Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Ruang Kerja Kelvan


__ADS_3

Livia memperhatikan gerak langkah mereka. Dia belum tahu ke mana Kelvan akan pergi membawanya. Kalau boleh mengatakan, mereka bukan keluar dari perusahaan seperti yang dipikirkannya, melainkan ke ruang kerja Kelvan?


"Kelvan, kau mengantarkanku jauh sekali."


"Aku harap kau tidak salah paham."


"Tapi ... kenapa ke ruanganmu?"


"Karena aku memiliki sesuatu yang ingin ditunjukkan padamu."


"Tiba-tiba?"


Ruang kerja Kelvan menguasai satu lantai, bisa dibayangkan bagaimana luasnya. Dari ketinggian dan langit gelap, mereka dapat melihat pemandangan dari jendela yang terhampar di satu sisi dinding. Di dekat sana juga diletakkan tempat duduk, biasanya Kelvan menggunakannya ketika mengambil waktu untuk beristirahat sejenak.


Livia melihat kelap-kelip seluruh kota dari tempat dia berdiri. Dia tidak pernah membayangkan kalau pemandangan malam akan begitu cantik.


"Kau ingin menunjukkan ini padaku?"


"Kau menyukainya?"

__ADS_1


"Hmmm ...." Livia menganggukkan kepala, menatap ke luar jendela dengan kekaguman kembali.


Kelvan melepaskan jasnya, lalu menyelimuti kedua bahu sang istri dengan itu. "Livia."


Livia mendongakkan kepala. Kini Kelvan menatapnya dengan raut kebingungan. Jika itu mengenai pertemuan mereka dengan Jennifer, maka dia akan berkata kalau dirinya akan baik-baik saja.


Mungkin?


"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya."


Kelvan tahu kalau dia tidak bisa memperlakukan Livia seperti dirinya memperlakukan Jennifer. Bukan berniat membandingkan, akan tetapi jika Jennifer berada di posisi Livia sekarang pasti tidak akan menjadikan hari ini sebagai masalah. Lain dengan Livia, wanita itu bisa sensitif mengenai hal-hal seperti ini. Jadi, sedapat mungkin dia ingin memperkecil kemungkinan itu agar rumah tangganya tidak bermasalah.


"Jadi, kau ingin memperbaiki hubungan kalian?"


Kelvan yang menundukkan kepala perlahan mengangkatnya. Apa dia salah dengan penilaiannya bahwa Livia sedang tidak senang sekarang?


"Aku berharap masalah di antara kami terselesaikan. Hanya itu."


Livia tersenyum dalam pandangan mata yang redup. "Hubungan kita terlalu singkat dan aku tidak banyak mengerti tentangmu. Kau mencintaiku, tapi rasanya sulit menjangkau hatimu."

__ADS_1


"Kenapa kau berkata begitu sekarang?"


Livia menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Rasanya ada yang mengganjal di hatiku, tapi sulit bagiku menjelaskannya. Suamiku akan bicara empat mata dengan mantan kekasihnya dan aku dibawa pergi begitu jauh untuk menjarak. Sekarang kau bersikap seolah menyelesaikan masalah dalam hubungan kalian adalah hal paling penting."


"Kau yang berkata kalau aku dan Jenn boleh berbicara, lalu hendak pergi memberikan ruang bagi kami. Aku membawamu ke mari agar kau merasa nyaman, karena aku memperhatikanmu kesulitan menghadapi pesta perayaan. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu seorang diri dalam keadaan seperti itu?"


"Dan kau meninggalkanku dengan menunjukkan sesuatu yang sangat menarik agar aku bisa melupakan tentang pertemuan kalian?"


"Livia ...." Kelvan ingin meraih bahu istrinya, akan tetapi dihindari. Dia tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. "Kau mendengarnya sendiri kalau Jenn diundang oleh sekretarisku. Aku juga tidak menduga pertemuan ini. Kami hanya akan menyelesaikan masalah. Tidak ada yang istimewa. Bisakah kau memahami posisiku?"


Livia menatap Kelvan dengan keyakinan penuh di matanya. "Lalu, siapa yang akan memahami posisiku?"


Kelvan diam membeku bersama tenaganya yang seolah melemah hanya dari percakapan singkat mereka ini saja. Ketakutannya telah terjadi, Livia yang jauh lebih sensitif tidak dapat menilai sesuatu dengan baik.


"Pergilah." Livia membalikkan badan. "Aku tidak ingin melihatmu sekarang."


Kelvan tersenyum miris. "Apa ini dirimu yang sesungguhnya?"


__ADS_1


__ADS_2