
Livia baru saja membuka mata, melihat Kelvan berbaring di sampingnya sambil tersenyum. Perhatiannya saat ini bukan hanya pada orangnya, tetapi pada penampilan.
"Selamat pagi, Istriku. Bagaimana keadaanmu?"
"Kau ... akan ke mana dengan pakaian itu?"
Kelvan langsung menatap dirinya sendiri. "Oh, pakaian ini? Aku pergi berolahraga tadi."
"Olahraga? Dalam keadaan kita menguras tenaga sebelumnya?"
Livia tersipu malu akan kata-katanya sendiri, tetapi terlambat untuk bersembunyi, karena dia telah mengucapkannya dengan sangat jelas.
"Aku bahkan begitu bersemangat. Tenagaku seakan dipulihkan setelah menguras tenaga denganmu." Kelvan tersenyum jahil. "Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Kau sudah tak apa?"
Livia menganggukkan kepala dengan malu-malu. "Ini adalah pengalaman pertamaku. Maaf, jika sikapku membebanimu tadi malam."
"Aku tidak menganggapnya sebagai beban. Bukan hanya dirimu, aku pun yang sudah lama tidak melakukannya berpikir kalau perlakuanku tidak cukup memuaskan."
"Tidak! Itu sangat memuaskan!"
Kali ini ucapan Livia lebih lantang, membuat mukanya bertambah merah warnanya. Dia menutupi setengah wajah dengan selimut, sangat malu pada Kelvan yang mungkin menganggapnya sebagai wanita liar.
Pada kenyataannya, Kelvan tertawa lebar. Dia tidak tahu kalau Livia akan begitu lucu pagi ini dan membuatnya berdebar-debar.
__ADS_1
"Kau tidak seharusnya menertawakanku."
"Oh, maaf."
Kelvan bergerak memeluk sang istri. Dia mengecup dahi wanita itu dengan lembut. "Apa yang harus aku lakukan padamu? Sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta."
Livia mendongakkan kepala. "Aku mendengarnya tadi malam."
Kelvan mengerutkan dahi, tidak mengerti sepenuhnya hingga membuat dia akhirnya bertanya, "Mendengarkan apa?"
"Perasaanmu. Kau berterima kasih padaku akan waktu yang kita lalui dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Aku mendengarnya, tapi tidak bisa menanggapinya, karena harus menata perasaanku yang campur aduk."
"Aku berpikir kalau kau setengah sadar pada saat itu dan tidak akan mengingatnya."
Kelvan tentunya terkejut akan pernyataan dan ciuman yang begitu tiba-tiba. Dia menahan pipinya dengan tangan. Jika dia tidak melakukan itu, mungkin pipinya akan mengembang. Livia begitu manis menurutnya sekarang dan membuat dia semakin berdebar.
Bagaimana dia bisa meragukan hubungan mereka di saat Livia sudah membuatnya mabuk seperti ini? Ternyata dia benar-benar sudah jatuh.
"Bagaimana jika kita pergi berkencan hari ini?" tanya Kelvan.
"Bukankah kau harus bekerja?"
"Aku sudah membuat acara bulan madu kita batal, setidaknya aku masih bisa membawamu pergi berkencan."
__ADS_1
"Jika tidak mengganggu jalannya pekerjaanmu, maka aku bersedia."
Kelvan tersenyum, membawa tangannya menangkup kedua pipi sang istri. "Tapi sebelum itu, kita akan beristirahat sebentar." Dia membuat bibir mereka menempel untuk waktu lama, lalu melepaskannya.
Livia masih membelalak saat mereka berpandangan kembali, apalagi pinggangnya yang didorong lebih dekat. "Apa maksudmu dengan beristirahat? I—ini bukanlah istirahat jika kau terus menyentuhku."
"Siapa yang mengatakan kalau kita benar-benar akan beristirahat? Kau harus membayar, karena telah mencuri ciuman dariku."
Livia mendorong suaminya dan dia geli ketika Kelvan mencoba untuk menciumnya kembali. "Kau sangat licik, Kelvan! Duda beranak satu yang licik!"
Livia berusaha lepas, tetapi dirinya dipeluk kembali. Kejadian pagi itu membuat dia tertawa, begitu pula dengan Kelvan.
Mereka saling berpandangan juga pada akhirnya. Napas yang belum stabil akibat pertengkaran kecil tadi menjadi dorongan bagi mereka untuk merasakan sesak, sangat menginginkan pernyataan cinta sekali lagi.
Livia menyentuhkan tangannya di pipi Kelvan, beralih melingkari leher sang suami. Sementara Kelvan mengambil peran untuk membuat mereka menjadi lebih dekat, menangkup pipi Livia dan menciumi bibir istrinya dengan mesra. Perlahan tangan Kelvan pindah ke punggung Livia, menahannya agar ciuman mereka yang semakin dalam tidak tergoyahkan.
...***...
...Hmmm, hubungan pernikahan Kelvan dan Livia masih adem ayem. Kira-kira Renko akan masukkan konflik apa, ya? Ada yang bisa tebak?...
...Jangan lupa dukung karya ini demi kelangsungan hidup DBS XD...
...Terima kasih banyak~...
__ADS_1