”


“Lo ga liat si Raka sering keluar masuk klub. Kayanya doi lebih sering disana dibanding rumahnya.”


“Tapi Kirana kan tipikal cewek lurus - lurus doang. Bisa ngimbangin Raka ga tuh dia.”


“Kalau masih ada yang mau ngobrol, lebih baik keluar. Jangan menuh - menuhin kelas saya.”, ucap Rian dengan nada dan suara yang tegas, sekaligus dingin. Suaranya halus, tapi mematikan.


Semua mahasiswa yang berbicara langsung diam. Bahkan mereka juga tak ingin membuat pergerakan apapun yang menimbulkan bunyi.


“Heh.. kamu yang disana. Dosen kamu di belakang atau di depan?”, ucap Rian langsung menatap tajam pada arah tempat duduk Raka.


Pria itu memang masih menghadap ke belakang karena sebelumnya dia memberikan dua cokelat pada Kirana. Mendengar hal itu, Raka langsung sadar kalau yang dibicarakan itu adalah dirinya. Dia lantas langsung menoleh ke depan.

__ADS_1


************


“Ikut gue.”, ucap Raka menarik lengan Kirana.


“Eh.. mau kemana? Gue udah janji mau ke perpus bareng Ghea.”, ucap Kirana menahan tarikan tangan Raka.


“Ghe, gue pinjem Rana bentar, ya.”, teriak Raka yang dia tujukan pada Ghea.


Namun, berhubung jarak mereka terlalu jauh, teriakan Raka justru langsung menarik perhatian mahasiswa yang lain. Kirana mendadak langsung risih karena menjadi pusat perhatian.


Ghea mengangguk sambil memberikan isyarat oke pada Raka.


“Ran, gue tunggu di perpus, ya.”, jawab Ghea kemudian.


Kirana memberikan ekspresi tak rela dan ingin Ghea segera menyelamatkannya dari Raka. Namun, Ghea seperti tak ingin melakukannya. Dia malah tersenyum dan membiarkan Raka menarik Kirana keluar.


“Lo mau bawa gue kemana sih?”, tanya Kirana bingung.


“Makan.”, jawab Raka singkat.


“Hah?”, Kirana benar - benar bingung harus memberikan ekspresi apa pada Raka.


‘Ini orang abis kejatuhan nangka mateng apa gimana ya? Kenapa bisa beda banget. Perasaan dia ga pernah peduli sama gue. Kenapa sekarang malah narik - narik buat makan siang.’, pikir Kirana bingung.


Tak disangka, di koridor depan, ternyata Rian masih ada disana. Beberapa mahasiswa dari klub penelitian Fisika sepertinya sedang mencegatnya dan bertanya sesuatu padanya. Rian nampak memberikan penjelasan sampai mereka melihat Raka dan menyapanya.


Ya, Raka juga masuk klub penelitian Fisika bersama dengan mahasiswa dari jurusan lain. Jelas saja mereka saling kenal. Penjelasan Rian terhenti sejenak saat melihat Kirana ada di belakang Raka.


Rian juga menurunkan pandangannya sedikit ke bawah dan menyadari bahwa Raka sedang memegang tangan Kirana. Rian melihat ke arah Kirana sebentar sebelum kembali menoleh dan melanjutkan penjelasannya. Sementara itu, Raka melanjutkan langkahnya. Kirana melihat Rian sebentar dan menoleh mengikuti langkah Raka.


Sedikit rasa kesal menyelimuti hatinya karena Rian nampak biasa saja.


'Apa dia itu batu? Kenapa tidak bergeming sama sekali?', pikir Kirana kesal di dalam hati.

__ADS_1


Kirana semakin menjauh mengikuti arah berjalan Raka. Sesekali dia masih berharap Rian melirik ke arahnya. Tapi lagi - lagi tidak. Kirana menyerah dan fokus melihat ke depan. Sayangnya, saat itulah Rian kembali melirik Kirana. Dia hanya bisa melihat punggungnya yang perlahan menghilang di balik pertigaan kampus menuju kantin.


__ADS_2