
Kelvan menahan tangannya di pintu, tepat ketika kamar kembali tertutup. Dia menatap Livia yang mendongakkan kepala. Setelah dipikir-pikir kembali, rasanya dia tidak ingin kehilangan waktu kebersamaan mereka malam ini.
"Aku sudah lama tidak melakukannya," ucap Kelvan. "Mungkin, akan sedikit kaku, tapi akan aku lakukan yang terbaik untuk pengalaman pertamamu ini."
"Sama sekali tidak lagi melakukannya?"
Kelvan menipiskan bibir. "Memangnya?"
Livia mengerutkan dahi. "Beberapa temanku yang sudah menikah berkata kalau menahan diri adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Aku hanya penasaran bagaimana kau mengatasi itu semua setelah istrimu tiada."
"Pilihan apa yang aku punya selain menahan diri?"
"Kau berkata kalau pernah dekat dengan seorang wanita, tapi Nea tidak setuju dengannya."
Kelvan tersentak, tidak mengira jika Livia akan membahas tentang Jennifer sekarang. Mereka berdua memang menjalin hubungan namun tidak pernah begitu intim. Mungkin, karena yang mereka pikirkan bukan sepenuhnya soal perasaan, melainkan keinginan untuk mencapai hubungan yang bahagia dengan cara berbeda.
__ADS_1
"Hubungan kami tidak sampai seperti itu. Nea selalu menghalangi saat tahu kalau aku akan pergi menemui Jennifer."
"Jadi, dia bernama Jennifer?"
"Ya. Dia seorang model dulunya, sekarang mengelola sebuah bisnis."
"Kau ... masih bertemu dengannya?"
"Tidak. Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, bahkan jika itu berpapasan. Hanya kabarnya saja yang aku dengar dari sekretarisku, karena mereka adalah teman."
Kelvan diam untuk beberapa saat, lalu tersenyum. "Aku tidak tahu, apakah dirimu akan selalu seperti ini saat menjalin hubungan dengan seseorang. Terlihat jelas kalau dirimu sedang cemburu sekarang."
Livia meletakkan kedua belah tangan di pinggang. "Memangnya? Kita bukan hanya menjalin hubungan, tapi kau adalah suamiku. Tidak bolehkah jika aku bersikap seperti ini?"
"Aku tidak berkata begitu. Hanya saja, melihat seseorang cemburu untukku ketika itu bukan lagi duniaku sangat mengesankan."
__ADS_1
"Cemburu tidak mengenal apa pun, Kelvan."
Kelvan mengusap pipi Livia dengan lembut. "Sekretarisku adalah seorang laki-laki. Dia bernama Ivon. Jadi, kau tidak perlu cemburu padanya."
"Itu melegakan."—Livia memeluk suaminya—"Terkadang aku ragu bagaimana harus bersikap padamu. Kita memang saling menyukai, tapi aku belum tahu banyak tentangmu. Aku juga tidak tahu apakah diriku yang begini akan baik-baik saja di matamu."
Harus Kelvan katakan kalau dia setuju dengan perkataan sekretarisnya. Livia bukanlah tipe wanita yang dia butuh untuk mendampingi, karena dia tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan urusan kecemburuan, sesuatu yang tidak perlu menjadi permasalahan lagi di dalam sebuah hubungan, karena salah satu yang dibutuhkan dalam rumah tangga adalah kepercayaan.
Meskipun bukan tipe wanita yang ingin dijadikannya sebagai teman hidup, tetapi dia juga harus mengakui kalau Livia telah menempati hatinya. Livia benar-benar menganggapnya sebagai seseorang yang harus dicintai dengan segenap hati. Dia rasa jika rumah tangganya dijalani bersama Livia, terasa lebih baik karena wanita ini akan membuat hidupnya yang monoton menjadi lebih berwarna.
Kelvan membuat mata mereka saling bertatapan dan berkata, "Tidak perlu terburu-buru. Kita bisa menjalaninya perlahan, karena masih ada banyak waktu. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri ketika berhadapan denganku. Itu akan membuatku lebih mengenal dirimu pula."
Livia menganggukkan kepala. "Baiklah."
Kelvan memandangi istrinya, menyingkirkan uraian rambut dari wajah itu agar tidak menghalangi pemandangan indah di depan matanya. Dia mengusap bibir Livia yang masih lembap akan bekas ciuman mereka tadi, memberatkan ibu jarinya di sana agar dapat membuka jalan baginya untuk menciumi kembali bibir itu dalam-dalam.
__ADS_1