
“Kok berhenti disini?”, tanya Kirana polos pada Rian yang berhenti sekitar 100 meter dari perumahannya.
“Mau aku antar sampai depan rumah? Atau mau disini? Pilih salah satu.”, ucap Rian.
Kirana langsung memberikan tatapan kesal pada Rian yang senang sekali memberinya pilihan sulit.
“Ya udah, sampai depan rumah juga gapapa. Biar mama tahu Kak Rian sudah di Indonesia.”, balas Kirana tiba - tiba tak ingin kalah dan ingin menantang pria itu.
‘Ayo lihat. Kira - kira dia akan bilang apa. Heh.. mana mungkin dia mau mengantarkan aku sampai depan rumah.’, ujar Kirana dalam hati penuh percaya diri.
Tanpa mengucapkan apa - apa, Rian lantas melajukan mobilnya menuju perumahan. Kirana langsung membulatkan matanya.
‘Jangan bilang dia benar - benar tidak masalah kalau mama lihat.’, ucap Kirana.
“Eh.. tunggu - tunggu. Aku berhenti disini saja.”, ujar Kirana menghentikan Rian sebelum pria itu melaju lebih jauh lagi.
Hari Minggu siang biasanya mamanya pasti sedang berada di rumah. Kirana masih belum siap untuk melihat reaksi mama kalau tahu Rian ada di Indonesia.
Sayangnya, Kirana masih betah di mobil Rian. Dia mencoba melihat sekeliling sambil memperlambat pergerakannya. Disisi lain, Rian terlihat diam saja sambil meletakkan kedua tangannya berpangku di setir mobil. Menunggu.
“Ini apa?”, tanya Kirana menarik penutup cahaya matahari yang ada di atas kepalanya. Kirana hanya bingung karena ada sesuatu yang menjulur keluar.
Tanpa dia sadari, tangannya sudah menarik penutup itu ke bawah. Rian langsung bangun dari posisinya. Foto - foto itu berjatuhan di kaki Kirana dan sebagian lagi di lantai mobil. Satu foto terjauh di paha Kirana. Sehingga, Kirana bisa melihatnya dengan jelas.
Foto itu adalah foto - foto dirinya dengan Rian. Foto sederhana di beberapa tempat seperti jembatan, taman bermain, pekarangan rumah, balkon, dan beberapa foto pernikahan yang sangat sederhana sampai siapapun mungkin tak sadar kalau itu adalah pernikahan.
Sementara foto yang terjatuh di paha Kirana adalah foto Rian saat berdiri di belakangnya sambil memegang kepalanya seperti anak kecil. Kirana mengangkat foto itu. Dia ingat itu adalah foto setelah kurang lebih 3 mingguan mereka resmi menjadi suami istri.
Meskipun ini bukan pernikahan yang diinginkan oleh Rian, tetapi dia tidak pernah memperlakukan Kirana dengan tidak baik. Dia bersikap seperti seorang teman dan kakak. Contohnya saja seperti di foto ini.
Deg.
‘Kenapa Kak Rian masih simpan foto - foto ini? Di mobil lagi. Aku kira udah di buang.’, pikir Kirana dalam hati.
‘Ah.. kenapa aku masih simpan foto itu disana. Seharusnya aku belajar dari kejadian terakhir dengan Claudia.’, ucap Rian yang langsung panik. Tetapi tentu saja dia tidak memperlihatkannya.
“Kak Rian masih simpan foto - foto ini maksudnya apa?”, tanya Kirana polos.
Dia ingin sekali melontarkan pertanyaan yang lebih menjurus. Mungkin ini adalah kesempatan langka yang Kirana punya untuk bisa mendapatkan jawaban yang tegas dan jujur dari pria di sampingnya ini.
__ADS_1
“Gak perlu diberesin. Sudah turun sana.”, kata Rian datar.
“Kenapa masih simpan foto kita?”, tanya Kirana.
‘Bagus. Awas aja kali ini menghindar lagi.’, ucap Kirana dalam hati.
“Jangan salah paham. Aku aja gak inget kalau naruh foto itu disitu. Abis ini aku buang.”, ucap Rian masih dengan nada datar.
Kirana memberikan tatapan tidak percaya pada Rian.
‘Apa? Mo dibuang? Alesan banget.’, bathin Kirana.
Kirana akhirnya mengutip satu persatu foto itu dan mengumpulkannya di tangannya.
“Udah biarin aja. Nanti aku suruh Bibi buat beresin dan buang.”, kata Rian lagi.
Kirana langsung menoleh ke arah Rian. Emosinya terpancing kali ini. Dia sudah mengatakannya tadi dan mengatakannya lagi.
“Nih, buang aja.”, kata Kirana menyodorkan foto itu dan memukulkannya ke arah dada bidang Rian.
“Buang juga semua kata - kata yang pernah aku sebut ke Kak Rian. Kayanya aku emang halusinasi karena fatamorgana rasa yang sudah lama. Aku lupa, rasa itu kayanya sudah kadaluarsa. Makasih tumpangannya Pak Rian. Sampai ketemu di mata kuliah Fisika minggu depan.”, ucap Kirana segera turun dari mobil.
*********
“Sudah selesai acaranya? Pasti kamu capek banget. Mandi dulu, setelah itu turun untuk sarapan, ya.”, ucap mama Kirana saat mendapati putri semata wayangnya muncul di depan teras rumah.
Saat itu mama Kirana sedang menyibukkan dirinya dengan menghitung budgeting usaha yang sebentar lagi akan segera dirintisnya.
“Kirana mau langsung tidur aja, ma.”, jawab Kirana langsung menaiki tangga ke lantai atas menuju kamarnya.
“Loh, kamu gak makan dulu. Sudah jam berapa ini? Memangnya kamu sudah makan?”, tanya mamanya harus berteriak karena langkah Kirana begitu cepat.
“Udah ma. Aku mau istirahat ya ma.”, kata Kirana kemudian menutup pintu kamarnya.
Gadis itu melempar tas ranselnya begitu saja dan merebahkan tubuhnya di kasur.
“Anak itu. Baru aja pulang. Dia beneran udah makan ga sih.”, mama Kirana bertanya - tanya sendiri.
“Halo, Ghea. Iya, ini mamanya Kirana. Kirana nginep di rumah kamu ya kemarin?”, tidak ada pilihan lain untuk mamanya selain menghubungi Ghea, sahabat Kirana.
__ADS_1
“Ah..ah.. Iya tante.. Kirana nginep di rumah aku, kook. Hahaha.. “, jawab Ghea canggung.
“Maaf loh ngerepotin kamu dan keluarga. Udah sempet sarapan belum ya tadi Kirana? Soalnya di rumah ga mau makan.”, tanya mamanya dengan nada khawatir.
“Oh… udah sih tante.. Haha udah sampe di rumah ya, Kirananya?”, balas Ghea.
‘Hah… untung aja mama Kirana bilang dia udah pulang. Hampir aja gue mo boong kalo Kirana lagi makan bareng gue.’, ucap Ghea dalam hati.
“Hm.. ya sudah, kalo begitu tante tutup dulu ya. Makasih ya, Ghea.”, ucap Mama Kirana menutup ponselnya.
***********
Di mobil, Rian masih terpaku dengan tindakan Kirana tadi. Deg. Dia menyesali kata - katanya. Dia tahu dia memang ingin membatasi interaksi mereka agar Rian bisa mengetahui batasannya. Jika tidak, dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia dan Kirana jelas sudah tidak memiliki hubungan apa - apa.
Tapi, dia bertanya - tanya, apakah dia harus berbicara sebegitunya agar Kirana menjauh darinya.
“Ran, kenapa kamu sembunyiin semua surat - surat Clara? Sejak kapan kamu sembunyiin surat - surat Clara?”, tanya Rian dengan nada pelan tapi tegas pada Kirana.
“Apa sih, berlebihan banget. Aku juga gak nyembunyiin. Aku cuma simpan. Kak Rian sendiri yang gak tanya. Harusnya, jaman sekarang dia kirim pesan internet, email kek, sms kek, apa kek. Kenapa malah surat. Bagus aku tahu dan simpen.”, jawab Kirana.
Saat itu, Kirana masih gadis ABG labil berumur 17 tahun.
“Ran, aku serius tanya. Kenapa kamu sudah tahu ada surat, ga bilang? Sejak kapan kamu sembunyiin?”, tanya Rian.
“Aku gak sembunyiin. Lagian, Kak Rian kan sudah menikah. Ngapain juga masih ngurusin surat dari cewek yang cuma mau jadi orang ketiga aja? Clara? Siapa itu? Jangan - jangan mantan Kak Rian waktu di Paris, ya?”, tanya Kirana.
“Kenapa kamu gak bilang ada surat yang datang?”
“Kak Rian gak nanya.”, balasnya.
Alasan sebenarnya adalah sebelumnya Papa Rian sudah wanti - wanti untuk Kirana menjaga agar Rian tak lagi berhubungan dengan perempuan bernama Clara. Tapi, saat Rian tanya, Kirana tak memberikan keterangan sejelas itu. Menurutnya itu tidak penting.
Rian mengambil surat itu dan pergi keluar dari kamar.
“Mau kemana?”, tanya Kirana.
“Aku mau sendiri.”, ucap Rian.
“Kak Rian mau kemana? Di rumah lagi gak ada orang. Papa juga lagi di luar kota. Kak?”, panggil Kirana.
__ADS_1