Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku
Bab 50 Lembaran Masa Lalu


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan oleh Rian, Kirana menunggu pria itu di parkiran. Tempat biasa pria itu memarkirkan mobil berwarna putih miliknya diantara beberapa mobil dan motor para dosen. Sedikit mahasiswa yang akan berlalu lalang di area ini karena parkiran ini memang khusus diperuntukan hanya untuk dosen dan dekan dan jajaran pengurus saja.


Sementara untuk parkiran mahasiswa ada di area lain pada gedung yang berbeda. Fakultas Teknik tempat Kirana menimba ilmu memiliki total 8 gedung termasuk beberapa gedung serbaguna dan hall.


Gedung paling tinggi di fakultas ini memiliki total 10 lantai dengan lift. Sedangkan beberapa gedung terdiri dari 4 lantai tanpa lift. Kirana sangat senang karena tidak ada satupun kelasnya pada semester ini yang digelar pada gedung tersebut.


Semester lalu, dia cukup kenyang menaiki anak tangga itu sampai tubuhnya menurunkan 5kg di akhir semester.


Kirana terus melihat jamnya karena sudah se-sore ini pria itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal, beberapa benda berharganya ada di dalam tas itu. Berharga disini tidak harus uang, ya. Tetapi lebih ke chargeran.


Tapi, ATM Kirana juga memang ada di dalam sana berikut dengan dompet miliknya. Kirana melihat kembali jam di tangannya setiap 10 menit tetapi pria itu masih tak muncul. Lelah menunggu, akhirnya Kirana memutuskan untuk menyusulnya ke ruangannya. Siapa tahu dia tiba - tiba amnesia dan meneruskan pekerjaannya tanpa tahu ada orang yang sedang menunggunya dengan tekun di parkiran.


Selain karena dingin akibat guyuran hujan yang sudah sejak satu jam yang lalu, Kirana juga merasa seram karena semakin lama di luar semakin gelap dan parkiran semakin lama semakin sepi.

__ADS_1


Ada rasa sesal sedikit dalam hatinya karena dia tidak menyimpan nomor ponsel Rian. Alhasil, dia tidak bisa menghubungi atau sekedar mengirimkan pesan pada pria itu. Ya, Kirana terlalu gengsi untuk menanyakan nomor ponsel Rian. Padahal mahasiswa lain juga pasti punya.


Kirana berjalan menyusuri lorong gedung menuju ruangan Rian. Dejavu, dia kembali mengingat perlakuan Rian tadi dimana pria itu berusaha memperkecil jarak diantara mereka. Momen itu membuat Kirana kembali mengingat lembaran - lembaran kehidupan yang pernah ia lalui dengan Rian meski hanya beberapa bulan saja.


“Kak Rian, ini gimana caranya?”, tanya Kirana. 


“Itu kan ada contohnya, liat disana aja.”, balas Rian. 


“Gitu aja gak mau kasih tahu. Yasudah, aku mau tidur di bawah aja malam ini.”, ucap Kirana mengancam. 


“Hm.. jangan lupa tutup pintunya.”, ucap Rian datar. 


Mata Kirana membulat. Gadis yang masih berdiri di samping Rian itu tidak percaya pada apa yang dia dengar. Wajahnya bengong. 

__ADS_1


Dengan kecepatan kilat, Rian bangun dari kursinya dan menarik Kirana kemudian menciumnya lembut. Ciuman singkat tetapi membuat jantung Kirana berdegup dengan kencang seolah dia sudah berlari ratusan meter. 


“Oke, udah.. Pintunya jangan lupa ditutup ya.”. Ucap Rian kembali ke kursinya lagi. 


“Apaan banget deh…”, kata Kirana bergaya tidak terima padahal dia tersenyum saat Rian tak melihatnya. 


“Cuma bisa begitu kan sekarang? Jadi kamu tidur disini sama kamu tidur di bawah apa bedanya?”, balas Rian. 


“Ya beda dong. Kalau disini, aku sama Kak Rian jaraknya cuma 10 cm. Kalau di bawah kan jaraknya bisa 100 meter. Hm apa 200 ya. Pokoknya itu deh.”, ucap Kirana. 


“Justru kalau jarak kamu sama aku cuma 10 cm, aku ga yakin sampai kapan aku bisa bertahan untuk tidak melakukan apapun ke kamu. Jadi, silahkan segera turun dan tidur. Besok ujian sekolah kamu, kan.”, kata Rian memegang kepala Kirana dan mengucek - ucek rambutnya. 


Kirana memberikan wajah pura - pura kesalnya sebelum berbalik arah. Tidak ke kamar bawah, tetapi mengambil posisi santai di atas kasur. Rian hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya. 

__ADS_1


‘Berhasil.’, ucapnya dalam hati. 


__ADS_2