Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Keputusan Bersama


__ADS_3

Setelah mengantarkan nenek, Livia diam saja sepanjang perjalanan, merenung begitu lama dengan hanya menatap lurus ke depan. Hal itu membuat Kelvan ingin menghibur kesedihan yang mungkin menyelimuti istrinya.


"Livia, aku sebenarnya harus bekerja hari ini."


Livia langsung tersadar. Dia menolehkan kepala dan berkata dengan raut wajah bersalah, "Ya, Tuhan! Maafkan aku, Kelvan. Kau seharusnya pergi bekerja, tapi karena mengantarkan nenek, pekerjaanmu terganggu. Padahal, aku telah menyita waktumu di hari kencan kita dan hari ini semua terjadi lagi. Kau pasti mengalami hari-hari yang sulit karenaku."


"Apa yang ingin aku katakan bukan hal itu. Mengantarkan nenek bukanlah masalah, karena aku memang ingin melakukannya. Tapi kini aku harus mampir ke perusahaan untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Dan, aku ingin meminta maaf padamu."


"Minta maaf untuk apa?"


"Karena setelah mengantarkan nenek, kita langsung pergi tanpa duduk bersamanya terlebih dahulu. Aku sangat menyesalinya."


Livia tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku bisa kembali lagi lain kali."


Kelvan menggenggam tangan sang istri dengan lembut. "Jika saat itu tiba, aku akan menemanimu."


Livia mengangguk pelan. "Lalu, aku bisa melihat suamiku bekerja di perusahaan?"

__ADS_1


Inilah maksud Kelvan yang ingin menghibur tadi, dengan dirinya yang membahas agar mereka mampir ke perusahaan, maka kejadian mengecewakan sebelumnya akan terobati. Livia bisa mengalihkan kesedihan berpisah dari nenek sementara waktu.


"Kalau kau tidak tidur lagi tentunya."


"Baiklah." Livia bertekad. "Aku tidak tidur kali ini."


Kelvan tertawa kecil. "Aku bercanda. Kau bisa tidur jika memang ingin. Nanti setelah sampai, aku akan membangunkanmu."


"Aku seperti pernah mendengar kata-kata itu. Kenyataannya, ada seseorang yang tidak melakukan sesuai perkataan."


"Tidak, Livia. Kali ini aku pastikan untuk membangunkanmu."


Kelvan melirik ke arah istrinya sebentar sebelum menatap ke jalan depan kembali. Dia melihat senyuman dan sebuah tekad yang kalau dihentikan tidak akan mungkin.


"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan."


Suasana hening beberapa saat, membuat Livia teringat akan sesuatu. "Oh, mengenai percakapan kita sebelumnya—" Tiba-tiba dia berhenti berkata.

__ADS_1


Jujur saja, mengenai pembuatan anak bukan hal biasa yang harus mereka bicarakan. Livia tidak mendustai diri kalau dia merasa malu sekarang. Sementara Kelvan terlihat tenang dan tidak terusik saat menyetir seolah apa yang dikatakannya adalah hal biasa.


Livia seharusnya tidak melupakan kenyataan kalau Kelvan pernah menikah. Suaminya ini sudah tidak canggung jika membahas hal-hal yang baru pertama kali dalam hidupnya.


"Kenapa tidak bicara lagi?" tanya Kelvan, sejak tadi nyatanya menunggu kelanjutan perkataan.


"A—aku bingung bagaimana melanjutkannya."


Kelvan melirik Livia sebentar sebelum menipiskan bibir. Dia sedikit banyak tahu apa yang membuat istrinya itu kelihatan gugup. Mereka baru menikah dan membahas tentang hubungan intim akan memalukan bagi seseorang yang masih butuh pembiasaan dalam pernikahan.


"Aku ingin memiliki anak laki-laki," ucap Kelvan. "Tapi tidak masalah pula jika itu perempuan. Bagaimana denganmu?"


Livia menatap kedua tangannya yang saling menggenggam di paha. Dia tersenyum, memikirkan tentang anak membuatnya sangat senang.


"Karena kita sudah memiliki seorang putri, akan lebih baik jika selanjutnya memiliki seorang putra. Tapi tidak masalah yang mana saja, asalkan mereka lahir ke dunia dalam keadaan sehat."


"Kau benar. Hmmm, aku rasa kita harus memulainya terlebih dahulu dari pemeriksaan kesehatan."

__ADS_1


"Aku tidak masalah jika itu yang terbaik."



__ADS_2