
Hari semakin malam, hujan baru saja berhenti tidak lama pesta mi selesai. Tetapi mereka memutuskan untuk tidak pulang malam itu demi keselamatan, di samping mempertimbangkan kondisi jalan yang mungkin akan menyulitkan nantinya. Kini Livia menyelesaikan urusannya di dapur, membersihkan mangkuk-mangkuk yang mereka pakai.
Melihat seseorang muncul membuat Livia menoleh, mendapati Kelvan datang sambil sesekali menyeruput minuman hangat yang dibuatnya. Mereka saling melemparkan senyuman seolah benar-benar menikmati waktu malam itu.
"Apa Nea sudah tidur?"
"Sudah. Dia tidur di kamar Anda."
"Kenzi?"
"Dia tidur di lantai sekarang."
"Oh, saya harus memberikan selimut dan bantal untuknya."
Gerakan yang ingin pergi itu membuat Kelvan menahannya. "Biar saya saja. Di mana Anda meletakkan selimut dan juga bantalnya?"
"Ah, apa Anda yakin? Saya rasa akan sulit bagi Anda menemukannya. Biar saya saja," ucap Livia, kemudian pergi menuju kamar.
Kelvan hanya melihat, bagaimana Livia tidak lama kemudian keluar dari kamar dengan membawa bantal serta selimut. Livia tidak membangunkan Kenzi, dengan kata lain akan membaringkan kepala anak itu di bantal dan juga menyelimuti.
Kenapa dia yang gerah jadinya?
__ADS_1
Mengingat bagaimana Kenzi membohonginya agar dia merasa tidak senang, dia berpikir harus lebih berhati-hati dengan anak itu.
Dia seharusnya tidak merasa begini, bukan?
Terlebih pada anak remaja.
"L—livia, bukankah lebih baik saya saja yang membantunya?"
Livia mendongakkan kepala. Dia tidak begitu mengerti, tetapi jika Kelvan ingin membantu, maka dia juga tidak mempermasalahkan. Jadi, dia menyerahkan urusan pada Kenzi.
Livia pun pergi melihat keadaan neneknya yang sudah tidur pula. Mungkin, karena jarang memiliki tamu membuat neneknya keras kepala untuk ikut serta. Namun, untuk orang seperti itu dia juga harus lebih keras kepala agar didengarkan, kalau tidak kondisi kesehatan sang nenek yang akan terganggu.
Suara jangkrik terdengar jelas di kesunyian. Kelvan menyeruput minuman kembali, sedangkan Livia yang baru selesai dengan urusan berberes-beres akhirnya bisa mendudukkan diri.
"Ah, saya mengingatnya."
"Anda tiba-tiba menjadi orang yang banyak bicara, tapi keesokan hari berubah menjadi orang yang berbeda. Saya cukup kebingungan bagaimana menghadapi Anda dan juga perasaan saya."
"Sebenarnya, saya lepas kendali waktu itu sampai membuka diri pada Anda. Tidak tahu apa yang membuat saya begitu, mungkin saja karena saya nyaman di dekat Anda? Tapi saya belum yakin dengan perasaan sendiri sehingga perlu memastikannya. Anda juga adalah guru privat Nea. Saya tidak ingin membuat Anda tidak nyaman dengan perasaan yang saya punya."
"Saya cukup sedih saat Anda tidak menahan saya untuk tetap tinggal menjadi guru privat Nea, justru membiarkan saya pergi begitu saja."
__ADS_1
Kelvan merasakan sisa kesedihan yang terpancar dari mata Livia. Dia cukup menyesal, karena tidak mengungkapkan perasaannya lebih awal.
"Tapi semua sudah berlalu. Saya sudah sangat senang dengan keadaan kita yang sekarang." Livia tersenyum.
Kelvan diam untuk waktu lama, hanya memperhatikan wanita yang duduk di sampingnya ini. Dia menyingkirkan uraian rambut yang menyentuh pipi Livia perlahan, lalu menipiskan bibir.
"Bisakah kita menghilangkan batasan itu mulai dari sekarang?" tanya Kelvan.
"Seperti?"
"Seperti cara kita memanggil satu sama lain. Kita terlalu kaku untuk ukuran pasangan yang sudah sama-sama dewasa."
"Apa saya boleh memanggil nama Anda?"
"Hmmm, tentu saja. Kita bisa berbicara dengan santai."
"Kel—van."
Kelvan menghirup napas dalam-dalam, mengembusnya dengan cepat. Dia ingin menenangkan gejolak di dadanya. Sekarang bukan saatnya untuk mereka melakukan sentuhan fisik, karena dia tahu kalau Livia yang belum menikah ini masih perlu mengenal pasangannya lebih dalam.
Kelvan, seorang duda beranak satu dengan hasrat prianya yang sudah ditahan begitu lama, ingin berteriak pada semesta.
__ADS_1
"Bolehkah saya mencium Anda?" tanya Livia.