Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Istri Pertama


__ADS_3

Nea sangat yakin dengan perkataannya mengenai tidak akan terganggu dengan kemesraan ayahnya dan Livia, akan tetapi bukan berarti ditunjukkan secara terang-terangan seperti makan disuapi. Apalagi dalam keadaan dirinya masih seorang jomlo yang ditolak perasaannya.


"Aku sudah lama ingin melakukan ini, tapi Nea butuh waktu agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Jadi, aku memilih untuk menahannya," ucap Kelvan.


Tiga orang menempati satu meja bundar dengan suasana yang begitu romantis. Nea merasa kalau kehadirannya seperti dipaksakan di sana, mengingat di restoran itu hanya dipenuhi oleh pasangan kekasih.


Nea semakin tidak terima saat ayahnya menggenggam tangan Livia di atas meja. Dia tidak membencinya. Hanya saja ... maksud dari 'seratus persen' bukan pula berarti harus diperlihatkan secara sengaja! Di mana perasaan calon suami istri ini?


Nea mengembuskan napas panjang. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu berkata, "Aku tidak akan mengganggu makan malam romantis kalian."


"Oh, Nea, apa kau akan pergi? Makan malam ini juga untuk dirimu," ucap Kelvan.


"Ayah sudah kehilangan insting seorang lelaki? Makan malam romantis seharusnya hanya dinikmati oleh pasangan kekasih, bukan membawa anaknya untuk turut serta. Nikmati saja makan malam ini dengan bahagia. Aku akan menunggu di luar."


"Nea, apa kau marah?"


"Tidak, Ayah. Aku tidak marah."


"Lalu, kenapa bersikap seperti itu?"

__ADS_1


"Oh, ya, ampun! Aku tidak marah sama sekali. Bu Livia, tolong beri pengertian pada ayahku kalau semuanya baik-baik saja."


Livia tidak menjawab, justru merasa tidak enak sampai genggaman tangan mereka di atas meja berpisah dengan enggan. Nea yang melihat reaksi dua orang itu pun membuat kedua tangan mereka kembali saling bergenggaman.


"Kalian bukan anak kecil lagi. Aku tahu kalau kalian sangat ingin menghabiskan waktu berdua. Jangan khawatirkan apa pun soal putri kalian, karena aku pun memahami. Maka dari itu, pastikan kalian benar-benar menikmati makan malam ini dengan bahagia. Kalau tidak, aku akan kabur dari rumah. Ok?"


"Ok," ucap Livia dan Kelvan serempak.


"Bagus."


Nea membalikkan badan, mengembuskan napas panjang, dan beranjak keluar dari restoran. Kelvan dan Livia sendiri ragu dengan putri mereka, apakah tidak apa-apa jika mereka membiarkan Nea pergi begitu saja?


Livia sebenarnya tidak tahu pasti akan jawabannya, tetapi seperti yang dikatakan kalau mereka harus menikmati makan malam dengan bahagia.


"Menurutmu, apa Nea orang yang mudah terguncang hatinya?"


"Tidak."


"Kalau begitu, kita harus menikmati sisa-sisa waktu sebagai pasangan kekasih."

__ADS_1


Kelvan melepaskan pandangan dari punggung sang putri, melihat ke arah Livia. Mereka memang harus menikmati makan malam dengan bahagia seperti yang dikatakan Nea.


"Ngomong-ngomong, pernikahan kita akan dilangsungkan sebentar lagi. Aku cukup berdebar menantikannya."


Livia tertawa kecil. "Apa kau orangnya begitu terus terang? Kau terdengar seperti lelaki polos yang masih perlu mencerna perasaan dengan baik."


"Aku? Terdengar seperti itu? Haruskah aku senang atau tidak dengan pujianmu?"


"Ini bukan pujian. Aku hanya berpikir kalau kau tidak berpengalaman dengan seorang wanita, padahal sudah pernah menikah."


Kelvan bersandar seraya melipatkan tangan di dada, lalu menyeringai. "Oh, ya? Lalu, kau sudah berpengalaman dengan seorang pria sampai bisa menilaiku?"


Livia memasang tampang berpikir. "Hmmm, apa enam orang mantan kekasih sudah cukup untuk menunjukkan pengalamanku?"


"E—enam?! Bahkan, aku hanya punya satu seumur hidup. Aku tidak tahu apa wanita itu juga dihitung, karena Nea tidak setuju dengan hubungan kami."


"Istrimu adalah yang pertama?"


Kelvan menganggukkan kepala. "Kami memiliki kenangan manis ketika bersama. Aku sangat mencintainya. Dia yang pergi meninggalkanku untuk selamanya membuatku sangat gila dan rasanya sulit menjalani hidup tanpanya."

__ADS_1



__ADS_2