
Rian sedang duduk di kursinya sambil menikmati makanan gratis yang dibagikan oleh kampus. Selamat masa UTS berlangsung, semua dosen akan mendapatkan nasi kotak gratis. Mereka bekerja dengan sangat keras sama seperti para mahasiswa.
Mulai dari merancang soal, mengawasi pelaksanaan UTS, mengevaluasi, dan mengupload nilai ke portal web. Semua itu tidak semudah kedengarannya. Contohnya saja Rian. Pria itu mengajar beberapa kelas tingkat pertama, kemudian kelas tingkat kedua peninggalan Bu Rika, masih harus membimbing skripsi belasan mahasiswa, dan menjadi dosen S2.
Belum lagi, dengan semakin menipisnya dosen Fisika, beberapa kali dia juga harus rela menjadi dosen terbang untuk beberapa Fakultas. Rian hampir menghabiskan hidupnya di lingkungan kampus. Nasi kotak menjadi hiburan untuknya karena dia tidak perlu pusing memikirkan menu makanan apa yang dia inginkan hari ini.
“Gila lo yan, lo beneran kasih soal angka saat UTS?”, tanya salah seorang dosen Fisika bernama Bram. Dia masih satu tahun di bawah Rian dan baru saja menyelesaikan S2 nya. Masih sangat fresh.
Tapi, pria itu memang sekenanya dan menolak memanggil Rian dengan sebutan mas atau kak.
Rian tak menjawab. Tetapi dia memberikan tatapan penuh tanda tanya pada Bram.
“Di ig mahasiswa. Udah keluar storynya.”, kata Bram seolah tahu apa yang menjadi pertanyaan Rian hanya lewat tatapannya saja.
“Cepet banget tuh bocah - bocah. Memang ya mahasiswa jaman sekarang.”, komentar Risha.
Dia adalah salah satu dosen Fisika termuda setelah Rian. Dia juga sudah S3 tetapi saat ini masih menolak untuk membagi tugas dosen terbangnya. Sebenarnya bukan malas. Berbeda dengan Rian yang sangat suka di challenge oleh mahasiswa ambis, Risha justru baperan. Emosinya langsung naik ketika ada mahasiswa yang mengajukan pertanyaan hanya sekedar mengetes sejauh mana pengetahuannya.
“Dan lo follow ig mahasiswa?”, tanya Rian setelah selesai mengunyah makanannya dan menyeruput es teh manisnya.
“Lebih tepatnya mahasiswi.”, ucap Bram mengoreksi.
Rian menggeleng - geleng kepalanya.
“Eits, ini mahasiswi tercantik di tingkat Fakultas. Bahkan masuk official ig kampus juga, loh.”, kata Bram.
Kebanyakan dosen Fisika disini memang masih sangat muda - muda. Kalaupun ada dosen Fisika yang sudah berumur, biasanya mereka sudah memegang posisi di manajemen dan hanya mengajar sesekali saja.
“Hati - hati loh kamu, Bram. Kita pengajar, nanti ada yang salah mengartikan.”, ucap Pak Yoseph.
Nah, selain yang sudah memegang posisi di manajemen, ada yang namanya Pak Yoseph. Beliau sudah berumur 45 tahun. Beliau pernah ditawarkan untuk memegang salah satu posisi penting tetapi menolak. Beliau lebih senang menjadi kepala riset.
“Kalo Bapak, iya jelas disalahartikan. Sudah punya istri dan sudah sepuh. Kalo saya kan jaraknya masih deket.”, kata Bram.
__ADS_1
Komentar Bram mendapatkan lemparan sendok plastik dari Rian.
“Heh.. lain kali, akta kelahiran jangan diedit tahunnya. Jadi lupa kan lo, udah umur berapa. Dosen bangkotan masih follow ig mahasiswi.”, kata Rian blak - blakkan.
Alhasil semua yang ada di ruangan langsung tertawa lebar.
Rian menutup nasi kotaknya yang sudah habis dan hanya tersisa minyak - minyak sambel ayam bakar. Dirinya langsung menyeruput habis es teh sebelum berdiri keluar untuk ke toilet dan mencuci tangannya di wastafel.
Dia hanya mengenakan sandal jepit dengan kemeja yang sudah sedikit lusuh karena sudah setengah hari di kampus. Tak lama, Claudia muncul dari arah tangga akses menuju lantai 2, tempat ruangan Rian bersama dosen Fisika lainnya.
Karena searah dan kebetulan Rian juga baru keluar toilet, matanya langsung menangkap kehadiran Claudia. Wajahnya datar. Meski dia sudah bisa menduga untuk apa Claudia datang, Rian seolah tak menghiraukan karena mungkin saja dia datang untuk menemui papanya. Ruangan beliau tak jauh dari sana.
“Masih marah?”, tiba - tiba pertanyaan tersebut keluar dari mulut Claudia.
Rian berhenti. Dia menghela nafasnya. Bukan karena senang meladeni Claudia. Tapi, dia tidak mau orang di dalam ruangan bergosip tentangnya. Mereka punya tingkat kepo yang melebihi anak ABG.
“Mo apa kesini? Ketemu Pak Dekan?”, tanya Rian sedikit berbasa - basi sambil berharap bukan dia yang sedang dicari Claudia.
“Wanita di foto kemarin, ternyata kuliah disini?”, tanya Claudia to the point dan berani.
Rian memilih untuk tidak menggubris dan lanjut masuk ke dalam ruangan.
“Boleh bicara sebentar?”, tanya Claudia.
“Tentang?’, tanya Rian.
“Hm.. orang di foto itu?”, tanya Claudia.
“Maaf, I’m done talking, then.”, balas Rian dingin.
“Eh.. Claudia?”, sambut Bram yang memang juga pernah hadir di acara dekan.
“Oh…?”, ucap Claudia tidak mengingat siapa yang sedang menyapanya ini.
__ADS_1
“Bram…”, ucap pria itu tersenyum.
“Ah…maaf.”, kata Claudia sambil sesekali masih melirik ke arah Rian.
“Dimaafin. Memang Rian lebih gampang diingat dibanding yang lain.”, kata Bram sarkas.
“Hahahah.”, Claudia tertawa.
Sapaan Bram memberikan kesempatan pada Rian untuk menghindar dari percakapannya dengan Claudia. Pria itu masuk ke ruangan dan mengambil sajadahnya untuk menunaikan shalat.
“Ada anak dekan?”, Risha dan yang lain yang mendengar sapaan Bram yang menggema bisa mendengarnya samar - samar.
“Hn.. “, balas Rian tipis.
Tanpa Rian sadari, saat percakapan antara dirinya dan Claudia tadi, Raka juga ada di sekitar sana. Dia baru saja keluar setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing akademiknya tak berapa ruang dari sana.
‘Hm? Wanita?’, Raka bertanya - tanya.
‘Apa jangan - jangan ingatan waktu itu bukan mimpi?’, tanya Raka dalam hati.
Dia sekelebat kembali mengingat bayangan Kirana di apartemennya saat dia mabuk berat tempo hari. Dia pikir itu hanya mimpi karena belakangan dia sering berinteraksi dengan Kirana. Tapi, disisi lain, dia ingat betul kalau Rian yang membawanya. Karena saat dia belum terlalu teler, Rian nampak membelanya diantara beberapa orang yang ingin mencari ribut dan menghajarnya di klub.
‘Wanita?’, kata Raka bertanya - tanya sambil jalan menjauhi tempat itu.
‘Mungkin aku bisa tahu dengan mendekati wanita bernama Claudia itu terlebih dulu.’, pikir Raka.
“Hai Raka.. tumben ga sama Kirana?”, tanya beberapa mahasiswi yang sedang berjalan menuju lab di lantai satu.
“Lagi sama Radit loh pacarnya.”, ucap salah satunya.
Geng mereka memang terkenal paling cepat dalam mengetahui berbagai gosip. Paling nomor satu juga untuk urusan mengompori seseorang.
‘Kirana, nerima gue jelas - jelas buat jauhin Radit, kenapa sekarang malah bareng si Radit. Ah.. bukan urusan gue.’, kata Raka dalam hati sambil tersenyum pada para mahasiswi tadi.
__ADS_1
Belakangan dia mulai populer di kalangan mahasiswa satu tingkat dan juga para junior. Hal ini karena wajah blasteran dan gayanya yang tengil. Tipe yang dianggap sebagian mahasiswi menarik.
Tak sedikit juga yang mengetahui tentang dirinya yang sudah memiliki pacar. Beruntung, Kirana belum terekspos sejauh itu. Hanya rekan - rekan satu kelas mata kuliah saja yang mengetahui. Di luar itu, tidak banyak yang tahu karena mereka juga jarang jalan berdua. Kirana selalu saja dengan Ghea atau terlihat di ruang BEM dengan tim acara nya.