Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 101 Definisi Rasa


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu. 


Kirana baru saja selesai mengerjakan tugas salah satu mata kuliah wajibnya di perpustakaan. Hari ini, tidak ada Ghea atau Raka yang menemaninya. Ghea sudah selesai kelas sejak siang tadi dan dia sedang ada acara keluarga. 


Sedangkan Raka, pria itu sudah menghilang sejak kelas pagi tadi usai. Raka seharusnya masih memiliki kelas dan lab di siang hari menjelang sore. Tapi, dia entah dimana dan absen dari kelas. 


Kirana berjalan menuju gerbang fakultas berharap bus kampus masih tersedia untuk mengantarkannya keluar dari gerbang kampus dan menunggu bus untuk pulang ke rumahnya. Kirana sudah menghabiskan uang jajannya untuk shopping bersama Ghea kemarin. Dia bertekad untuk hemat. 


“Maaf mba, sore ini busnya cuma sampai disini, ya. Saya harus kembali ke pool.”, jawab supir bus kampus. 


“Oh? Biasanya sampai jam 8 malam kok, Pak.”, tanya Kirana. 


Kebetulan, dia adalah penumpang terakhir malam itu. 


“Maaf mba. Sekarang memang sudah jam 8 malam. Saya harus putar balik dan tidak sampai ke gerbang depan.”, ucap Sopir tersebut. 


Kirana tidak bisa berdebat lagi. Sudah lama dia tidak naik bis kampus. Kirana sudah lupa rute jalannya. Biasanya dia pulang bersama Ghea atau menaiki ojek online sampai gerbang depan. 


“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya Pak.”, jawab Kirana sebelum turun dari bus. 


“Iya, mba. Maaf ya.”, balas sopir itu. 


Begitu Kirana turun, dia langsung putar balik. Kirana terpaksa harus berjalan menyusuri trotoar kampus. Butuh waktu 10 - 15 menit lagi untuk sampai ke gerbang luar kampus. Untungnya, jalanan terang dan ramai mobil - mobil yang berjalan. 

__ADS_1


Beberapa mahasiswa juga terlihat masih menaiki sepeda untuk menuju gerbang depan. Kirana mengedarkan pandangannya ke sekitar. Menikmati view kampus di malam hari mungkin bisa mengurangi penatnya menyusuri jalan. 


Tanpa sengaja, pandangan Kirana tertuju pada sebuah mobil yang berhenti di depan sebuah gedung kesekretariatan. Entah itu gedung untuk apa. Kirana tidak begitu tahu. 


‘Kak Rian?’, Kirana melihat Rian menuruni mobil itu. 


Kirana tidak mengetahui kalau itu mobil Rian karena itu bukan mobil yang biasa dia bawa ke kampus. Tadinya, muncul ide di kepala Kirana untuk meminta bantuan Rian mengantarkannya ke gerbang depan. Syukur - syukur Rian menawarkan diri untuk mengantar sampai rumah. 


Namun, Rian ternyata turun dari mobil karena ingin membuka pintu sebelahnya yakni kursi penumpang. Seorang wanita dengan rambut tergerai ke bahu muncul. Claudia! Tidak salah lagi, Kirana hafal betul wajahnya. 


Awalnya Kirana biasa saja. Tapi saat Claudia tiba - tiba memeluk Rian dan memberikan light kiss di pipinya, Kirana sontak langsung kaget. Rian juga tampak biasa saja dengan perlakuan itu. Padahal ini adalah di kampus. 


Kemudian, Claudia melambai pada Rian dan disambut oleh pria itu. Rian langsung masuk ke dalam mobil. Claudia nampak masuk menuju gedung. Pemandangan itu sukses membuat Kirana speechless. 


“Ran, 80% anak klub bilang kalau Pak Rian ada hubungan sama Claudia. Kamu masih mau teguh pada pendirianmu?”, tanya Raka saat dia sedang sibuk memasak makanan. 


“Oh? Pendirian? Pendirian apa?”, tanya Kirana berusaha untuk poker face. 


“Kamu masih suka-kan sama Rian?”, tembak Raka langsung tanpa basa - basi. 


Kirana melirik pada Raka namun tidak memberikan jawaban. 


“Aku selalu ingin bertanya. Kenapa kalian bisa bercerai. Tapi, aku pikir aku tahu jawabannya. Kamu masih berharap bisa kembali dengannya, kan? Apa dia juga berpikir hal yang sama?”, tanya Raka. 

__ADS_1


“Boleh kita bicarakan hal yang lain.”, ucap Kirana tidak nyaman dengan pembahasan ini. 


“Rian memang terlihat seperti pria baik yang bisa diandalkan. Tapi, kamu tidak tahu kehidupannya di Paris seperti apa, kan? Kamu akan jauh lebih kecewa dari ini kalau tahu seperti apa dia sebenarnya.”, ucap Raka menyunggingkan senyum tipis. 


Saking tipisnya, Kirana tidak menyadarinya. 


“Jangan bicara begitu tentangnya. Kamu tidak tahu apa - apa.”, ucap Kirana. 


‘Hn? Justru aku tahu lebih darimu, Ran. Rian adalah pria paling brengsek yang menyelimuti dirinya dengan bulu domba seolah dia adalah pria paling baik yang pernah ada di hidup kamu. Lihat saja, apakah dia masih bisa seperti itu setelah tahu apa yang akan terjadi.’


“Ran, kamu pernah menyesali sesuatu?”, Raka beralih pada pembicaraan yang lain begitu makanannya sudah selesai dan siap dihidangkan. 


“Maksud kamu?”, tanya Kirana bingung. 


“Hm.. kamu pernah merasa bersalah pada seseorang?”, tanya Raka. 


“Tidak.. Aku tidak pernah merasa begitu.”, jawab Kirana membantu Raka membawa piring yang sudah berisi bistik ke atas meja. 


“Coba pikirkan lagi.”, tanya Raka. 


“Tidak pernah. Ngapain sih ngomongin itu.”, tanya Kirana. 


‘Bukankah kamu menjawabnya terlalu cepat? Kenapa tidak berpikir dulu sebelum menjawab? Bahkan dia benar - benar tidak berpikir sama sekali.’, bathin Raka sambil menatap tajam punggung Kirana yang sedang menata makanan diatas meja.  

__ADS_1


__ADS_2