Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 55 Tanpa Status


__ADS_3

“Kamu bilang apa ke mama? Beliau gak nyariin kamu?”, tanya Rian setelah mobilnya melaju menjauhi rumah sekitar 5 menit yang lalu.


Mereka bersiap untuk kembali ke rumah Kirana karena gadis itu sudah tidak pulang ke rumah semalaman.


“Nginep di rumah Ghea.”, ucap Kirana santai sambil memakan timun yang ada di tangannya.


Kirana menemukan makanan ini di dalam kulkas. Sepertinya asisten rumah tangga Rian yang menyiapkannya, lengkap dengan saus sambal dengan rasa yang khas.


“Kamu bohong lagi.”, balas Rian.


“Terus Kak Rian berharap aku untuk bilang kalau aku ada di rumah Kakak? Terus Kak Rian berharap mama akan bilang, ‘Oh iya… jaga Rian baik - baik, kamu disana aja.’.”, ujar Kirana sambil menirukan aksen mamanya kalau sedang berbicara.


“Bukankah aku sudah meminta kamu untuk pulang?”


“Tapi, Kak Rian senang kan aku masih di rumah. Buktinya pas pagi - pagi bangun langsung sumringah.”, ucap Kirana.


Rian menghela nafasnya. Dia menyesal. Dia memang kehilangan pengawasan terhadap dirinya. Sejenak dia lupa kalau mereka sudah bukan suami istri lagi.


“Aku juga nginep di kamar bawah dan Kak Rian di kamar atas. Kita gak ngelakuin apa - apa. Terus masalahnya dimana?”, Kirana berkomentar setelah berhasil mengunyah sepotong timun. Sekarang dia sedang mencari air.


Rian membantu mengambilkan ketika mereka tepat sedang berhenti di lampu merah.

__ADS_1


‘Bukan masalah kamu tidur di kamar bawah. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan untuk menekan perasaanku.’, gumam Rian dalam hati.


“Mau makan dulu? Kamu lapar banget sepertinya. Sampai - sampai semua persediaan timun di kulkas kamu ambil semua.”, ucap Rian sambil melirik ke kiri dan ke kanan mencari restoran atau tempat makan yang enak.


Kirana langsung tersenyum. Artinya, dia bisa lebih lama lagi bersama Rian.


“Restoran itu sepertinya enak. Ada bubur ayamnya.”, ucap Kirana langsung menunjuk pada sebuah restoran pinggir jalan yang menyediakan berbagai menu sarapan pagi mulai dari soto, mie ayam, ketoprak, dan lain - lain.


Dari luar tampaknya sangat ramai. Berarti restorannya enak. Kirana langsung berangkat dengan asumsi itu sebelum menunjuk resto itu.


“Mau parkir dimana? Penuh.”, kata Rian dari kejauhan.


“Itu.. ada yang keluar. Buruan, Kak. Buruan. Ntar keburu ada yang parkir.”, kata Kirana menepuk - nepuk lengan Rian.


“Kak Rian itu harus mulai rutin sarapan pagi. Biar sehat.”, kata Kirana.


“Aku sehat.”, balas Rian singkat sambil menunggu tempat parkir yang dimaksud kosong.


“Buktinya, dalam satu semester yang belum berakhir ini aja, Kak Rian sakit 2x. Berarti kan ada yang salah dengan imunitas kakak sebenarnya.”, ucap Kirana mulai cerewet.


“Turun.”, balas Rian ketika mobil mereka sudah berhasil terparkir dengan sempurna.

__ADS_1


“Ambil tempat duduk yang diatas aja. Biar bisa lebih leluasa. Ayooo.”, Kirana sangat bersemangat.


Rian sampai lupa kalau wanita itu memang seriang itu. Belakangan mereka selalu bersitegang.


“Mau pesan apa? Aku bubur ayam, yah. Dua porsi lengkap sama satenya. Minumnya mau soda gembira.”, kata Kirana sudah melakukan pesanan, bahkan sebelum mereka duduk sempurna.


“2 porsi? Soda gembira? Ini masih pagi, Ran.”, kata Rian kaget.


“Buruan sana pesen.”, ucap Kirana menyuruh Rian.


Tempat ini menyediakan dua lantai dengan masing - masing lantai memiliki ruang masak dan kasir untuk melakukan pemesanan masing - masing. Saking ramainya, mungkin mereka tidak ingin lelah naik - turun tangga.


“Saya ini dosen kamu, loh.”, kata Rian mengingatkan Kirana.


“Iya. Memangnya aku lupa. Tapi sekarang kan lagi gak di kampus.”, kata Kirana.


Rian hanya menghela nafasnya dan tetap melakukan pemesanan di kasir. Dia juga langsung melakukan pembayaran. Dari sana, Rian menatap ke arah Kirana. Gadis yang dia lepaskan begitu saja beberapa tahun lalu.


Kini dia begitu keras menahan diri untuk tak menyentuhnya. Menekan perasaannya karena memang tak ada apapun diantara mereka. Rian takut untuk memulai meski tahu Kirana mencintainya.


Kirana terus mengkonfirmasi perasaannya dan takut kalau - kalau Rian tak menyukainya.

__ADS_1


“Kamu masih berhubungan dengan Raka?”, tiba - tiba Rian mengangkat pembicaraan yang serius ke meja mereka.


__ADS_2