
Lama mereka berdua terdiam. Kini Rian sedang bersama Clara di sebuah food court di dalam Mall. Rian tak berniat membuka suara lebih dulu karena dirinya justru tidak mengerti apa yang terjadi.
“Aku hamil.”, Rian bersumpah lebih baik menyuruhnya diam daripada gadis itu memberikannya beberapa ledakan lagi.
“Oh?”, hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
“Aku hamil, Ian. Aku hamil.”, ucap Clara dengan wajah berkaca - kaca.
Rian masih tidak bersuara. Dia hanya diam menatap lalu lalang orang - orang yang ada di depannya. Beberapa kali ia menghela nafas. Bingung lebih tepatnya. Apa yang harus dia katakan setelah mendengar informasi itu dari Clara.
“Bagaimana bisa? Kau tidak seperti gadis yang lain, kau berbeda, bagaimana bisa?”, akhirnya hanya itu kalimat yang bisa diucapkan oleh Rian.
Sekejap dia menyesal menanyakannya karena seolah menumpahkan semua kesalahan padanya tanpa mendengar penjelasannya sama sekali.
Rian begitu terkejut hingga tak sadar dirinya melontarkan banyak pertanyaan padanya. Menghujaninya dengan label secara tidak langsung.
Rian kembali menghela nafasnya sebentar kemudian berbalik menghadap ke arah Clara. Wajahnya datar seperti biasa tetapi terlihat perhatian dari matanya. Rian memegang tangan Clara dan memberinya kekuatan.
Gadis itu mengatur nafasnya. Ia mencoba untuk menatap Rian perlahan.
Clara menceritakan semuanya dengan penuh tangis, sampai akhirnya Rian berpikir bahwa ini adalah salahnya. Rian meninggalkan Clara begitu saja waktu itu bersama seorang pria. Dia salah mengira kalau pria itu adalah teman Clara dan akan mengantarkannya pulang.
Rian benar - benar tak pernah berpikir semua akan berakhir seperti ini. Clara menangis , terus menangis, ia juga minta maaf pada Rian karena mengacaukan semuanya.
Berapa kali Rian harus mengatakan padanya untuk tidak memikirkan masalahnya. Tentu saja masalah Clara jauh lebih besar sekarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Kau harus berjanji padaku, jangan melakukan hal bodoh.”, ucap Rian setelahnya.
“Hm..”, jawab Clara singkat.
“Tapi apakah kau akan tetap kembali ke Indonesia?”, tanya Clara kembali.
“Apa boleh buat, aku harus menerima gadis kecil yang bahkan usianya belum 18 tahun menjadi istriku. Aku hanya bisa berharap kalau papa sedang bercanda dan hanya ingin aku kembali ke Indonesia! Bahkan sampai sekarang kupikir ini masih lelucon.”, kata Rian.
Setelahnya, Rian baru tersadar kalau mengatakan ini pada Clara hanya akan membuat hatinya bertambah luka saja.
Rian hanya tak bisa kembali menjabarkan kenyataan yang satunya.
Andai saja Clara tak melakukan hal bodoh tempo hari, mungkin suatu hari nanti ada masa depan cerah untuk mereka berdua. Siapa yang tahu hati seseorang, entah tahun depan mungkin Rian bisa menerimanya.
Tapi kini, Rian sudah tidak bisa membantah papanya lagi. Dia sudah menyajikan hal yang luar biasa dan memberikan alasan langsung kepada papanya. Kenapa dia harus kembali ke Indonesia dan menerima itu semua.
“Bisakah kau memelukku sekali ini saja?”, tanya Clara dengan mata yang masih basah.
“Hn. Tentu saja.”, ujar Rian memberikan pelukan hangat pada Clara.
Dia membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Beberapa orang yang lewat melirik mereka. Namun, Rian hanya bersikap biasa.
__ADS_1
Mungkin sekitar 5 menit, Clara tetap pada posisi itu sampai tangisnya mulai mereda.
Rian merasa kasihan padanya. Wajahnya sudah sangat pucat dan sayu. Matanya sembab dan dia terus sibuk menyeka tangisnya.
“Apakah kau sudah memberitahu Raka tentang ini?”, tanya Rian mengalihkan pembicaraan.
Sayangnya, topik yang dia pilih justru malah membuat Clara semakin bingung. Rian menyadarinya segera setelah dia selesai melontarkan pertanyaan itu.
“Aku tak sanggup mengabarinya. Mungkin aku akan menenangkan diriku dulu di apartemen, baru kemudian memberitahunya.”, jawab Clara lemah.
Lamat – lamat ponsel Rian berbunyi. Jelas itu dari papanya.
“Apakah itu telepon dari papamu?”, tanya Clara yang segera menyadari nama yang tertera di ponsel Rian.
“Tunggu disini, aku akan mengantarmu pulang setelah aku menemuinya.”, ucap Rian memegang bahu Clara seolah memberikan kekuatan padanya.
Rian yakin kalau Clara mengangguk saat itu sehingga dia percaya untuk meninggalkannya sebentar di cafe itu.
Rian harus segera kembali ke hotel. Dia tahu kalau papanya sudah sangat marah saat ini. Sepanjang jalan, dia hanya bisa berpikir, bagaimana dirinya harus menyelamatkan diri dari situasi ini.
“Kau ingin aku mati dengan memperkenalkan gadis seperti itu padaku?”, baru saja Rian membuka pintu, papanya sudah melemparkan barang yang ada di sekitarnya pada Rian.
Papanya memilih menggunakan bahasa Perancis dan memarahinya habis - habisan.
“Pa, aku minta maaf. Aku benar – benar tidak tahu apa – apa.”, ucap Rian memohon.
Dejavu. Kejadian ini sudah pernah terjadi beberapa kali sebelumnya. Dia memohon dan meminta maaf pada papanya.
Dia mencoba untuk mengatur nafasnya perlahan dan duduk.
“Papa, anggaplah ini di luar kendaliku. Dan ini kecelakaan. Oh? Aku juga tidak tahu.”, ucap Rian mencoba untuk lari dari kemarahan papanya malam ini.
“Apa?”, papanya yang sudah mengambil duduk kembali berdiri dengan wajah merah padam.
“Baiklah akan aku jelaskan. Aku begitu tidak mau papa menjodohkanku, apalagi dia masih kelas 3 SMA. Aku bukan pengidap fedofil, papa. Karena itu aku meminta teman Perancisku untuk berpura - pura jadi kekasihku malam ini.”, tutur Rian. Dia tidak berniat mengatakan bagian dimana Clara memang benar - benar menyukainya. .
“Kau benar - benar. Ingin menipu ayah, ha ? Kau lihat sendiri, langit berpihak pada ayah. Sudahlah jodohmu adalah dia.”
“Aku minta maaf, ayah.”, Rian menundukkan kepalanya.
Saat ini, cuma inilah cara satu - satunya agar papanya berhenti menceramahinya.
“Aku tidak mau tahu. Kau harus menikahinya begitu kembali ke Indonesia. Dan mengambil alih sekolahku. Sekolah itu kurintis dengan keringatku, jangan sampai pindah ke tangan orang lain. ”, ujar papanya sudah kehilangan kata - kata.
Dia juga tidak berniat untuk memperpanjang apa yang dia lihat saat ini.
“Terserah, yang jelas penerbangan besok sudah ku atur. Sekarang tugasmu adalah mengemasi barang – barangmu dan pulang.”, lanjut papanya kembali.
__ADS_1
“Kenapa begitu tiba – tiba? Bagaimana dengan perpustakaanku?”, jawab Rian.
Kali ini tindakan semena - mena papanya tak bisa dia tahan. Mana bisa aku pulang secepat itu. Papa membangun sekolahnya dan dirinya juga punya perpustakaan yang dia bangun dari 0.
“Aku sudah menyuruh Damar mengurusnya. Dia kan sekarang sudah di Paris.”, ucap papanya membuat Rian melongo.
“Tidak usah. Menyuruhnya, sama saja papa menghancurkan semua koleksiku. Aku akan membawa semuanya ke Indonesia.”, kata Rian sambil mengambil duduk.
Butuh waktu lama untuk keluar dari cengkraman papa. Rian harus berkali – kali meminta maaf padanya. Padahal, dia harus segera kembali ke Cafe.
Rian harus mengantar Clara pulang. Rian menuruni lift dengan terburu - buru dan setengah berlari menuju ke sebuah kafe bergaya barat di tepian Mall. Wajahnya mengeluarkan ekspresi heran karena kafe itu sudah hampir tutup. Nampak pekerja sudah berberes. Dia celingak – celinguk mencari keberadaan Clara. Bingung, Rian tak menemukannya dimanapun.
Rian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubunginya beberapa kali sampai memastikan ponsel itu diangkat.
“Clara kau dimana? Aku sudah kesini...”, ucap Rian segera setelah wanita itu mengangkat ponselnya.
Namun, belum lagi Rian menyelesaikan kalimatnya, Clara sudah memotongnya.
“Aku sudah di apartemen. Tenang saja, besok kau ke bandara kan? Tak bisakah kita bertemu sebelum itu?”, ucap Clara.
Saat itu dia terdengar biasa saja. Tak ada tangis lagi. Benar - benar seolah tidak ada yang terjadi. Setidaknya begitulah yang terdengar oleh Rian di seberang telepon.
“Maafkan aku, jangankan berpamitan denganmu, dengan teman – teman yang lain pun aku tak bisa. Penerbanganku besok pagi – pagi buta. Sampaikan salamku pada Raka, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Aku menyayangimu, kau teman yang baik. Semoga kau bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik.”, ucap Rian.
Hanya kalimat itu yang bisa dia berikan pada Clara. Mendengar Clara sepertinya baik - baik saja, kekhawatirannya hilang.
“Begitukah? Aku akan mengirimimu surat, jadi kirimi aku alamat rumahmu ya..”, ucap Clara kemudian.
“Kenapa tidak email saja?”, balas Rian.
Ritme percakapan mereka perlahan kembali seperti biasa.
“Tidak keren, kau tahu aku kan?”, ucap Clara
“Baiklah, setiba disana aku akan mengirimkan pesan.”, akhirnya Rian menyerah.
Tentu saja Rian mengenalnya. Karena kebiasaan itulah Rian yang memang sangat tertarik dengan sastra merasa nyaman berteman dengan Clara.
“Selamat malam”, balas Clara menutup ponselnya.
“Mimpi indah.”, Rian membalasnya namun sepertinya Clara sudah menutup ponselnya.
Sejak saat itu Rian sudah tak pernah bertemu dengannya lagi. Mereka berdua sudah benar – benar putus kontak. Rian bahkan belum berbaikan dengan Raka, mereka sempat berselisih paham sebelumnya dan Rian bahkan belum sempat memaafkannya. Memang terdengar sepele, tapi baginya itu adalah harga diri.
Sudah lebih sebulan Rian tinggal di Jakarta. Kembali ke rumah pikir papa. Tapi tidak pikirnya. Baginya hari – hari di Perancis jauh lebih menyenangkan. Mungkin seiring berjalannya waktu dia akan mulai terbiasa. Rian juga sudah bertemu dengan gadis itu.
Ternyata papanya berhutang banyak pada papa Rian. Jadi mereka berdua resmi dijodohkan. Ide gila papa. Dia mengancam orang hanya demi ini. Rian bahkan tak habis pikir.
__ADS_1
Gadis itu hanya anak – anak, begitu pikirnya. Dia menyuruh Rian mengantarkannya kesana dan kesini. Membeli ini dan itu. Bahkan memaksa pria itu mentraktirnya es krim dan hal - hal kecil lainnya. Rian benar – benar jadi gila karenanya.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat.