Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Jennifer melambaikan tangan ketika melihat sosok Kelvan seperti sedang mencari-cari di ruang pesta. Mereka bertemu juga pada akhirnya untuk bicara setelah sekian lama, sesuatu yang belum siap dilakukan bagi mereka sebelumnya.


"Mister Kelvan sudah datang. Aku akan pergi dari acara ini sekarang, karena memiliki keperluan di rumah," ucap Ivon.


"Terima kasih sudah membawaku ke mari, Ivon."


Pelukan menjadi penanda akan perpisahan, tinggal Kelvan dan Jennifer saja di sana. Mereka beranjak ke sisi yang jauh dari acara agar dapat berbicara dengan nyaman.


Untuk mencairkan suasana, Jennifer mendorong gelasnya menyentuh gelas Kelvan. Mereka saling bertatapan kemudian, membuat dia tersenyum. "Ada baiknya kita bersulang untuk kesuksesanmu terlebih dahulu."


Mereka pun sama-sama meneguk minuman. Jennifer bersandar membelakangi pagar beranda, sedangkan Kelvan masih menatap lurus ke depan sana dengan sikap tegapnya.


"Kau menikah tanpa pemberitahuan. Itu membuatku kecewa, karena mendengarnya justru dari Ivon."


"Ah, itu ...."

__ADS_1


"Padahal, di antara kita masih ada hal yang harus diselesaikan. Aku berpikir kalau kita sama-sama membutuhkan waktu. Jadi, aku memilih untuk menjauh darimu."


"Sudah cukup lama sejak kau mengatakannya. Dan aku merasa kalau kita benar-benar sudah putus, karena kau selalu menghindar dan tidak lagi ingin bertemu denganku. Pada saat itu, aku berpikir kalau kau sudah menyerah padaku dan Nea. Aku tidak ingin memaksamu, jadi berpikir mengakhirinya. Sangat disayangkan, bahwa hubungan kita yang diawali baik-baik harus hancur begitu saja."


Jennifer mengangguk pelan. "Aku bisa katakan kalau semuanya adalah kesalahanku. Andai aku lebih bisa mengkomunikasikan masalah kita dengan baik, pasti kita tidak akan menjadi seperti sekarang."


"Tidak. Ini juga merupakan kesalahanku. Aku menyerah terlalu cepat. Kalau saja aku bisa mempertahankan hubungan kita sedikit lagi, mungkin kita tidak akan menjadi seperti sekarang."


Jennifer menatap kedua bola mata pria yang pernah menempati relung hatinya dengan lekat. "Boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Aku sangat merindukanmu. Sangat menyakitkan ketika diriku harus menghindari pertemuan kita. Perkataanku tentang perasaanku juga tidak main-main, bahkan sampai detik ini di mana aku tahu kalau kau sudah memiliki istri. Aku juga cemburu pada Livia, karena dia memiliki apa yang aku miliki dulu, tetapi tidak aku miliki lagi sekarang."


"Jennifer ...."


Kelvan terkejut mendengar pengakuan itu. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jika kata-kata barusan diucapkan di masa lalu, mungkin dia akan sangat senang, tetapi nyatanya sekarang sudah jauh berbeda. Dia sudah memiliki seorang istri di dalam hidupnya.

__ADS_1


"Perasaanku padamu sangat tulus. Kita juga sudah memikirkan untuk hidup bersama, sayangnya membutuhkan waktu cukup lama meyakinkan Nea. Aku memilih tidak lagi melihat ke arah masa lalu, karena akan ada banyak penyesalan jika terus mengingatnya."


"Aku mengerti. Itu adalah peringatan untukku yang berniat ingin merebutmu." Jennifer tersenyum jahil. "Tenang saja. Merusak rumah tangga orang bukanlah pekerjaanku. Meskipun suamiku dulunya berselingkuh, tidak membuatku menjadi orang yang berprilaku sama. Aku belajar dari kesalahanku saat berumah tangga dan bersamamu hanya ada niat untuk bahagia."


Jennifer membalikkan badan, tidak lagi bersandar. Dia melihat ke langit gelap seraya mengembuskan napas lega. "Aku menyia-nyiakan orang yang aku cintai lagi. Semua terjadi atas diriku. Setelah ini, aku harus lebih membenahi diri agar tidak lagi dikecewakan."


"Maafkan aku, Jenn."


Jennifer menolehkan kepala. Dia memukul lengan Kelvan hingga pria itu sedikit bergeser dari posisi. "Mari kita lupakan masa lalu. Sekarang ceritakan padaku bagaimana kalian bisa bertemu. Apa Nea sangat menyukai Livia lebih dariku sampai kalian bisa menikah?"


...***...


...Siapa yang sudah berpikir buruk pada Jennifer? Ayok, coba angkat tangan biar didata satu persatu. Nanti malam Renko kirimin nyamuk ke rumah ( ͡ಠ ʖ̯ ͡ಠ)...


__ADS_1


__ADS_2