Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Pembalasan Dendam


__ADS_3

Livia menghela napas lega. Dia memang tidak berhasil meninggalkan pertemuan alumni dengan kesan yang baik, tetapi setidaknya melalui kejadian hari ini tidak akan ada yang berani memperlakukannya dengan buruk lagi. Dia cukup bangga pada dirinya, karena tidak kabur atau menangis seperti tahun lalu.


Setelah mengatakan pada dunia bagaimana dia diperlakukan, Eric diusir dari restoran. Berkat pengusiran itu, acara pertemuan alumni dapat dilangsungkan dengan menyenangkan. Bahkan, Livia yang dulunya hidup sebagai pesuruh di sekolah bisa menikmati waktu bertukar nomor dengan teman-temannya.


"Sepertinya aku dapat tidur nyenyak hari ini," ucap Livia.


"Kau pikir akan semudah itu?"


Livia menolehkan kepala, mendapati Eric yang ternyata menunggunya di luar restoran. Setelah kejadian tadi, kepercayaan dirinya kembali sehingga berani menghiraukan keberadaan Eric.


Awalnya, Livia biasa saja ketika Eric mengikuti namun semua itu berubah menjadi sesuatu yang mengerikan saat dirinya tetap diikuti, sekali pun harus menaiki bus.


Sesaat bus berhenti, Livia turun lebih dulu dari penumpang lainnya. Dia mempercepat langkah, mencoba menghiraukan suara seperti berlari pula di belakang. Dia hanya perlu sampai di rumah lebih dulu, lalu mengunci pintu dan jendela agar Eric tidak dapat menangkapnya.


"Berhenti, Livia! Aku tidak akan membiarkanmu lolos, karena kau sudah membuatku malu di depan banyak orang!"

__ADS_1


Livia yang sudah berlari cukup jauh pun melihat ke belakang, tidak menemukan Eric lagi. Dia memperlambat langkah dan mencoba untuk menenangkan diri. Tetapi alangkah terkejutnya dia melihat Eric sudah berada di depan mata, langsung membuat dia mundur hingga terjatuh oleh ketidakseimbangan.


"Jangan mendekat! Aku akan berteriak kalau kau mendekat!"


"Teriak saja sampai suaramu habis, karena sebelum mereka bisa membantu, kau sudah tidak bisa ditemukan."


Eric tertawa puas, tetapi itu adalah akhir dari segalanya. Dia rebah ketika seseorang memukul kepalanya dari belakang, menampakkan siapa yang ada di sana selain mereka berdua.


"Anda baik-baik saja?" tanya Kelvan, membantu Livia untuk berdiri.


"Bagaimana Anda bisa berakhir dikejar oleh seseorang?"


Livia melihat Eric yang kini terbaring pingsan, lalu berkata, "Dia adalah teman semasa sekolah. Kami berada di acara alumni tadi dan suatu kejadian membuat saya diikuti."


"Kalau begitu, seharusnya kita melaporkannya."

__ADS_1


"Setelah Anda membuatnya pingsan, saya rasa dia tidak akan berani lagi muncul lagi ke kehidupan saya."


Livia memperhatikan penampilan Kelvan. Pria itu mengenakan pakaian kasual, sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kelvan pasti ingin membicarakan hal yang sangat penting sampai keluar rumah dengan pakaian seperti itu, terlebih mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa Anda bisa ada di sini?"


"Saya sudah menghubungi Anda, tapi tidak kunjung mendapatkan kabar. Jadi, saya memutuskan untuk datang ke rumah Anda secara langsung."


"Ah, sepertinya saya terlalu asyik mengobrol sampai tidak memperhatikan ponsel."


"Saya tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat, mengingat kejadian buruk baru saja menimpa Anda. Tapi lebih baik kalau saya memberitahukannya. Ini mengenai Nea, dia belum pernah pergi sampai larut malam. Saya tidak bisa menghubunginya dan berpikir kalau Anda memiliki informasi tentang keberadaannya."


Saat mendengar itu, Livia berubah khawatir raut wajahnya. Dia mengambil ponselnya untuk mencoba menghubungi. Pada saat itu pula, dia melihat sebuah pesan yang berisi petunjuk mengenai ada di mana keberadaan Nea sekarang.


__ADS_1


__ADS_2