Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Malam Kedua Pernikahan


__ADS_3

Kamar pengantin baru dihiasi oleh suara erangan tertahan. Setelah meluruskan kesalahpahaman, Livia dan Kelvan meyakinkan diri untuk melakukan malam pertama hari ini. Penat tidak lagi menjadi alasan jika hasrat sudah berbicara.


"Kelvan ...."


Livia memegang kedua bahu suaminya dengan erat saat dirinya tidak bisa menahan ciuman yang terus mendorongnya. Sementara tangan Kelvan lambat-lambat membuka kancing baju istrinya satu persatu hingga piama bergaya kemeja itu dapat diturunkan.


Baru saja mereka akan melanjutkan percintaan, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari luar kamar. Meskipun sangat disayangkan, akan tetapi Kelvan tetap beranjak untuk melihat keadaan. Livia sendiri mengancingkan pakaian kembali sebelum menyusul pula.


Kelvan menyalakan lampu, mendapati Nea dan beberapa orang temannya berusaha untuk bersembunyi. Sayangnya, keberadaan mereka telah tampak dan membuat situasi menjadi rumit.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kelvan, tentunya tidak dengan nada yang lembut, karena saat ini dia tidak senang dengan dua hal, pertama waktunya diusik dan kedua Nea pulang larut malam bersama teman-teman berandalnya.


Salah satu dari mereka adalah Tania, tercengang dan membelalakkan mata. "Waw, lihatlah otot perut itu! Aku bersumpah kalau milih ayahmu adalah paling terbaik yang pernah aku lihat!"

__ADS_1


Kelvan baru sadar kalau dia keluar kamar dengan menggunakan jubah mandi. Berkat percintaannya dengan Livia tadi, bagian atas jubah begitu berantakan hingga memperlihatkan setengah dari tubuhnya.


Livia langsung menghalangi pandangan mata anak-anak itu, memperbaiki jubah mandi dengan cepat sebelum Kelvan dapat melakukannya. Livia harus melindungi aset berharganya dari pandangan mata yang menginginkan sesuatu yang liar, apalagi dia saja belum pernah menyentuhnya dan memperhatikannya.


Nea menutup mulut dengan tercengang. Dia bisa menilai situasi dengan jelas, pakaian ayahnya yang berantakan, bibir orangtuanya yang merah. Apakah tadi kedua orang itu sedang melakukan percintaan sebelum memergoki mereka? Jadi, sebentar lagi dia akan memiliki adik?!


Nea tiba-tiba berlutut, menundukkan kepala begitu dalam. "Maafkan putri kalian yang nakal ini. Kehadiran kami tengah malam begini pastilah sebuah kesalahan besar. Ayahku, Ibuku, tidak seharusnya kami mengusik waktu berharga kalian. Putri kalian sangat menyesal dan mohon berilah pengampunan." Dia berkata dengan sungguh-sungguh. Melihat teman yang lain tidak melakukan apa pun, dia memukul kaki mereka semua.


Kelvan mengembuskan napas panjang. Dia ingin meminta penjelasan atas kenakalan mereka semua, tetapi melihat situasinya juga tidak memungkinkan. Sekarang sudah begitu malam untuk mereka semua yang perlu beristirahat.


"Kalian dimaafkan kali ini, tapi ingat untuk tidak pulang malam lagi."


"Kami mengerti, Ayahanda." Anak-anak itu berucap serempak.

__ADS_1


"Sekarang masuklah ke kamar kalian."


Anak-anak itu bangkit dengan hati-hati, menundukkan kepala dengan hormat. "Selamat beristirahat, Ayahanda Kelvan dan Ibunda Livia."


"Semoga waktu kalian berlalu begitu indah." Nea menambahkan.


Kalimat Nea mengudang kerut di dahi kedua orangtuanya. Livia dan Kelvan pun membiarkan semua anak-anak itu pergi masuk ke kamar.


"Nea masih berteman dengan semut besar itu, padahal sebelumnya mereka tidak memiliki pertemanan yang baik," gumam Kelvan.


Kini tinggal pasangan yang masih berdebar. Mereka tiba-tiba saja menatap satu sama lain dalam keadaan membingungkan. Apa yang mereka pikirkan sekarang sama, apakah mereka akan melanjutkan percintaan yang sempat terhenti atau melakukannya lain kali saja?


__ADS_1


__ADS_2