
Rian bukan tipe orang yang bisa mengendalikan perasaannya begitu saja tanpa alasan. Walau bagaimanapun, Rian berpikir kalau mereka butuh bicara. Rian tidak percaya akhir cerita mereka akan jadi seperti ini.
Sebenarnya apa masalah mereka? Mereka bahkan tak pernah bertengkar kecuali malam itu. Dan Rian merasa itu bukanlah pertengkaran.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Raka? Benarkah ia menyukai Kirana? Kenapa mereka benar – benar pacaran? Apa mereka saling suka? Apa sekarang dan bahkan 3 tahun lalu Kirana tak pernah sedikitpun mencintai Rian? Bahkan setelah semua badai ini terjadi.
Rian merasa dia tak punya pilihan lain, Rian hanya ingin bicara pada Kirana. Meminta penjelasan darinya. Rian yang sejak tadi sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah kirana masih bertarung melawan dirinya.
Ia ingin masuk dan bicara, tapi ia tidak bisa memunculkan dirinya begitu saja didepan Mama. Sejak Rian kembali ke Indonesia, tak sedikitpun dia memberitahu mama Kirana. Meski mereka saat ini sudah tidak memiliki hubungan apa - apa, tapi sebagai orang yang pernah menjadi pendamping putrinya, mama seharusnya berhak tahu Rian memutuskan kembali ke Indonesia.
Ia sangat bingung sampai tangannya tanpa sadar sudah menekan tombol dial 1. Dial 1 yang tersimpan di ponselnya masih nomor ponsel Kirana. Rian bahkan baru menyadarinya. Sejak dia sudah tak pernah menghubungi Kirana lagi, Rian tak tahu kalau bahkan pengaturan itu belum dia ganti.
Sayangnya, sambungan teleponnya tidak langsung terhubung.
Ponsel kirana sedang sibuk. Sedikit kecewa. Pikiran kalau gadis itu mungkin sedang berbicara dengan Raka kembali menghantuinya.
Tapi, Rian tak menyerah. Dia kembali menghubungi gadis itu. Lagi – lagi sibuk.
‘Sh*t, apa dia sedang berbicara dengan Raka?’, Rian memukul setir mobilnya.
Setelah terdiam sebentar, Rian memilih untuk kembali menghubungi Kirana lagi. Lagi, dia menekan Dial 1.
Sayang, malam ini sepertinya bukan untuknya. Bukan lagi sedang sibuk, ponsel Kirana kini justru tak bisa diangkat.
Sendu rasanya malam itu, dingin mencekam dan memilukan hati. Semua rasa bercampur di otaknya. Sampai kapan ia akan terus begini, terpuruk tanpa arah yang jelas. Jika sebagian hatinya ingin dan bisa melupakan, ia akan bersyukur. Tapi sepenuh hatinya menyuruh tetap menutup rapat nama gadis itu di hatinya.
Sudah hampir dua tahun, Rian bersikap seolah tak terjadi apa - apa. Tapi saat ini berbeda. Interaksi mereka lebih intens dibandingkan dengan sebelumnya. Untuk pertama kalinya mereka menghabiskan seharian bersama.
Untuk pertama kalinya, Kirana ke rumah Rian setelah sekian lama. Dan untuk pertama kalinya, Rian menyaksikan orang lain mencicipi ranumnya bibir gadis itu.
Dua tahun memperhatikannya diam - diam seolah menutup rapat masih biasa untuk Rian. Tapi, pantulan adegan kemarin antara Kirana dan Raka membuat Rian tak bisa tidur. Untuk pertama kalinya dia kesal, rindu, marah, berharap, dan semua rasa itu berkumpul.
“Ehm... mobil siapa yang parkir malam – malam begini di depan? Biasanya nggak ada. Apa tamu rumah depan?”, Kirana bingung melihat mobil yang terparkir di seberang depan rumahnya.
Sambil mengusap – usap rambutnya yang basah, ia membuka tirai balkon dan berdiri di sana sambil memandangi mobil itu. sebaliknya Rian tak menyadarinya, justru ia segera menekan gas mobilnya dan pergi.
“Kak Rian???”, Kirana baru menyadari setelah melihat bagian belakang mobil itu, ia yakin itu mobil Rian.
__ADS_1
Ada ornamen berbentuk lingkaran di kaca belakang mobilnya.
‘Ada apa dia malam – malam begini kemari?’, pikir Kirana bingung.
Meski sedikit kecea dan bingung, tapi Kirana bersyukur lelaki itu tak memilih masuk ke rumahnya.
Semenjak bertemu dan kembali berhubungan dengan laki - laki itu, Kirana kembali tak mampu menetapkan hatinya. Gadis 20 tahun keras kepala ini begitu lugu jika dihadapkan dengan masalahnya beberapa tahun yang lalu. Hatinya sangat rapuh dan tak berdaya di hadapan lelaki itu.
--------------
Rian terlihat memarkirkan mobilnya di sebuah apartemen mewah. Ini jelas bukan kediamannya. Ia memarkirkan mobilnya dan berjalan penuh amarah. Dasinya dikendurkannya supaya ia bisa bernafas. Rasanya begitu sesak.
“Aku udah nggak bisa terima sikap kamu lebih dari ini. Aku salah menganggap kamu udah dewasa, aku lupa kalo kamu itu cuma anak - anak.”, ucap Rian dengan nada tinggi
“Anak - anak kamu bilang? Trus apa bedanya kamu, pas papa masih hidup, apa yang kamu lakuin, kamu nggak pernah ngerti perasaan papa. Kamu nggak ngerti mimpi - mimpi papa. Kamu bahkan bilang semua yang papa lakukan selama ini adalah nggak lebih dari buang - buang waktu.”, emosi Kirana juga ikut tersulut.
“Trus apa urusannya sama kamu. Bocah ingusan yang bahkan masih bisa jalan ke mall bareng cowok nggak jelas pas papa lagi di rumah sakit. Murahan tahu nggak sih.”, Rian tak bisa membendung amarahnya sampai ia mengeluarkan kata - kata yang sebenarnya tak sejalan dengan hatinya.
Plak...
Kirana menampar pipi Rian keras. Kata - katanya benar - benar tidak terpelajar.
“Ngasuh?”, Air mata Kirana sudah tumpah. Dia tidak menyangka laki - laki pertama yang menjadi sandaran hidupnya justru memuntahkan kata - kata kejam padanya.
“Iya, kamu kira selama ini aku suka sama kamu? Kamu yang terlalu terobsesi sampai - sampai nyembunyiin surat Clara dari aku.”, kata Rian.
“Kamu bener - bener keterlaluan, kak. Kamu tega ngomong semua itu ke aku. Kapan aku pernah suka sama kamu?”, Kirana tak lagi bisa membendung tangis yang tumpah.
“Oke, mulai besok kita cerai.”, Rian menarik paksa Kirana keluar dari mobil dan berlalu dari parkiran menuju apartemennya. Meninggalkan gadis itu sendiri menangis terisak di pelataran parkir. Sunyi, gelap, dan sepi.
Kurang dari 3 tahun kemudian, mereka kembali bertemu. Gadis itu, dia berkuliah di tempatnya mengajar. Bagaimana bisa? Saat relung hatinya sudah membaik, gadis itu muncul tepat di hadapannya.
“Kamu nggak boleh pergi, bukannya pembimbing akademik kamu yang meminta kamu ke sini. Kamu udah cabut kuliah berapa kali dalam sebulan ini?” Gadis itu bingung, ia begitu bingung, meski wajah yang ia lihat di hadapannya sama dengan wajah 3 tahun yang lalu, tapi tatapannya berbeda. Tatapannya tak lagi seperti dulu.
“Saya mengurusi beberapa hal di luar kampus, Pak.”, jawab Kirana dengan nada datar.
“Kalo ada hal penting yang harus diurus, seharusnya kamu minta izin, bukannya main cabut aja. Kalo ini terjadi sekali lagi, kamu tidak bisa ikut ujian dan dianggap tidak lulus.”, ucap Rian.
__ADS_1
“Baik pak. Saya mengerti”, Gadis itu pergi dengan memasang tatapan nanar di wajahnya. Wajah itu, wajah yang masih sama dengan dulu. Itu pertama kali ia bertemu kembali dengan gadis yang ia cintai, gadis yang bahkan sudah membuatnya berfikir hidup ini tak ada sejak hari itu.
Kilas balik selesai
Rian, laki – laki itu menaiki lift dan menuju ke lantai 10 gedung apartemen ini. Langkahnya begitu cepat dan berhenti di ruangan bernomor 114. Ia menekan bel. Lama setelahnya, pintu itu baru terbuka.
“Apa yang sedang kau rencanakan?”, Mereka berbicara dalam bahasa Perancis.
“Bukan urusanmu? Kenapa datang malam – malam begini dan menganggu tidurku?”, laki - laki yang dia temui adalah Raka.
“Kau, apa yang kau lakukan dengan Kirana? Heh aku tidak percaya kau memacarinya dan dia menerimannya. Dia bukan tipe gadis seperti itu.”, Rian kini sudah mencengkeram baju kaos Raka, membuatnya tersudut ke dinding.
“Terlepas dari semuanya, kau adalah dosenku. Tak selayaknya kau memperlakukan mahasiswamu seperti ini. Datang malam - malam tanpa diundang dan mencengkeram baju seseorang. Ingat Pak Rian, area ini ada CCTV nya. Bagaimana jika aku melaporkanmu ke polisi. ”, ucap Raka memberikan ancaraman sampai Rian mau mengendurkan cengkramannya.
“Apa tujuan kamu menemuiku?”, tanya Raka dengan nada dingin.
“Kau tahu? Dia bunuh diri. Gadis itu bunuh diri, gadis yang mencintaimu dengan sepenuh hati, berharap kepura – puraanmu padanya berbuah manis. Tapi justru kau mencampakkannya.”, lanjut Raka kembali. .
“Apa maksudmu?”, Rian menatap Raka intens, dia tak mengerti maksud anak ini.
“Jangan berakting dan memasang muka sok tidak tahu di hadapanku.”
“Apa maksudmu? Bicara yang jelas.”, desak Rian.
“Clara, kakakku ditemukan bunuh diri di apartemennya pada hari keberangkatanmu ke Indonesia. Kau tahu itu?”, Raka berbalik mencengkram kerah baju Rian.
“Apa? Clara?”, Rian terkejut.
Ini adalah informasi baru untuknya. Dia sama sekali tidak tahu tentang ini. Memang, setelah pindah ke Indonesia, Rian memutus semua hubungan yang ada di Perancis termasuk semua kenalannya. Dia tak lagi menyimpan nomor mereka dan menonaktifkan ponselnya.
“Dasar bajingan.”, Raka yang sudah tak bisa menahan amarahnya mulai memukul Rian sampai bibirnya luka dan berdarah.”
“Katakan ini bohong. Kau sedang menipuku kan?”, ucap Rian tak bisa melakukan apa - apa.
“Apa yang aku dapat dengan menipumu. Apa? Ibuku gila, dia stress. Kau pikir untuk apa aku datang kesini? Untuk memberitahu semua ini dan pergi? Kau tidak hanya menghancurkan keluargaku tapi juga hidupku. Teman macam apa kau?”, teriak Raka kembali
Rian terdiam. Dia terpaku sesaat di sebuah sofa dikamar itu. Kemudian ia bergerak keluar apartemen dan menutup pintu. Terdengar suara barang – barang di banting dari dalamnya sebelum pintu tertutup sempurna.
__ADS_1
Rian kembali terdiam di kamarnya. Ia melesat cepat dari apartemen itu menuju rumahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia benar – benar tidak mengerti. Apa salahnya? Gadis itu bunuh diri? Gadis itu sudah tiada? Otaknya tak mampu berpikir jernih, urat sarafnya seakan terputus hingga berdiri pun ia sudah tidak kuat. Perlahan ia menangis.