
Kelvan menuju ruangannya. Dia berpikir kalau Livia sekarang pasti sudah tidur. Tentang pembicaraan mereka tadi, dia berharap mereka dapat menyelesaikannya dengan kepala jernih. Namun, yang ditemukan setelah mencapai tempat tujuan, tidak ada siapa pun di sana.
Livia menghilang.
Kelvan dengan cepat menghubungi istrinya. Panggilan telepon mereka tidak bisa terhubung. Lantas, dia turun ke lantai bawah, mencari ke tempat acara perayaan kalau-kalau menemukan Livia di sana.
Tidak sengaja Kelvan dan Jennifer bertemu kembali. Melihat raut wajah yang sangat khawatir membuat Jennifer bertanya-tanya. Kelvan mengatakan alasannya, berpikir kalau Jennifer dapat membantu.
Di sisi lain, saat kedua orang itu mencari-cari, Nea mengendarai sepeda motor yang dipinjam dari seorang teman. Penampilannya bak pembalap liar jalanan. Sementara di belakangnya ada Livia yang menumpang.
"Apa sesuatu telah terjadi? Kenapa kalian tidak pulang bersama?" tanya Nea, nada suaranya tinggi agar bisa didengar jelas apa yang dia katakan.
"A—aku sangat mengantuk, sedangkan ayahmu masih harus menyelesaikan acaranya."
Nea mengoceh kesal. "Aku jadi tidak mengerti. Pertama bulan madu dan sekarang membiarkan istrinya pulang sendiri. Sebenarnya, ayah lebih menyukai istrinya atau pekerjaannya?"
Kecurigaan Nea tidak sampai di situ. Dia semakin janggal saat Livia meminta agar bisa tidur bersamanya dengan alasan takut berada di kamar seorang diri, padahal sebelumnya tidak pernah begitu. Dia ingin menanyakan lebih lanjut, akan tetapi berpikir kalau rasa penasarannya tidak akan dapat membantu.
"Baiklah. Bu Livia bisa tidur di sini," ucap Nea dengan gembira, baru pertama kali tidur bersama wanita yang bisa dipanggil sebagai ibunya.
Nea tidak benar-benar tidur pada saat itu. Dia keluar dari kamar setelah memastikan kalau Livia sudah terlelap, baru kemudian menghubungi ayahnya. Kecurigaannya semakin bertambah ketika mengetahui reaksi sang ayah yang seolah tidak tahu kalau istri sendiri telah meninggalkan tempat acara.
__ADS_1
Sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi. Nea sengaja menunggu ayahnya untuk menuntut penjelasan, tetapi yang dilihat melalui kamera pengawas membuat dia sangat marah.
Nea tidak menunggu ayahnya masuk ke rumah terlebih dahulu seperti rencana awal. Dia justru memilih melihat dengan mata kepala sendiri kalau ayahnya membawa seseorang yang disebutnya sebagai wanita penggoda.
"Ayah!"
Kelvan yang sedang berterima kasih atas bantuan Jennifer langsung menolehkan kepala.
"Ibuku berkata kalau Ayah harus menyelesaikan acara pestanya, tapi Ayah malah menghabiskan waktu dengan wanita penggoda ini?"
"Nea, kenapa bicara seperti itu?" Kelvan berkata.
"Apa maksud perkataanmu, Nea?"
Jennifer mengepalkan tangan, sungguh tidak tahan dengan situasi yang menekannya selama ini. "Aku tidak akan membuat jarak denganmu jika bukan karena Nea yang memintaku."
Kelvan mengerutkan dahi, tidak begitu mengerti. "Bisakah kalian menjelaskannya padaku?"
"Kau ingat ketika kita merayakan hari jadi yang ke tiga tahun? Nea menangis ke hadapanku, meminta agar diriku tidak lagi muncul dalam hidupmu. Dia benci pada kita yang menghabiskan waktu bersama, mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah memberikan kesempatan pada hubungan kita.
Aku di masa-masa sulit saat itu di mana karierku sebagai model mengalami kemerosotan. Hatiku hancur, begitu pula dengan hidupku. Aku tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan segalanya dan mulai berputus asa. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali rehat sejenak dari hubungan kita. Kesalahanku telah membuatmu menunggu dalam hubungan yang tidak jelas."
__ADS_1
"Kau seharusnya menceritakan hal penting itu padaku, Jenn."
Jennifer menundukkan kepala, merasa gagal dalam kisah cintanya sekali lagi. "Aku tidak ingin membebanimu."
Kelvan menyapu seluruh mukanya dengan telapak tangan. Tidak tahu bagaimana harus berkata lagi mengenai situasi yang begitu rumit. Dia menyesal, karena tidak begitu memperhatikan Jennifer ketika mereka bersama.
Jennifer di matanya adalah sosok tangguh, tidak banyak bercerita mengenai kehidupan, karena selalu bisa mengatasi masalah sendiri. Kelvan berpikir sampai di sana dan setelah mendengarkan kebenaran, ternyata Jennifer tidak selamanya tangguh.
"Maafkan aku, Jenn. Tidak ada yang bisa aku lakukan untukmu."
Jennifer kini sudah berkaca-kaca, mengungkapkan sesuatu yang pahit tidaklah mudah. "Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, Kelvan."
Nea yang mendengarkan sejak tadi, sedikit banyak merasa bersalah. Dia tidak tahu kalau hidup Jennifer begitu rumit, terlebih dirinya tidak berhenti memberi tekanan agar hubungan kedua orang itu berakhir.
Nea yang masih remaja, memikirkan tentang pengganti ibunya membuat dia sangat frustrasi dan takut akan banyak hal jika Jennifer benar-benar akan menikah dengan ayahnya. Di samping itu, mereka juga tidak pernah cocok.
Jennifer terlalu kaku menghadapi anak-anak, mungkin itu pula yang mendasari kenapa wanita itu tidak memiliki anak di hubungan rumah tangga pertamanya. Bertemu dengan Nea yang jiwanya belum stabil adalah hal buruk.
Hal buruk itu bisa berubah jika Jennifer datang di saat Nea lebih dewasa. Sekarang saja Nea yang terbawa kebiasaannya menolak Jennifer sampai detik ini, setelah mendengar cerita tadi berpikir kalau sikapnya ternyata sudah keterlaluan.
__ADS_1