Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 87 Situasi Genting Masih Berlanjut


__ADS_3

“Ghe, mau sampai kapan disini?”, tanya Kirana pelan - pelan menyenggol Ghea yang sibuk memotong buah.


Ghea memang memotong buah - buah itu dan menaruhnya di depan meja Kirana. Tetapi percayalah, 90% buah pada akhirnya berakhir di dalam mulutnya.


Kirana hanya bisa mengelus dada. Raka dengan santainya membuka laptopnya dan mengerjakan laporan proyek penelitian Fisikanya di atas sofa. Sementara Radit sedari tadi sibuk dengan ponselnya sambil sesekali mengecek keadaan Kirana. Entah sudah ke berapa kalinya.


Setidaknya sudah satu jam mereka di sini. Dan sudah selama itulah Rian harus mendekam di dalam kamar mandi. Meskipun kamar mandi rumah sakit ini nyaman, tapi tetap saja. Tidak ada tempat duduk dan semoga saja pria itu tidak kehabisan nafas disana.


Rian bahkan tidak bisa sembarangan bergerak karena suara dari dalam toilet itu mudah bocor. Darimana dia mengetahuinya? Rian sudah mencobanya saat pertama kali datang ke ruang rawat inap Kirana.


Saat itu Rian hanya datang untuk memeriksa keadaan gadis itu sekali lagi di sore hari. Namun, Kirana tak tampak ada di kamarnya. Dia mendengar ada suara berisik dari kamar mandi karena pintu sedikit rawat inap sedikit renggang dari luar. Dari situlah Rian tahu kalau dia melakukan pergerakan sedikit saja, bisa - bisa teman - teman Kirana bisa curiga kalau sedari tadi ada orang disana.


“Ran, gue kebelet lagi nih. Kamar mandinya emang bener - benar gak bisa dipake ya?”, tanya Ghea hopeless.


“Maaf Ghe, masih rusah. Baru mau dibenerin katanya malam ini.”, bukan Kirana namanya kalau tidak bisa mengarang bebas.


“Terus kamu.. Eh maksudnya lo kalo mau ke kamar mandi gimana? Pasti repot.”, Radit menimpali.


“Ah.. haha.. Iya. Untungnya gue jarang ke toilet kok.”, balas Kirana.


“Beneran Ran? Bukan karena lo lagi nyimpen cowok di dalem, kan?”, Ghea mulai bicara sembarangan yang sebenarnya itu benar. Kirana sampai jantungan mendengar kata - kata Ghea.


“Hhaha.. Simpen cowok mana. Tuh, cowok gue bukannya lagi di sofa.”, ucap Kirana.


‘Gapapalah, lagi genting ini ngakuin Raka pacar gue.’, pikir Kirana menyesali tapi tidak ada cara lain.


“Gue coba flush dulu. Siapa tahu udah bener, Ran.”, kata Ghea berdiri dan ingin berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


“Eh.. Ghe.. ghe.. Engga.. Gak bisa. Percaya deh sama gue. Masa gue boongin lo perkara kamar mandi doang. Lagian, bukan flashnya aja. Tapi ada yang bocor. Kalo banjir gimana? Udah, jangan, pintunya juga ga bisa dibuka.”, Kirana bahkan sampai ingin turun dari tempat tidurnya karena ingin menghentikan Ghea.


“Udah.. lo ke kamar mandi yang di luar aja. Bersih kok. Sekalian balik. Udah mau sore. Jam besuknya juga udah mau abis. Yah? Tar gue diomelin dokter. Katanya gue suruh istirahat. Belom diomelin nyokap juga. Kalo gue extend kan mayan biayanya.”, ucap Kirana berusaha dengan segala cara untuk membuat teman - temannya ini segera pulang.


Raka yang sedari tadi irit bicara melirik ke arah toilet dan juga Kirana. Pria itu menyadari ada yang disembunyikan Kirana di balik selimu rumah sakitnya. Sepertinya tas. Raka tak terlalu membahasnya dengan yang lain dan juga tidak bertanya.


“Ya udah deh.. Lo cepat sembuh ya Ran. Kapan baliknya? Mau gue anter sekalian. Tenang aja. Gue bisa anter sampe rumah.”, kata Radit menawarkan.


“Eh… eh… cowoknya aja belum nawarin loh. Lo main nyamber aja Radit.”, balas Ghea yang akhirnya kembali dari depan toilet untuk mengambil tasnya. Dia akhirnya mengikuti kata - kata Kirana.


Lagipula, wajah Kirana juga terlihat sangat lelah. Mereka tidak tega untuk terus berlama - lama disana. Raka segera mengemas laptopnya dan menghampiri Kirana.


“Cepet sembuh.”, ucapnya sambil memegang bahu Kirana.


“Uuuhhhhhh.”, respon Ghea.


Sorakan Ghea barusan bisa memberikan banyak informasi untuk Rian meski dia tak bisa melihatnya secara langsung.


‘Apa - apaan sih si Raka. Tumben - tumbennya.’, ucap Kirana yang hanya bisa pasrah.


Kalau saja hanya Ghea, dia mungkin bisa langsung mendorong Raka. Tapi masalahnya, ada Radit juga disana. Dia sudah berakting sejauh ini, mana mungkin harus mengakuinya pada Radit. Bisa - bisa keluar dari jerat Raka, Kirana bisa terperangkap dalam permainan Radit.


“Da… Rana…”, Ghea menjadi yang terakhir melambaikan tangan pada Kirana kemudian menutup pintu. Tak lama setelah itu, Kirana segera turun dari tempat tidurnya sambil menyeret tiang infus yang selangnya masih merekat ditangannya.


“Kak Rian? Kak? Kakak baik - baik aja?”, tanya Kirana pelan sambil mengetuk pintu perlahan.


Rian langsung merasakan lega yang sebesar - besarnya sambil membuka pintu kamar mandi. Namun, belum sampai pintu itu terbuka lebar, tiba - tiba Radit kembali muncul di depan pintu ruang rawat inap Kirana.

__ADS_1


Alhasil, karena panik. Kirana langsung mendorong Rian pelan dan kembali menutup pintu kamar mandi tanpa sadar tangan pria itu terjepit.


“Oh maaf.”, ucap Kirana segera membuka kembali pintunya dan menutupnya lagi setelah tangan Rian sepenuhnya masuk ke dalam.


Beruntung, Radit tak melihatnya.


“Ran.. hai.. Sorry banget. Chargeran gue ketinggalan.”, ucap Radit cengengesan sambil permisi masuk untuk mencabut chargeran beserta ponselnya yang masih menggantung di salah satu colokan yang tersedia di dekat meja.


“Oh iyaa.. Bikin kaget aja.”, ucap Kirana pelan.


“Kamu mau kemana, Ran? Mau ke toilet, ya? Mau aku antar aja? Kasihan kamu jadi jauh kalau mau ke toiletnya. Gapapa, aku anterin aja, ya.”, Radit terus menawarkan meski Kirana sudah menolak dengan halus.


“Enggak - enggak kok. Aku cuma berdiri sebentar ngecek ada yang ketinggalan di dalam kamar mandi. Ga perlu, kok. Engga lagi kebelet.”, ucap Kirana.


“Gapapa Ran, ga perlu malu. Aku anter aja. Abis itu aku baru pulang.”, ucap Radit kembali menawarkan.


Kirana seperti ingin membenturkan kepalanya ke kasur melihat Radit yang tidak bisa ia tolak. Alhasil Kirana terpaksa mengikuti saran Radit agar perdebatan ini cepat berakhir.


“Abis itu kamu langsung balik, ya. Aku bisa ke kamar sendiri, kok. Gapapa”, ujar Kirana.


“Iya, iya.. Siapp.”, jawab Radit.


Rian yang lagi - lagi terjebak di dalam mendengarkan perlahan untuk memastikan apakah Radit masih berada di sekitar kamar Kirana. Saat tak terdengar lagi suara, Rian tidak serta merta langsung keluar dari sana, dia mencoba untuk menunggu sekitar beberapa menit. Saat dapat dipastikan benar - benar kosong, Rian membuka pintu toilet dan keluar dari kamar mandi sambil mengelus - elus tangannya yang tadi hampir terjepit.


“Oh.. Pak… Pak… Pak.. Rian? Kok Pak Rian ada… kok bisa.. Eh? Kok bisa keluar dari sana?”, Ghea yang melihat kemunculan Rian langsung terdiam. Tangannya menutup mulutnya karena terkejut bukan main.


Rian hanya bisa menghela nafas frustasi dan menutup matanya sekejap karena menyadari sepertinya kali ini dia masuk dalam situasi yang lebih genting. Padahal tidak ada pergerakan apapun sejak tadi. Bagaimana bisa ada Ghea tiba - tiba di dalam kamar Kirana.

__ADS_1


“Kenapa? Charger kamu ketinggalan juga?”, ucap Rian putus asa. Akhirnya hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya.


__ADS_2