Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 40 Mantan Terindah


__ADS_3

Suasana pagi hari yang begitu cerah kemarin berganti dengan hujan yang deras. Banyak orang terlihat menepi di gerai – gerai percetakan atau pertokoan yang masih tutup sehingga masih banyak tempat untuk berteduh. Semakin mengarah ke jalan besar, beberapa orang justru terlihat seperti semut di beberapa halte busway. Saling berdesakan dengan antrian yang sangat panjang.


Rian, laki – laki ini masih dengan setengah santainya melajukan mobilnya semeter demi semeter di tengah guyuran hujan dan kemacetan jalan raya. Ia terpaksa memasuki sebuah perumahan untuk mengambil jalan tikus yang menurutnya akan membawanya ke kampus dengan cepat.


Jalan demi jalan ditelusurinya satu persatu, ramai anak sekolah lengkap dengan payung dan jas hujan mereka, dari yang SD hingga SMA, dari yang bersama orang tuanya, menggunakan sepeda, atau yang masih terlihat menunggu ojek atau semacamnya di pertigaan sebuah perumahan sederhana.


Beberapa orang dengan pakaian bebas, jas hujan, dan sebuah tas laptop kecil juga terlihat dari arah belakangnya.


Lama kelamaan, Rian merasa melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sebuah toko kelontong. Wajahnya masih tertutup desiran hujan deras yang jatuh dari atap menyapu pasir yang ada dibawahnya. Rian menghentikan mobilnya dan membuka kaca jendelanya.


“Kirana! Ayo naik.”, teriaknya segera setelah dia menyadari siapa itu.


“Apa?”, tanya Kirana bingung.


Sekejap dia bingung siapa yang memanggilnya. Kemudian dia baru sadar saat pria itu semakin menurunkan kaca jendela mobilnya.


“Ayo naik. Kamu nggak mau terus disana sampai hujan reda kan?”, tanya Rian.


Kirana menggeleng merespon kalimat Rian barusan. Tentu saja tidak. Dia ada kelas jam 10 pagi dan 5 menit pertama adalah kuis. Untuk seukuran Kirana yang gila akademis, dia tidak mau melewatkan, meskipun itu hanya kuis.


“Ayo, atau aku yang harus keluar?”, tanya Rian kembali.


Pria itu bersikap seolah dia benar - benar ingin keluar. Gerakan tangannya menunjukkan dirinya sudah akan mengambil payung yang terletak tak jauh dari sana.


“Iya - iya.”, jawab Kirana segera sebelum pria itu memulai adegan lenongnya.


Ancaman Rian meluluhkan hatinya. Ia segera berlari dan membuka pintu mobil untuk segera masuk. Rian segera mengunci pintu mobil dan kembali melajukan mobilnya. Hujan semakin deras, membuatnya harus memperlambat laju mobilnya. Mungkin ia akan terlambat sampai ke kampus. Tapi biasanya akan ada dispensasi jika hari hujan.


Bagi kebanyakan dosen. Sayangnya, Rian bukan salah satunya. Ya, dosen yang akan mengajar Kirana pagi itu jam 10 adalah Rian. Pria itu juga yang akan memberikan kuis untuk mereka.


'Hm.. apakah tidak masalah aku naik semobil dengannya. Bagaimana kalau nanti ada yang melihat.', pikir Kirana dalam hati sambil terus sibuk menanggapi Rian.


“Baju kamu basah, di kursi belakang ada handuk. Masih baru. Bisa kamu pakai.”, kata Rian sambil menunjuk – nunjuk ke arah belakang.


Ternyata ada sepasang handuk berwarna biru. Yang satu sudah terlihat basah dan kusut sedangkan satu lagi masih terlihat baru dan terlipat rapi. Tanpa pikir panjang, Kirana langsung menyambar handuk itu dan mengeringkan tubuh dan rambutnya.


Sepertinya ia berangkat saat hujan belum turun. Hujan baru turun sekitar 10 menit yang lalu. Langsung deras tanpa memberikan kesempatan untuk orang - orang berteduh atau sekedar kembali.


Biasanya, Kirana bisa dua sampai tiga kali berpindah kendaraan umum karena jarak rumahnya dan kampus lumayan jauh. Jika Kirana sedang malas, dia bisa mencoba untuk memangkas uang jajan dengan naik ojek online. Tapi, entah kenapa hari ini dia terlihat bersemangat untuk melewati rutinitas transportasi umum.


“Bibir kamu kenapa?”, tanya Kirana saat baru saja menyadari ada yang berbeda di wajah Rian.


Sejak tadi dia sibuk dengan dirinya seperti mengeringkan rambut dan juga mengelap tasnya. Tanpa sadar, saat pandangan itu mengarah pada Rian, Kirana segera menyadarinya.


“Tidak apa – apa. Hanya sedikit mendapatkan pelajaran dari seorang kenalan.”, respon Rian santai dengan nada datar.

__ADS_1


“Beneran? Kamu udah ngasih alkohol atau air dingin?”, tanya Kirana lagi.


“Banyak yang harus aku pikirkan tadi malam. Jadi belum sama sekali.”, ucap pria itu.


“Aku kira IQ kamu itu tinggi. Soalnya bisa S2 di usia yang masih muda. Tapi kamu nggak pernah denger yang namanya infeksi ya?”, celoteh Kirana.


Rian hanya bisa terkekeh pelan. Apa yang dikatakan bocah ini, pikirnya.


“Kebetulan aku bawa kotak P3K anak BEM buat salah satu proker kami dan belum dikembalikan. Biar aku obati dulu. Kamu bisa berhenti di jalan depan agar aku bisa fokus.", ujar Kirana.


“Bentar lagi kita nyampe kampus. Nanti aku obati sendiri saja.”, balas Rian.


“Nggak usah ngeles. Berhenti nggak, atau aku turun.”, jika tadi Rian yang mengancam, kini giliran Kirana.


Rian akhirnya memberhentikan mobilnya di depan sebuah halte yang letaknya tidak jauh dari kampus. Kirana membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak P3K mini. Ia mengambil sebuah kapas dan alkohol didalamnya. Meletakkan kotak itu kembali dan mengarahkan tangannya ke sudut bibir Rian yang terlihat ogah – ogahan.


Kirana membalutkannya dengan sangat hati – hati. Rian tidak meringis sama sekali. Rasa sakitnya mendengar ucapan Raka semalam mungkin jauh lebih menyakitkan baginya.


Wanita itu memilih mengakhiri hidupnya. Rian merasa sangat bersalah. Ia merasa mungkin saat itu dia seharusnya tidak meninggalkan Clara dengan bajingan keparat itu. meski ia datang dengan Clara, tapi Rian merasa saat itu seharusnya dia perlu mengecek keadaan Clara dan bukan memilih pulang sendiri bahkan sengaja meninggalkannya penuh emosi.


Pukulan Raka mengingatkannya bahwa begitu banyak kesalahan yang telah ia lakukan, pada sahabatnya, pada papanya dan pada Kirana. Entah apa yang membuatnya begitu menyesali segala yang terjadi padanya 3 tahun terakhir


Pluk...


Tiba - tiba Rian menarik tubuh gadis ini dan memeluknya. Sungguh ia begitu merindukan aroma gadis ini. Hatinya sedang gundah, ia tak tahu pada siapa ia harus berbagi rasa ini. Ia tak tahu pada siapa ia harus bersandar pada keadaan dimana seakan langit ingin menghukumnya.


“...”, Tak ada jawaban darinya, ia hanya terdengar menyesap aroma lembut gadis ini di sela - sela pelukannya.


“Kak Rian, kamu nggak boleh gini. Kak Rian. Kak , gimana pun kita lagi ada di lingkungan kampus. Tidak, kita juga udah gak ada hubungan apa - apa. Jadi... ”, ucap Kirana ragu.


Berkali – kali gadis ini mencoba untuk menarik diri. Kirana bahkan memukul punggung Rian dengan kuat menggunakan tangannya Tapi Rian tetap tak bergeming. Laki – laki ini jelas lebih kuat darinya.


“Sebentar saja?”, Nada permintaannya begitu tulus sekaligus sedih untuk didengar, sejujurnya Kirana pun merindukan pelukan ini. Ia begitu  merindukan aroma ini.


“Terserah kamu.”, Ia hanya bisa mengatakan itu. Kata yang biasanya ia keluarkan saat ia tak bisa melakukan yang diinginkannya. Termasuk saat dia ingin melepaskan diri dari pelukan pria ini.


Entah perasaan apa yang menyeruak dari hati Kirana. Meski ia bersikeras untuk melepaskan diri, sekeras itu pula rasanya untuk balik memeluk pria ini, melepaskan kerinduannya yang mendalam, ingin rasanya ia merobohkan dinding pertahanannya untuk bersikap seolah tak terjadi apa – apa. Menceritakan segalanya dan berterus terang bahwa ia menyukai pria ini. Bukan sekarang bahkan sejak dulu. Sejak pertama kali ia melihat laki – laki ini dari fotonya.


Inilah alasan ia tak pernah membenci papanya waktu itu, papanya bukan menjualnya, tapi justru memberikan cinta padanya. Setidaknya, setelah perselingkuhan papanya, dia bisa melakukan satu hal yang membuat Kirana berterima kasih. Cinta yang tak pernah ia peroleh dan hampir mustahil dengan segala kepribadian yang dimilikinya. Tapi hatinya berubah ketika laki – laki ini meninggalkannya, membuat hatinya hancur.


Rian melepaskan pelukannya perlahan, ia kembali memegang setirnya dan menghidupkan mesinnya.


“Kamu yakin udah nggak apa – apa ?”, Kirana mencoba sedikit memberikan perhatian terhadapnya.


“Hn.. Maaf aku bikin kamu kaget.”, Rian kembali memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


“Hn.”


“Kamu ...”, Mereka berbicara berbarengan kali ini.


“Kamu duluan.”, ujar Rian.


“Nggak jadi. Kamu aja.”


“Kalau gitu aku juga nggak jadi.”, respon Rian.


Kirana sontak memalingkan wajahnya ke laki – laki ini seolah tidak percaya. Bisa - bisanya dia malah mengikutinya. Kemudian Kirana kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


“Aku turun disini aja. Aku nggak mau mahasiswa lain ngegosipin kita. Apalagi kelas pertama adalah sama kamu.”, ucap Kirana.


“Ini masih hujan.”, respon Rian.


“Nggak papa. Udah mulai reda. Aku tinggal lari aja.”, kata Kirana.


“Maksud aku, kamu pake mantel yang ada di belakang, sama payungnya.”, balas Rian.


“Oh ..”, ujar Kirana.


Kirana terlihat tersipu malu karena ia merasa salah tanggap. Dia kira Rian melarangnya keluar dan memaksanya untuk ikut masuk ke parkiran kampus. Rian memarkirkan mobilnya lebih ke tepi di dekat halte  tepat di sebelah kafe. Kirana menuruti perintah Rian dan keluar dari mobil.


--------------


"Oke.. silahkan untuk menggunakan media apapun yang kalian mau. Kuis ini bersifat open-book. Jadi, mau cari di internet, mau buka buku, whatever terserah kalian. Soal hanya satu. Waktu 15 menit.", ujar Rian segera mepersiapkan ponsel dan infocus di depan untuk menampilkan soal kuis yang akan diberikan.


"Justru kuis - kuis yang open-book begini nih yang bikin pusing tujuh keliling. Udah pasti soalnya absurb."


"Tuhkan, bener. Pertanyaannya aja gue gak ngerti gimana cara jawabnya."


"Mana gak ada angkanya lagi, huruf semua."


"Pak Rian tega amat. Dia kira kita einsten apa, nurunin rumus."


"Gila, gue belajar semaleman cuma buat soal gak jelas kaya gini."


"Udah deh.. alamat kasih kertas kosong lagi."


"Apa gue tulis ulang aja ya soalnya. Kali aja ada upah nulis.'


"Pak Rian, udah sendu - sendu ujan di luar juga enak makan indomie. Gue harus makan soal Fisika ini."


Hampir semua mahasiswa langsung menghela nafas melihat soal yang terpancar di layar depan.

__ADS_1


Soal yang singkat, padat, dan tidak jelas ini memerlukan satu kertas HVS untuk menjawabnya.


__ADS_2