
“Ran, bisa bicara sebentar?”, panggil Radit dari pintu utama ruangan BEM Fakultas.
“Hm? Kirana melirik ke sekelilingnya sebentar. Dia merasa tidak enak dengan yang lain. Sekarang mereka sedang sibuk untuk mempersiapkan acara kampus yang dua minggu lagi akan dilaksanakan.
“Sorry, ganggu sebentar, ada hal penting yang harus gue sampaikan.”, kata Radit seolah mengetahui kekhawatiran Kirana.
Laki - laki itu berusaha memastikan kalau mereka tidak akan lama. Dia hanya perlu sebentar untuk bicara. Kirana akhirnya keluar dan mengenakan sendal yang tersedia disana. Ruangan BEM sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas. Termasuk sendal santai yang bisa mereka gunakan kapan saja.
Tersedia beberapa pasang sendal yang sudah diberi nama agar tidak tertukar.
“Hm?”, respon Kirana menunggu Radit untuk berbicara.
“Lo mau kita ngobrol disini?”, tanya Radit memastikan.
“Terus? Mau dimana lagi?”, balas Kirana bingung.
Radit memintanya keluar sebentar dan dia sudah keluar menuruti keinginan pria itu.
“Tempat lain, yang lebih sepi.”, ucap Radit.
“Hah? Memangnya mau bicarain apa sih sampai harus nyari tempat sepi segala? Radit, gue harus bantu yang lain selesain konsep dekor acara. Kita harus segera belanja. BEM kampus lagi gabut, ya? Perasaan lo lebih sering ada di fakultas dibandingkan di gedung BEM kampus.”, sindir Kirana.
Memang, biasanya seorang Radit hanya akan terlihat di gedung fakultas saat kelasnya saja. Sisanya, dia pasti sudah menghilang. Orang sibuk. Rapat sana sini. Tapi belakangan, mudah sekali menemukannya.
“Lo beneran pacaran sama Raka?”, tanya Radit.
‘What?’, teriak Kirana dalam hati.
‘Dia kesini cuma mau tanya itu? Plus, dia udah tanya itu juga sebelumnya. Nih orang kenapa, sih? Sorry, emang gue sebegitunya, ya?’, tanya Kirana dalam hati.
Belum selesai perkara Raka, sekarang Radit. Perasaan, Kirana tidak pernah menebar pesona pada mereka. Orang yang dia usahakan untuk tebar pesona saja tidak meliriknya. Ini malah dua sekaligus.
“Jangan bilang lo sengaja datengin gue ke ruang BEM. Interrupt rapat gue sama tim yang lain, cuma mau nanya pertanyaan yang sama? Bukannya gue udah pernah jawab. Ya. Terus?”, tanya Kirana.
“Raka bukan cowok baik. Dia cuma manfaatin lo, doang. Lo harus percaya sama gue.”, ucap Radit.
“Dit, sorry, gue lagi sibuk dan gak mau bahas urusan kaya gini. Mending lo urusin aja cewe lo. Tahu deh masih jadi cewe lo juga atau bukan.”, kata Kirana.
“Gue cuma khawatir sama lo.”, balas Radit.
“Come on, DIt. Gue gak butuh khawatir lo. Gue cuma mau lo berhenti ngedeketin gue. Seperti yang lo tahu, gue udah punya cowo.”, kata Kirana dan hendak masuk ke dalam ruangan lagi.
“Ran.. gue bakal tunjukkin kalau Raka itu cowo brengsek.”, ucap Radit.
“Dit, lo bener Radit, Ketua BEM, kan? Sorry, sejak kapan lo ngurusin urusan remeh kaya gini?”, Kirana menggeleng - geleng sebelum menepis pegangan tangan Radit dan pergi.
Kirana bahkan sengaja menutup pintu ruang BEM agar Radit pergi.
“Ngapain si Radit?”, tanya rekan satu timnya di dalam ruang BEM.
“Gak tahu. Gak jelas.”, Kirana bahkan sampai malas mengarang alasan.
__ADS_1
Terserah yang lain ingin mengatakan apa. Dia benar - benar sudah menyerah dengan laki - laki satu itu.
“Gue bingung, kenapa dia sekarang lebih sering di gedung sini. Bukannya Ketua BEM itu sibuk? Doi kerja ga sih?”, celetuk salah satu rekan Kirana disana.
“Lo pada gak tahu?”, celetuk yang lain.
“Apaan?”
“Kabarnya, si Radit mundur dari Ketua BEM.”
“Mundur? Bukannya diturunin gegara doi ga becus?”
“Lagian ya.. Dimana - mana yang jadi Ketua BEM itu tahun ketiga. Ngapain anak tahun kedua ikut - ikutan seleksi BEM. Kuliah aja ga diberesin.”
“Eh? Beneran?”, tanya Kirana yang juga ikut melongo bersama mereka - mereka yang tidak tahu kabarnya.
“Desas - desus. Gue juga cuma dengar kabar burung. Lagian, bener banget kata lo, Ran. Doi malah sibuk ngurusin pentas seni kita yang ga terlalu gede. Iya sih manggil fakultas lain juga, tapi menurut gue Ketua BEM fakultas juga udah cukup kali.”
“Dia juga putus dari cewenya.”
“Jangan - jangan memang karena itu lagi. Ada yang bilang, doi bisa naik jadi ketua BEM ya karena bokapnya si Fay.”
“Kenapa emangnya bokap Fay?”
“Fay itu memang agak underrated kalo soal ketajiran. Tapi katanya, bokap doi tuh punya pengaruh di kampus. Gak tahu gue dimananya. Makanya banyak event yang PO nya si Radit jalan. Terus berkat itu juga kan, doi bisa naik jadi ketua BEM.”
“Akibat krisis calon sih. Calonnya tunggal doang. Lagian pada kenapa ya, ga mau ngajuin jadi Ketua BEM Kampus.”
************
“Udah selesai persiapannya?”, tanya Ghea saat bertemu dengan Kirana di pelataran parkir.
Ghea baru selesai kelas dan Kirana sudah selesai rapat di ruang BEM. Keduanya berencana untuk mencoba salah satu kuliner viral All You Can Eat di sebuah mall baru di pusat kota. Openingnya sudah jalan dua bulan dan hari ini mereka punya waktu untuk mencoba.
“Belum. Masih banyak yang harus disiapin. Besok tim belanja mau beli semua alat dekornya, jadi hari ini cuma sekedar matengin konsepnya aja.”, ujar Kirana.
“Memangnya gak pake EO?”, tanya Ghea sambil mempersiapkan segala sesuatu untuk mulai menyetir. Termasuk kacamata hitam.
“Udah sore, gelap kali Ghe pake kacamata item. Ada - ada aja si.”, protes Kirana saat melihat kelakuan temannya.
“Biar keren.”, jawab Ghea sambil menghidupkan mesin mobilnya.
“Jangan betingkah deh.”, sahut Kirana.
Ghea kemudian melepaskan kacamata hitamnya.
“Bener, ternyata gelap. Ngeri ga keliatan signnya.”, ujar Ghea.
Kirana hanya bisa tertawa. Gadis ini memang selalu saja punya cara untuk bisa melucu meski tidak ada usaha. Sepertinya dari pada kuliah ambil mata kuliah yang sulit dan tersiksa seperti itu, lebih baik Kirana segera menyarankan Ghea untuk ikut audisi stand up comedy saja.
“Eh, Radit tadi nyamperin lo, ya?”, tanya Ghea kemudian saat sudah melewati pintu gerbang keluar kampus.
__ADS_1
“Kok lo bisa tahu?”, tanya Kirana bingung.
“Jelas aja. Orang dia nanya ke gue lo dimana. Radit beneran suka sama lo ya, Ran? Gimana tuh? Gue kira dulu lo yang cinta banget sama dia. Eh ternyata malah kebalikannya.”, tutur Ghea.
“Gak usah ngarang deh.”, jawab Kirana.
“Jadi dia nemuin lo buat apa?”, tanya Ghea.
Kirana memang merasa Ghea adalah sahabat dekatnya. Tapi, Kirana masih belum bisa terbuka soal hal - hal seperti ini. Kirana bahkan belum bilang kalau dia dan Raka hanya pura - pura pacaran saja.
‘Kira - kira bagaimana reaksi Ghea ya kalau tahu yang sebenarnya.’, pikir Kirana dalam hati.
“Gue gak ngerti sama Radit, Ghe. Dia bilang Raka brengsek dan seharusnya gue gak jalan sama dia. Gue bingung kenapa dia segitu pedulinya.”, jelas Kirana.
“Yaa berarti dia emang suka sama lo, Ran.”, balas Ghea.
“Gue tahu.. Gue gak segitu polosnya sampai gak ngerasa itu, Ghe. Tapi why now?”, tanya Kirana.
“Jadi, kalo semisal Radit nembak lo duluan dan bukannya Fay, lo mungkin akan jalan sama dia dan bukan Raka?”, sebuah kesimpulan yang diambil oleh Ghea.
“Yaa gak gitu juga. Cuma gue bingung aja. Kenapa dia memposisikan gue seolah gue yang jadi peran antagonisnya. Kenapa dia ngedeketin gue pas dia lagi pacaran sama Fay? Kenapa dia sekarang kaya ngejar - ngejar gue ketika rumor dia sama Fay putus masih segar di telinga banyak orang. Mereka berdua juga rada aneh. Ada rumor putus, tapi kayanya masih akur. Dan Radit malah ngomong begitu ke gue. Bingung kan.”, Kirana mencurahkan isi hatinya pada Ghea.
“Iya sih. Timingnya aneh banget. Eh.. tapi lo udah tahu belum isu kalo Radit dicopot dari jabatan Ketua BEM Fakultas?”, tanya Ghea.
“Nah itu dia. Gue denger dari anak - anak di ruang BEM tadi. Mana gue abis sindir Radit lagi. Kan gue jadi gak enak.”
“Memang lo bilang apa?”
“Ya.. gue bilang kalo dia ga ada kerjaan apa, ganggu - ganggu gue terus. Intinya gitu.”
“Ya emang kenyataannya gitu kan sekarang.”
“Gue gak enak aja. Gimana kalo ternyata dia emang dicopot dari jabatannya sebagai Ketua BEM.”
“Udahlah Ran, gak usah mikirin itu. Lagian lo juga aneh. Kenapa pacaran ama Raka ngomongnya banyakan Radit?”, tanya Ghea.
“Gue mo jujur tapi lo janji ga ember, ya.”, ucap Kirana memperingatkan Ghea terlebih dahulu.
“Emangnya kenapa?”, Ghea bahkan menoleh ke arahnya padahal dia sedang menyetir.
“Lihat kedepan, Ghe… udah deh gue ngobrolnya entar aja pas udah nyampe.”, ucap Kirana tidak ingin mempertaruhkan nyawanya di dalam mobil Ghea.
Apalagi Ghea belum genap 6 bulan lancar mengendarai mobil.
“Ih… jangan begitulah Ran.. udah setengah jalan masa berhenti.”, protes Ghea.
“Ya.. lo sih. Entar aja. 15 Menit lagi kan kita juga nyampe. Nanti aja ceritanya. Fokus dulu tuh.”, kata Kirana memperingatkan.
“Huh..”, ucap Ghea kecewa.
Padahal dia sudah bersemangat. Tapi, Kirana memang ada benarnya juga. Dia harus fokus menyetir.
__ADS_1