
Sebelum Kirana akhirnya berakhir di rumah Rian.
“Halo..”, setelah tak ada kabar dari Kirana setelah dia menunggu cukup lama kemarin malam, Rian akhirnya menghubungi gadis itu.
Awalnya, Kirana tidak mengangkatnya sama sekali. Kirana membiarkan ponsel itu berdering sampai tiga kali sampai akhirnya mamanya datang dan bertanya. Kirana akhirnya mengangkat telepon itu agar mamanya tidak curiga.
“Hm.”, bukan respon yang normal untuk orang yang menerima telepon.
Kirana memang tidak mood untuk berbicara dengan siapapun, terutama Rian.
“Kamu dimana?”, tanya Rian to the point.
Hari ini adalah akhir pekan. Rian tahu Kirana pasti akan membutuhkan tasnya karena minggu depan ada tugas yang harus diserahkan semua mahasiswa padanya.
“Rumah.”, jawab Kirana sangat singkat.
“Kapan kamu mau ambil tas? Kemarin aku sudah menunggu tapi kamu tidak mengambilnya juga.”, jawab Rian.
“Kirim pake kurir aja atau pakai ojek online. Aku yang pesan.”, ucap Kirana baru akan menutup ponselnya.
__ADS_1
“Kamu kenapa?”, tanya Rian polos.
“Apanya yang kenapa?”, tanya Kirana singkat.
“Kamu tidak sadar kalau kamu aneh?”, tanya Rian.
“Apanya?”, tanya Kirana lagi.
“Ya, ini. Nada kamu bicara. Respon kamu.”, ucap Rian.
“Terus kamu? Siapa yang suruh kamu pergi gitu aja sementara tas aku masih di mobil? Bukannya aku bilang aku mau beli obat dulu? Tapi kamu malah main pergi gitu aja seolah tanpa rasa bersalah.”, ucap Kirana.
“Kita ketemuan sekarang.”, kata Rian segera.
“Untuk apa?”, tanya Kirana.
“Kamu gak mau tas kamu balik? Aku jemput kamu di depan perumahan. Kita juga perlu bicara.”, kata Rian tak kalah tegas.
“Untuk apa? Memangnya ada yang perlu dibicarakan antara kita? Kamu bisa kirim tas aku lewat kurir. Aku kasih alamatnya kalau kamu lupa.”, ucap Kirana masih keras kepala.
__ADS_1
“Ran, oke.. Aku minta maaf karena sudah bersikap egois malam itu. Aku minta maaf. Sekarang bisa kita ketemu di luar dan bicara?”, ucap Rian.
“Kalau mau bicara, sekarang aja via telepon.”, ucap Kirana.
“Ini bukan sesuatu yang bisa dibicarakan via telepon. Kita ketemu sekarang. Aku berangkat. Atau perlu aku hadir di depan pintu rumah kamu?”, ucap Rian memberikan sedikit gertakan.
Meski dia belum siap untuk bertemu dengan mantan mertuanya, tapi Rian juga yakin kalau Kirana juga tidak mau mamanya tahu kalau ternyata mereka satu kampus. Sebagai Dosen dan Mahasiswa tentunya.
Kirana segera menutup ponselnya. Dia membenci dirinya dan membenci Rian. Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Jam 1 di depan Minimarket dekat pos satpam.
Kira - kira begitu isi pesan yang dikirimkan oleh Rian. Kirana menghela nafasnya. Air mata lagi - lagi mengalir. Bayangan wanita yang kemarin malam dia lihat bersama dengan Rian membuat hatinya cemburu.
Dia marah untuk alasan yang sebenarnya dia tahu tapi sudah lama dia kubur. Meski menolak lupa, tapi Kirana tahu kalau dia masih menyukai pria itu. Mereka berpisah tanpa tahu perasaan masing - masing.
Wajar kalau Kirana merasa rasa yang dia pendam ini hanya sepihak dan malah semakin melukainya saja. Semakin kesini dia merasa seperti hanya dirinya yang masih peduli. Mungkin dulu Rian terpaksa menikahinya. Begitu papanya tiada, meski masalah itu tidak ada, mungkin Rian memang berencana untuk menceraikannya.
Lalu sekarang, setelah dengan susah payah dia berusaha menghindari pertemuan dengan Rian, waktu terus membuat dirinya berada di tempat yang sama. Membuatnya terus berharap dan berhalusinasi seolah - olah ada sesuatu diantara mereka.
__ADS_1
Kenapa? Kenapa tidak bisa?