Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Hasrat


__ADS_3

Kelvan mematung, hampir tidak percaya dengan apa yang didengar. Anggapan mengenai Livia adalah seseorang yang perlu mengenal pasangannya lebih dalam untuk melanjutkan hubungan ke tahap sentuhan fisik runtuh total sesaat wanita itu berkata ingin menciumnya.


Kenapa Livia dalam pikirannya bisa sangat berbeda dari kenyataan?


Livia semakin merona merah mukanya. "A—anda jangan salah paham. S—saya hanya merasa kalau suasananya mendukung. Bukan berarti saya berpikiran seperti itu terhadap Anda. Hanya ...."


"Apa yang sedang aku katakan sekarang?" Livia bergumam sendiri, terlalu malu pada dirinya.


"Anda membuat saya mendidih."


Livia menatap ke arah Kelvan, ingin mempertanyakan maksud perkataan barusan. Namun, baru saja menoleh, Kelvan sudah membuat bibir mereka bersentuhan.


Dia dan Kelvan, sesuatu yang tidak bisa dibayangkan kalau mereka akan berciuman.


Ciuman yang menghanyutkan. Livia bisa mendengar debaran jantungnya sekarang. Jika dilanjutkan, maka bisa dipastikan kalau perasaan asing yang menyenangkan itu akan membuat dia pingsan.


Sebelum sempat menarik tubuhnya untuk menjauh, Kelvan sudah melepaskan ciuman. Saat itu terjadi, Livia berada dalam fase di mana kekosongan muncul usai jarak memisahkan mereka.

__ADS_1


Livia tidak ingin berhenti begitu cepat. Dia ingin merasakan kasih sayang yang didapatnya dari ciuman mereka. Dia ingin merasakan debaran jantung yang kuat di antara mereka. Lagi dan lagi ....


Kelvan bertindak lebih dulu seolah pikiran Livia yang menggerakkan, padahal duda beranak satu memang telah mendidih. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan, membuat dia merasa tidak perlu menahan diri untuk ciuman mereka.


Kelvan menurunkan tangannya agar dapat memeluk pinggang Livia, lalu mendorongnya agar wanita itu menjadi lebih dekat. Seiring jarak yang semakin singkat, ciuman mereka pun semakin dalam.


Ini bukan kali pertama bagi keduanya berciuman. Tetapi sekarang sungguh sangat berbeda mereka rasakan. Mungkin saja karena sudah menjomlo begitu lama, tetapi kekakuan di antara mereka sirna menjadi insting naluriah manusia.


Dari titik ini, mereka tahu kalau sebenarnya sungguh saling menyukai satu sama lain, ingin saling mengasihi, dan ingin saling memiliki.


Tangan lebar Kelvan berpindah menyentuh punggung Livia, hendak menurunkan ritsleting wanita itu. Tetapi kesadarannya langsung pulih sesaat teringat keberadaan mereka sekarang.


"Kenapa? M—maksudnya bukan begitu ...."


"Besok kita harus melakukan perjalanan."


"Ah, itu benar. Kita harus segera beristirahat." Entah mengapa, perkataan Livia terdengar seperti sangat menyayangkan waktu perpisahan mereka malam itu.

__ADS_1


Habis berada dalam suasana menyenangkan, tiba-tiba dihentikan, siapa yang tidak menyayangkannya?


"Kalau begitu, saya akan pergi ke kamar."


Livia bangkit namun ketika akan melangkah, Kelvan menggenggam pergelangannya.


"Apa sudah lupa dengan perbincangan kita tadi?"


"Tidak."


"Lalu?"


Livia menggigit bibir dalamnya, begitu gugup. Tetapi dia tahu kalau dirinya harus bicara, "A—aku akan pergi ke kamar. Kau ... beristirahatlah. S—selamat malam."


Livia pergi dengan raut wajah bersemu merah. Dia berbaring di sebelah Nea dengan perasaan tidak keruan. Entahlah, apa dia bisa tidur malam ini setelah ciumannya dengan seorang duda?


Dia ingin berteriak, mengatakan pada dunia kalau dia melalui waktu yang sangat menyenangkan hari ini!

__ADS_1


Kelvan sendiri memijat pangkal hidungnya. Dia hampir tidak bisa menahan diri tadi. Memikirkan mereka yang akan melakukan sesuatu lebih dari ciuman membuat dadanya semakin bergejolak.



__ADS_2