
“Kak Rian emang gak ada perasaan apa - apa ya, sama aku?”, tanya Kirana.
“Gak ada.”
Jawaban Rian hari itu di mobil terus - menerus terngiang di kepala Kirana. Walau bagaimanapun dia mencoba untuk menerima kata - kata pria itu, tapi Kirana tetap tidak mau mempercayainya.
‘Terus kenapa dia memperbolehkan aku untuk ke rumahnya? Memangnya dia punya kepribadian ganda? Hari ini begini, besok begitu. Aneh banget.’, gerutu Kirana kesal di dalam kamarnya.
Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Kirana sudah tidak sendu lagi. Dia justru lebih aktif dengan kekesalannya sendiri terhadap Rian.
“Ran, temen kamu tuh di bawah.”, tiba - tiba mama Kirana menghentikan lamunannya.
“Ohiya Ma.”, Kirana langsung bergegas bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri Ghea, teman kampusnya.
Hari ini mereka ada agenda untuk belajar bareng. Terima kasih untuk kunjungannya ke rumah Rian karena pada akhirnya dia bisa mendapatkan kembali laptop dan beberapa barang - barang di tas yang tertinggal di mobil pria itu.
“Ghe, duluan aja naik ke atas. Gue mau siapin snack dulu.”, teriak Kirana langsung menyambut temannya.
“Ga usah, gue dah bawa ciki - ciki, ko.”, ujar Ghea menunjukkan satu kantong plastik yang dibawanya.
“Wah.. curang lo, Ghe. Gue kan lagi diettt…”, Kirana langsung kehilangan tekadnya lagi untuk diet.
“Ya udah… sekalian gue tambahin buah dan jus ke atas. Biar ga terlalu banyak ngemil.”, kata Kirana akhirnya.
Dia paling tidak bisa melihat ciki - ciki terlebih saat tekad dietnya sedang turun - turunnya.
__ADS_1
“Gue bantuin.”, kata Ghea baru akan mendekat.
“Udah, ga usah. Langsung naik aja ke atas. Sorry ya, kamar gue rada berantakan, nih.”, kata Kirana tersenyum bangga.
Padahal satu - satunya bagian yang berantakan di kamarnya hanyalah selimutnya. Kirana sedang mengejek Ghea yang memang memiliki kamar yang berantakan setiap kali dia main kesana. Bagaimana tidak. Gadis itu suka nonton di atas kasur selama ber jam - jam bahkan berhari - hari dengan setumpuk snack yang membanjiri seisi kamarnya.
Satu - satunya yang membuat Ghea beruntung adalah fakta kalau dia punya asisten rumah tangga sementara Kirana tidak.
“Jadi, kita mau belajar apa sekarang?”, tanya Kirana.
“Kalkulus dulu. Besok ujian kalkulus sementara hari Rabu Fisika. Jadi nanti Selasa pulang ngampus, gue nginep di rumah lo lagi, ya.”, kata Ghea langsung mengeluarkan alat perang mereka untuk belajar hari ini.
“Baiklah.”, kata Kirana juga mengambil semua peralatan tempurnya di atas meja.
30 menit, satu jam, hingga dua jam lamanya mereka berkutat mengerjakan soal demi soal untuk melatih kemampuan mereka menyelesaikan permasalahan kalkulus. 5 diantara 10 soal yang coba mereka kerjakan gagal. Mereka tidak mendapatkan jawaban yang menurut mereka benar.
“Masih mending kalkulus, Ghe. Bapaknya ga pernah ngasih soal yang ga ada angkanya.”, kata Kirana menyindir seorang dosen paling killer di kampusnya.
“Apa gue perlu belajar buat Fisika, Ran? Kayanya kaya gimanapun gue belajar buat kuis setiap minggu, tetep aja gue ga pernah berhasil jawab soal. Buat apa coba gue datang lebih awal. Mending gue ga usah dateng aja sekalian. Dateng ga dateng kayanya otak gue disana - sana aja.”, kata Ghea mengeluh.
“Bisa kok, Ghe. Bisa.. Kita bisa kok, Fisika.”, kata Kirana menyemangati temannya.
“Coba aja, Pak Rian itu sepupu gue. Pasti udah gue booking dia buat belajar Fisika.”, celetuk Ghea.
“Enak aja main booking - booking.”, jawab Kirana refleks.
__ADS_1
“Jujur deh sama gue. Lo ngerasa Pak Rian itu ganteng banget, kan?”, ucap Ghea tiba - tiba mengajukan pertanyaan random.
“Idih.. random banget tiba - tiba ngomongin itu.”, kata Kirana berpura - pura melihat buku catatannya.
“Beneran. Jawab gue deh. Iya kan?”, kata Ghea.
“Yah.. standar lah.”, balas Kirana.
“Tapi, sayangnya doi ganteng - ganteng killer. Liat mukanya adem.. Giliran liat soal ujian yang dia bikin langsung panas otak gue. Bisa ga sih tu dosen didinginin dulu di kulkas. Biar soal - soal yang keluar tuh ada penyelesaiannya semua.”, Ghea terus saja nyerocos tanpa henti.
“Mo bikin es teh kali di dinginin. Lagian tuh orang udah dingin. Napa di dinginin lagi?”, ucap Kirana.
Ghea hanya memberikan ekspresi koplaknya sambil menyeruput jus yang sudah disiapkan Kirana.
“Eh.. gue mo tanya deh, Ghe. Kan lo lebih pengalaman soal percintaan dari film dan drama - drama yang lo tonton itu. Sama lo juga kan baru aja putus dari pacar lo. Menurut lo, kenapa cowok nolak cewek?”, tanya Kirana polos.
“Hah? Pertanyaan apaan tuh. Ya, jelas aja karena tuh cowok ga suka sama ceweknya. Lo abis ditolak, ya? Bukannya lo masih pura - pura pacaran sama si Raka?”, tanya Ghea bingung.
“Bukan gue. Temen gue.”, ungkap Kirana.
“Temen mana? Bukannya satu - satunya temen lo itu cuma gue.”, balas Ghea.
“Dengerin gue. Tapi, si cowonya itu kaya ngasih green flag ke cewenya. Misalnya nih, boleh dateng ke rumahnya. Terus kadang kaya perhatian, kalo ke temu di jalan, ditawarin naik mobilnya. Apa coba kalo bukan dia sebenernya suka, tapi gengsi aja?”, ucap Kirana menunggu jawaban dari Ghea.
“Hm…dia baik sama lo, tapi pas lo nembak, dia malah nolak?”, tanya Ghea.
__ADS_1
“Bukan gue… inget…”, protes Kirana cepat.
“Iyaaa…. Berarti lo aja yang ke-PD-an.. Hahahahaha”, tawa Ghea langsung pecah.