Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 98 Permintaan Maaf


__ADS_3

“Hai Clar, apa kabar? Maaf aku tidak datang sejak awal. Tiga tahun? Hm.. sepertinya benar - benar sudah tiga tahun lebih kita tidak bertemu. Aku tidak menyangka malam itu jadi pertemuan kita terakhir.”


“Pertama kali bertemu, kamu berusaha kabur dari kampus dan pergi ke perpus milikku. Aku bahkan masih ingat tempat duduk yang kamu ambil dan buku yang selalu kamu baca. Andai waktu kembali diputar, aku tidak akan pernah menyesal pernah menyesal memiliki sahabat seseru kamu.”


“Kau sudah tahu? Aku kesini untuk meminta maaf. Setelah lebih dari tiga tahun, akhirnya aku berani melepaskan semuanya. Hm.. aku harap kamu juga. Berhenti ada di setiap mimpiku. Kita sudah dewasa. Bukan waktunya lagi bermain. Aku yakin kamu juga dapat teman yang banyak dan lebih seru disana. Terima kasih untuk semuanya, Clara.”


Rian menaruk satu buket bunga tulip putih yang dia beli pagi - pagi sekali gi toko bunga. Tak heran jika perawakan bungan itu terlihat sangat segar. Tak tanggung - tanggung, Rian membeli satu buken bunga tulip putih dengan ukuran besar yang dibungkus dengan kertas berwarna hitam dan plastik bening berwarna putih.


Rian menaruh bunga itu di depan foto seorang gadis bernama Clara. Wajahnya sangat cerah, kulitnya putih, dan rambutnya keriting pirang. Gadis itu tersenyum cerah. Rianpun tersenyum sebelum akhirnya menjauh dari tempat itu.


Dia baru saja menyelesaikan exhibition ilmiahnya di London beberapa hari yang lalu. Seharusnya hari ini dia sudah berada lagi di Indonesia. Namun, keesokan harinya setelah exhibition selesai, Rian langsung mengambil penerbangan menuju Paris. Tempat yang selama tiga tahun lebih ini dia hindari.


Rian kembali menelusuri semua tempat - tempat dan kenangan bersama sahabatnya, Clara. Menelusuri masa muda dimana semua ideologi masih keras berada di kepalanya. Masa dimana dia selalu menolak pulang meski papanya sudah menghubunginya ratusan kali sampai akhirnya harus datang ke Paris.


Rian mendatangi restoran terakhir, tempat dia menghabiskan waktu bersama papanya dan Clara malam itu. Tempat dia kembali pulang bersama papanya dan membiarkan Clara sendiri. Rian sudah memutuskan untuk berdamai dengan dirinya sendiri, masa lalu, dan apapun alur kusut yang menghantuinya beberapa tahun ini. Dia siap untuk menghampiri jalanan yang baru dengan menutup buku untuk chapter beberapa tahun lalu.


*********


“Guys, Pak Rian ga masuk. Ada tugas online yang di submit di portal kampus. Batas waktu pengumpulan sore ini.”, teriak salah seorang mahasiswa.


“Tumben. Kemana dosen kesayangan kamu, Ran?”, tanya Ghea.


Tentu saja gadis itu menyuarakannya pelan sekali. Meski begitu, Ghea tetap saja membulatkan matanya tak percaya dengan guyonan Ghea.


“Iya.. iyaa.. Tumben Pak Rian bolos kelas. Biasanya ga ada tuh di kamus nya doi.”, ucap Ghea.


“Wah.. soalnya juga ga seperti biasa nih guys. Kayanya masih bisa dikerjain.”, celetuk teman kampusnya yang lain.


Begitu mendapatkan informasi, mereka langsung masuk ke portal kampus dan mengunduh tugas yang diberikan. Berbeda dengan tugas yang biasa diberikan, kali ini ada angka di soal tugasnya.


“Apa belakangan Pak Rian lagi sibuk pacaran, ya? Ampe urusan kampusnya ga kepegang.”, salah seorang mahasiswa perempuan berkomentar.


“Iya… sering - sering aja sih. Biar terjamin Fisika kita. Asli, gue khawatir ngulang.”


“Gue gak keberatan sih. Bapaknya ganteng. Tapi kan gue juga pengen lulus.”


“Huuuuu.”, teriak mahasiswa yang lain.

__ADS_1


“Kemana Pak Rian?”, tanya Raka begitu mereka sudah keluar dari kelas.


Mereka bertiga memutuskan untuk mengerjakan tugas itu di perpustakaan. Yan, sejak beberapa hari ini, Raka sering sekali mengintil dengan Ghea dan Kirana. Padahal sudah sering diusir oleh Kirana.


“Apaan sih?”, tanya Kirana pelan karena Ghea terus - terusan menyikut lengannya.


“Pak Rian kok belum balik. Senior yang jalan ama Pak Rian udah balik semua.”, tanya Ghea.


“Tahu dari mana lo? Update banget.”, tanya Kirana.


“Sosial media lah… Kirana… kudet banget sih. Eh tunggu.. Gue ada telepon.”, ucap Ghea segera minggir dari tempatnya keluar.


Berhubung mereka sedang ada di perpustakan, maka Ghea terpaksa harus keluar untuk menerima telepon.


Raka menatap Kirana intens.


“Napa lo?”, tanya Kirana.


“Gue traktir lo makan malem. Gimana?’, tanya Raka tiba - tiba.


**************


“Ini dimana? Hotel? Lo ngajak gue makan di tempat mahal?”, tanya Kirana yang baru saja tersadar di parkiran.


Sepanjang jalan dia sesekali tertidur. Padahal, dia sudah mewanti - wanti dirinya untuk tidak tertidur di mobil orang lain kecuali itu teman perempuannya.


‘Apa belakangan gue terlalu terbiasa dengan Raka, ya. Kenapa gampang banget ketiduran.’, pikir Kirana.


“Eh.. ini dimana?”, tanya Kirana yang menarik lengan baju Raka karena main turun - turun saja tanpa memberitahunya.


“Udah, ikut aja. Dijamin enak. Gue yang traktir.”, ucap Raka.


Kirana akhirnya ikut saja. Mereka berjalan keluar parkiran yang sepertinya berada di basement menuju sebuah area lift. Raka dengan santai menempelkan kartu membuka pintu area itu dan menekan tombol lift ke atas.


Mereka masuk dan Raka menekan tombol Lobby. Kirana hanya mengamati. Begitu sampai di lobby, Kirana baru bisa melihat sekelilingnya. Suasana mewah sekaligus sepi begitu terasa. Ada lampu besar sekali di bagian tengah. Bagian resepsionis sudah tidak terisi oleh wanita tetapi satpam.


Kirana refleks melihat jam nya. Masih jam 7 malam.

__ADS_1


‘Ini sebenarnya dimana? Terlalu sepi untuk hotel. Apa belum masuk lobby utama?’, pikir Kirana dalam hati.


Raka terus berjalan santai dengan cepat. Lagi - lagi dia mengetapkan kartu pada salah satu pintu transparan sebelum akhirnya menekan tombol lift ke atas. Di dalam nya terdapat banyak pilihan angka.


Namun, angka 1-20 di skip. Hanya ada pilihan 25-30 disana. Selebihnya tulisan - tulisan seperti gym, ballroom, dan lain - lain.


Raka dengan santai mengetapkan kartunya dan otomatis tombol lift lantai 27 langsung aktif.Raka menekan tombol tutup dan lift itu bergerak begitu cepat membawa Kirana ke lantai itu.


“Eh.. rooftop restaurant?”, tanya Kirana.


Raka tidak menjawabnya.


Ting… bunyi pintu lift terbuka. Raka terus saja berjalan lurus sementara Kirana celingak - celinguk kiri dan kanan. Gadis itu merasa kebingungan apakah harus terus melanjutkan perjalanan atau kembali. Beberapa orang terlihat mendekati lift.


Kirana akhirnya berlari kecil mendekat ke arah Raka yang berbelok ke kanan lorong. Hanya ada dua pintu disana. Raka lagi - lagi mengetap kartunya dan menekan sejumlah tombol.


“Ran?”, panggil Raka menoleh ke belakang setelah membuka pintu.


“Uh?”, tanya Kirana.


“Masuk.”, ucap Raka.


Kirana masih diam. Matanya penuh selidik seperti sudah melontarkan pertanyaan.


“Apartemen gue.”, kata Raka.


“Hah?”, Kirana tidak percaya dengan jawaban Raka.


“Gue traktir lo makan malam. Di apartemen gue.”, ucap Raka.


“Ogah.. ah.. Gue mau pulang.”, ucap Kirana menolak.


“Udah.. masuk aja. Ga usah malu - malu.”, ucap Raka menawarkan.


“Harusnya tadi lo bilang dulu. Bukannya langsung main jalan aja. Gue tanyain ga jawab - jawab.”, balas Kirana.


“Ya elah.. Anggep aja lo lagi main ke rumah temen lo. Pacar? Haha.. udah ah.. Masuk.. Hayuk..”, tarik Raka.

__ADS_1


__ADS_2