
Suasana pagi di daerah perumahan Rian memang sangat sejuk. Dataran yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain dan masih banyak pepohonan yang berada disekitarnya membuat angin sepoi - sepoi masih bisa dirasakan.
Kirana juga sepertinya memilih lokasi yang sangat tepat untuk mengisi perutnya di pagi hari. Terlepas dari banyaknya pengunjung dan sedikit chaosnya suasana di bawah, tetapi begitu Kirana menyanduk buburnya yang pertama, dia langsung tersenyum puas.
Enak. Hanya kata itu yang bisa mewakili lidahnya saat ini. Kirana langsung memasukkan beberapa sendok bubur lagi ke mulutnya sebelum melirik tipis ke arah Rian. Pria itu lagi - lagi diam. Padahal, tadi di rumah dan sepanjang jalan dia sepertinya sudah mulai melunak dan berbaur dengan Kirana. Seolah Kirana melihat Rian yang dia kenal dulu.
Teng.. Kirana meletakkan sendoknya ke mangkok Rian. Pertemuan antara sendok besi miliknya dan mangkuk kaca dari makanan yang sedang Rian makan menimbulkan bunyi. Rian akhirnya melirik ke arahnya.
“Aku mau coba.”, kata Kirana saat mata Rian sudah bertatapan dengannya.
“Punya kamu memangnya kurang?”, tanya Rian.
“Kan Kak Rian pesannya Sop bukan Bubur Ayam. Aku mau cobain sop nya.”, kata Kirana.
Rian lantas menggeser mangkuk sopnya agar lebih dekat pada Kirana, menandakan kalau dirinya sudah mempersilahkan gadis itu.
Alih - alih menggunakan sendok miliknya, Kirana justru mengambil sendok Rian dan menggunakannya. Rian terheran.
“Kamu punya sendok sendiri, kenapa pakai sendok saya.”, kata Rian.
“Kan ini sendok bekas bubur ayam. Gak bagus kalau nyemplung di kuah sop yang bening.”, ujar Kirana.
Rian langsung mengarahkan pandangannya pada kumpulan sendok yang ada di samping mereka.
“Ah.. hehe.. Aku gak liat kalo disana ada sendok.”, kata Kirana pura - pura tidak tahu.
Rian menghela nafasnya.
“Gitu banget sih. Cuma pake sendok doang.”, ucap Kirana kesal.
Siapa yang tidak kesal. Tindakan Rian barusan seperti memberikan jarak diantara mereka.
“Saya belum sembuh total. Kalau kamu tertular bagaimana? Sebentar lagi mau ujian tengah semester.”, jelas Rian.
“Ah…”, Kirana tersenyum mendengar penjelasan pria itu.
“Hem.. berarti kalau Kak Rian gak lagi sakit, bisa dong.”, kata Kirana.
“Bisa apa?”, tanya Rian bingung.
“Bisa pake sendok kak Rian jadi, sendok bekas Kak Rian, aku pake juga. Terus….”, Kirana mengucapkannya dengan nada seolah - olah sedang menggoda Rian.
“Ran, habiskan makanan kamu. Saya antar kamu pulang. Nanti mama kamu keburu nyariin.”, ucap Rian menarik kembali mangkok sopnya dan menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
Keduanya keluar dari restoran menuju mobil. Tak ada pembicaraan berkesan atau berarti setelah kata - kata Rian tadi. Kirana dengan patuh menyelesaikan sarapannya hingga ke mangkok bubur ayam kedua.
Bagaimana mau ada yang berkesan kalau setiap kali Kirana mencoba untuk mendekati Rian, pria itu mendorongnya. Seolah Kirana sudah menghidupkan lampu hijau, tetapi pria itu memadamkannya.
Rian masuk ke dalam mobilnya. Dia diam sebentar sampai Kirana berhasil naik dan duduk dengan rapi. Dia juga sudah memasang seat belt nya.
‘Ah… kenapa malah aku pasang.’, gerutu Kirana dalam hati pada dirinya.
‘Kan bisa coba minta tolong Kak Rian untuk pasangkan.’, dengus Kirana kesal pada dirinya sendiri.
Kirana melihat bingung ke samping, karena Rian masih belum memulai setirnya. Dia kira, Rian hanya sedang menunggu dia siap. Sesudah itu dia akan berangkat. Tapi beberapa menit, Rian hanya diam memegang setir mobil. Tetapi dia tidak menyalakan mesinnya.
“Kita belum mau jalan?”, tanya Kirana heran.
“Ran..”, Rian akhirnya memulai katanya dengan nafas berat.
“Aku harap kemarin bisa jadi yang terakhir. Kamu tidak perlu bersikap begitu dan aku bisa mengurus diriku sendiri. Ada dokter keluarga yang bisa aku panggil dan ada asisten rumah tangga yang membantuku.”, kata Rian menjelaskan.
“Maksud Kak Rian?”, Kirana bahkan langsung memutar tubuhnya ke samping karena bingung dengan ucapan pria itu.
Tidak, mungkin Kirana paham apa maksudnya tetapi dia berusaha untuk tidak mengerti.
“Kamu masih muda. Saya seorang dosen dan kamu adalah mahasiswa. Berada di dalam satu rumah semalaman tanpa ada ikatan apa - apa adalah keputusan buruk dan egois dari saya.”, kata Rian.
“Kita gak ngelakuin apa - apa, kan. Lagian Kak Rian juga lagi sakit. Gak usah berlebihan.”, ucap Kirana.
“Hm? Kenapa jadi lompat ngomongin Raka?”, balas Kirana.
“Dia kan pacar kamu. Apa kamu juga menginap di rumahnya dan bersikap seolah hal tersebut lumrah?”, tanya Rian.
“Ngapain juga aku nginep di rumahnya Raka. Emangnya dia siapa. Kenapa jadi ngomongin Raka, sih.”, Kirana memutar tubuhnya kembali ke posisi semula.
Rian menghela nafasnya.
“Lalu apa bedanya dengan saya?”, tanya Rian memberikan skak mat pada Kirana.
“Kak Rian, kan…”, Kirana langsung berhenti ketika dia sadar ucapannya udah kadaluarsa.
Kirana langsung menunduk.
“Lebay banget. Mulai om - om nya keluar. Orang cuma jagain doang gak ngapa - ngapain. Lebay.”, Kirana menggerutu.
“Ran, kamu itu perempuan….”
__ADS_1
“Iya, dan Kak Arya itu laki - laki. Terus?”, Rian belum menyelesaikan kalimatnya dan Kirana sudah memotongnya.
Rian baru akan membalas ucapan Kirana saat ponselnya berbunyi. Kirana bisa melihatnya dari layar yang ada di mobil Rian. ‘CLAUDIA’.
Rian melihat ke arah Kirana dan mengangkat panggilan telepon itu.
“Riaaannnnn… tahu gak sih, aku dapet referensi bagus buat project di kampus. Orangnya super terkenal dan lagi ada pameran di Indonesia. Aku daftarin kamu juga ya. Nanti kita dateng bareng.”, ucap wanita itu dari seberang telepon dengan nada riang.
Kirana langsung memasang tatapan tajam ke samping.
“Hm.. boleh.”, kata Rian singkat.
“Okay… nanti aku forward undangannya. Barengnya, pake mobil kamu aja setelah diskusi bentar di kampus. Gimana?”, ucap Claudia.
“Hm.. boleh. Thanks”, jawab Rian lagi sebelum menutup teleponnya.
“Siapa?”, tanya Kirana.
“Bukan siapa - siapa.”, balas Rian.
“Bukan siapa - siapa tapi segirang itu dan mau datang kemana tuh tadi, bareng.”, ucap Kirana.
“Claudia, anak dekan di kampus. Kita terlibat satu project bareng.”, jelas Rian.
“Pacar?”, tanya Kirana.
“Bukan.”, jawab Rian.
“Soal yang saya bicarain tadi…”, Rian melanjutkan kalimatnya.
“Gak mau dengar.”, kata Kirana keras kepala.
“Ran, kamu itu perempuan. Harus jaga diri.”, kata Rian.
“Ya kan di rumah Kak Rian. Aku juga ga begitu di tempat lain. Cuma Kak Rian doang dan catet, Kak Rian lagi sakit.”, ucap Kirana.
“Okay, next, better kamu telepon aja rumah sakit. Biar saya langsung di rawat. Solusi terbaik.”, ucap Rian.
“Kak Rian emang gak ada perasaan apa - apa ya, sama aku?”, tanya Kirana.
Rian langsung terkejut dengan pertanyaan tiba - tiba gadis itu.
“Kenapa tiba - tiba nanya itu?”, tanya Rian.
__ADS_1
“Jawab serius. Aku nelen harga diri aku untuk ngelontarin pertanyaan ini ke kakak. Aku mohon jawab serius.”, kata Kirana.
Rian lagi - menghela nafas. Dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia menjawab yang sebenarnya, lalu apa setelahnya? Kalau dia menjawab tidak. Lalu bagaimana setelahnya?