Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 46 Memar


__ADS_3

“Apa dia akan baik - baik saja?”, tanya Kirana ketika mereka berdua sudah kembali ke dalam mobil.


Sesampainya di unit apartemen milik Raka, Rian meletakkannya di kasur di sebuah kamar yang dia percaya adalah kamar utama di apartemen itu. Dia sengaja membuka pintu kamar dan meminta Kirana meletakkan secangkir air bersama gelas di meja di dalam kamar itu.


Sehingga, jika anak itu membutuhkannya, dia masih bisa menjangkaunya.


“Kenapa? Kamu khawatir? Ya sudah sana, mau turun disini dan menemani?”, tanya Rian.


“Ih.. apa - apaan sih Kak Rian. Ngapain juga aku disana sendirian. Maksudnya, apa tidak sebaiknya kita berdua disana menunggu sampai dia sadar? Kalau dia kenapa - kenapa bagaimana?”, tanya Kirana.


“Dia sudah dewasa dan dia hanya mabuk. Untuk apa aku harus membuang - buang waktuku menjaganya. Kalau kamu mau, silahkan.”, ujar Rian terkesan cuek dan itu membuat Kirana kesal.


Bukan karena pria itu tidak mau menunggu Raka tapi karena dia dengan mudahnya mengatakan kalau aku boleh menunggunya.


‘Kirana bodoh… untuk apa ngarepin orang ini lagi sih? Bukannya sudah jelas alasan waktu itu kalian bercerai? Ya.. karena Rian tidak punya rasa pada kamu sama sekali.”, teriak Kirana dalam hati kepada dirinya sendiri.


Rian melirik ke arah kaca mobil bagian atas yang fungsinya untuk melihat sesuatu di belakang.


‘Ah.. **.. Kamu gak bawa itu jaketnya?”, tanya Rian pada Kirana.


“Oh? Jaket apa? Jaket mana? Jaket siapa?”, tanya Kirana yang memang hobi melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus.


“Itu, jaket hijau di tengah itu.”, ujar Rian sambil menoleh ke arah Kirana menunggu jawabannya.


“Hm? Aku kira itu punya Kak Rian. Lagian tadi Kak Rian cuma suruh aku ambil tas Raka. Bukan jaketnya. Ya.. mana aku tahu.”, protes Kirana.


“Kamu kira saya bisa pakai jaket kecil kaya gitu?”, ucap Rian yang masih belum menyalakan mobilnya.


“Yaa aku juga gak ngecek ukurannya. Buat apa aku cek - cek ukuran jaket yang ada di mobil Kak Rian segala. Makanya, lain kali kalo ngasih instruksi itu yang lengkap. Jangan setengah - setengah.”, ucap Kirana.


“Terus jaketnya mau diapain?”, tanya Rian lagi.


“Ya.. dibalikin lah. Mau diapain lagi.”, jawab Kirana.

__ADS_1


Rian menghela nafasnya.


“Ya ampun, kak. Tinggal balikin doang.”, kata Kirana.


Rian bangun dari kursinya sedikit dan berusaha menoleh ke arah belakang. Kirana kira Rian ingin mendekat padanya. Tubuhnya langsung membeku menantikan apa yang mungkin akan dilakukan Rian padanya (dalam imajinasinya).


Karena nyatanya, Rian memutar badannya berusaha mengambil jaket yang dia katakan. Meski sedari tadi berdebat, Kirana tak melihat ke arah belakang untuk sekedar memastikan dimana jaket itu berada. Rian langsung mengutipnya.


Jaket itu terletak agak jauh dari kursi depan. Agak mepet ke arah belakang karena Raka sempat sadar dan menggeser letak jaket itu. Rian kesulitan dan harus ekstra meluruskan tangannya dan tubuhnya untuk mengambil jaket itu.


Kirana yang menunggu lama karena Rian tak kunjung kembali ke posisi duduknya semula menoleh. Rian juga beberapa kali meringis dan membuat Kirana greget. Awalnya Kirana mengira itu karena dia berusaha berusaha keras untuk mengambil jaket.


Secara kebetulan ada bagian kemeja Rian yang tertarik ke atas karena aksinya berusaha mengambil jaket. Dari situlah Kirana melihat ada beberapa luka lebam di bagian kanannya. Lukanya memang masih samar.


Namun, dengan jarak sedekat itu dan pencahayaan di dalam mobil yang terang, Kirana bisa melihatnya dengan jelas.


Tangan Kirana tanpa sadar langsung menyibak sedikit lagi kemeja Rian untuk melihatnya. Pria itu sadar bertepatan dengan tangannya yang sudah berhasil menjangkau bagian jaket dan menariknya.


“Itu.. badannya Kak Rian, kenapa? Kayak luka lebam.”, tanya Kirana pelan.


“Bukan apa - apa. Nih!”, balas Rian sambil melemparkan jaket yang tadi dia ambil ke arah Kirana.


“Loh, kok dikasih ke aku?”, tanya Kirana.


“Kamu balikin ke dia. Kan kamu pacarnya.”, ucap Rian mulai menstarter mobilnya.


“Tinggal balikin doang. Kenapa harus aku sih. Aneh banget.”, komentar Kirana.


Rian hanya diam sambil beberapa kali meringis halus mencoba menahan bekas pukulan dan tendangan dari orang yang dia temui di klub tadi. Dia sudah menahannya dari tadi.


Jika saja Kirana tidak muncul secara tiba - tibadi hadapan mereka tadi, Rian mungkin akan menggunakan sedikit waktu untuk mengobati beberapa lukanya di dalam apartemen Raka. Tapi, ada sedikit pikiran dimana Kirana mungkin akan khawatir padanya.


Meski Rian tertawa dengan pikiran yang hanya memiliki persentase kecil itu.

__ADS_1


Mereka melewati perjalanan pulang dalam keheningan. Kirana tak lagi menyinggung bekas lebam yang dia lihat tadi. Setidaknya begitu yang terlihat dari luar karena tak ada lagi kalimat yang di keluarkan.


Begitupun Rian. Pria itu juga diam seribu bahasa sambil terus berkonsentrasi untuk menyetir. Padahal sebenarnya, masing - masing dari mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka.


‘Kira -kira itu luka memar karena apa ya? Hanya di bagian bawah saja sudah beberapa. Jangan - jangan di bagian atasnya juga banyak lagi.’, Kirana bertanya - tanya dalam hati.


Dia melirik ke arah Rian sebentar dan bisa melihat jelas sudut bibirnya yang robek. Tadinya Kirana berpikir itu adalah luka yang tempo hari juga dia lihat. Mungkin belum sembuh, pikirnya. Tapi kalau dia perhatikan lagi, lukanya lumayan baru.


‘Apa aku terlalu berlebihan? Apa jangan - jangan selain luka di bibir, Kak Rian sebenarnya juga ada luka lebam sewaktu gak sengaja ketemu aku tempo hari. Tapi, ngapain dia sampai bisa dapat luka begitu? Gak mungkin karena karate kan?’, kata Kirana terus menganalisa dalam hati.


“Ngapain liat - liat?”, tanya Rian pada Kirana yang sesekali masih mencuri - curi pandang.


“Idih.. GR banget. Enggak, aku cuma mau lihat pemandangan yang ada di sebelah sana. Mau mastiin aja sama atau enggak dengan yang di sebelah sini.”, jawab Kirana.


‘Baiklah Kirana, sebuah alasan yang cerdas.’, kata Kirana sambil memukul - mukul kepalanya karena malu.


“Aku antar sampai depan komplek aja? Bisa jalan ke rumah, kan? Perumahannya kan aman.”, tanya Rian memastikan.


Pria itu masih belum siap jika harus bertemu dengan mama Kirana. Gadis ini juga sepertinya belum mengatakan sama sekali tentang kepulangan Rian ke Indonesia. Lebih tepatnya, gadis itu menyembunyikannya.


Jika sejak awal mahasiswa baru Kirana sudah mengatakannya, mama Kirana sudah pasti akan menghubunginya. Tapi nyatanya tidak ada sama sekali.


“Iya.. aku pernah bilang ke mama sama sekali kalau Kak Rian ada di Indonesia.”, ungkap Kirana.


“Hn. Sepertinya tidak tahu lebih baik buat semua orang.”, balas Rian.


“Hn.. baguslah kalau Kak Rian paham.”, jawab Kirana.


“Ya sudah. Hati - hati. Besok weekend dan senin ada kuis untuk kelas saya. Jangan lupa belajar.”, kata Rian dengan reminder ala dosennya.


“Hn.”, balas Kirana.


Rian menunggu Kirana untuk turun dari mobilnya. Tapi beberapa detik kemudian gadis itu belum juga turun. Tidak terlihat pergerakan sama sekali darinya. Hanya diam. Rian menoleh kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2