
Livia merebut ponsel dan memegangnya dengan erat. Dalam situasi seperti ini, dia tidak boleh mempercayai siapa pun, karena mereka semua adalah anak-anak yang masih perlu didampingi oleh orang dewasa. Meskipun anak didiknya adalah Nea, bukan berarti dia bisa bersikap berat sebelah.
"Kami tidak bisa mengatakan kalau Nea adalah teman kami, karena kami juga tidak pernah menganggapnya begitu. Kami hanya memanfaatkan keadaan seperti yang Anda lakukan. Dia juga tidak mempermasalahkan jika kami memorotinya.
Lagi pula, dia adalah anak orang kaya. Mungkin bagi Anda yang kami lakukan adalah hal yang salah, tetapi bagi Nea yang tidak memiliki teman, bukan sesuatu yang merugikan. Toh, kami tidak pernah memperlakukannya dengan buruk."
Livia mengangkat ponselnya seraya berkata, "Tetap saja yang kalian lakukan adalah sesuatu yang buruk. Kalian tidak tahu hal apa yang telah kalian sebabkan. Pemilik minimarket tidak ingin berdamai dan menuntut agar anak yang terlibat dalam kasus pencurian dipenjarakan. Sedangkan, Nea akan baik-baik saja, karena dia memiliki ayah yang kaya dan bisa menyewa pengacara terbaik."
"A—apa ayahnya Nea yang mengatakan itu?"
Livia yang sibuk dengan ponsel sempat melirik pada tiga anak berandal di depannya sebentar. Dia sendiri merasa kalau kebohongannya terlalu parah sehingga tidak sengaja membuat anak-anak itu khawatir sekaligus ketakutan.
"Selama kalian menuruti perkataan saya, maka semuanya tidak akan menjadi lebih buruk."
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?"
"Ikuti aku."
"Baiklah." Mereka bertiga berkata serempak, lalu berjalan mengikuti.
Livia menghentikan langkahnya sebentar, membuat tiga anak berandal langsung berhenti pula. Mereka terheran-heran, kenapa Livia mendadak mengurungkan niat.
"Kalian harus mengingatnya, kalau aku bukanlah orang yang memanfaatkan Nea atau orang yang memanfaatkan keadaan. Aku hanya bekerja keras mencari uang untuk menghidupi diriku dan juga nenek."
Livia memutuskan untuk membawa tiga anak berandal menghadap wali kelas. Kasus pencurian itu kemudian dilaporkan pada kepala sekolah sehingga mereka semua diminta datang ke ruangan. Tiba di dalam ruang kepala sekolah, dia terkejut menemukan Kelvan juga ada di sana.
"Bu—bukankah Anda ayahnya Nea?" ucap seorang anak berandal, membuat teman lainnya terkejut.
__ADS_1
Tidak ada yang membantah hal itu, Livia dipelototi seperti ingin meminta pertanggungjawaban. Sekarang tiga anak berandal beranggapan kalau Livia telah menjebak mereka.
Setelah membicarakan kasus pencurian, keputusan yang didapatkan adalah tiga anak berandal itu akan dipanggil orangtuanya ke sekolah. Mereka memang sudah bermasalah sebelum berteman dengan Nea. Jadi, hukuman yang akan diberikan tidak akan ringan, begitu janji sang kepala sekolah.
Kini Livia berjalan di lorong kelas bersama Kelvan. Tidak banyak murid tersisa, mungkin karena jam pulang sudah lewat begitu lama. Suasana begitu sunyi setelah melewati satu kelas yang masih memiliki kegiatan di dalamnya.
Livia tidak tahu harus berkata apa ketika emosionalnya sendiri tidak stabil, tetapi dia berniat untuk mencoba memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"Bagaimana Anda bisa ada di sini?"
Kelvan tiba-tiba berhenti ketika mereka hendak menuruni tangga. Dia memutar tubuhnya agar dapat menghadap Livia, lalu berkata, "Anda berpikir siapa Anda sebenarnya?"
Livia terkejut, seperti suasana canggung yang ingin dipecahkannya menjadi benar-benar pecah berkata pertanyaan Kelvan. Pria itu tampak begitu tidak senang sekarang.
__ADS_1
"A—apa maksud Anda?"