
Livia sedikit mundur ke belakang, tidak berpikir kalau dirinya akan mampu menghadapi situasi. Selama ini yang dia tahu tentang pria di depannya adalah sosok perhatian dan mudah tersenyum. Sekarang sungguh jauh berbeda, apa yang membuat Kelvan begitu marah?
"Nea adalah putri saya. Orang yang bertanggungjawab atasnya adalah saya, bukan Anda."
"Apa Anda sedang membahas soal siapa saya?" Livia menundukkan kepala, tidak mampu menatap mata Kelvan yang menunjukkan rasa tidak suka itu. "Saya seorang guru privat yang tugasnya hanyalah mengajar, apa-apa mengenai kehidupan anak didik bukanlah urusannya selama pekerjaan dan bayarannya lancar. Anda ingin saya mengatakan itu?"
Livia mengangkat kepala. Tadinya dia berpikir bahwa dirinya akan kuat menahan semua emosional di dada, akan tetapi anggapan itu salah setelah dia tidak bisa menahan air matanya untuk terjatuh.
Pada saat yang bersamaan, suara langkah kaki mengusik suasana, memperlihatkan seorang murid menaiki tangga. Livia berusaha menyembunyikan tangisannya sampai mereka tinggal berdua kembali.
"Lebih baik, kita bicara di tempat lain," ucap Kelvan, menuruni tangga.
Livia mengikuti pria itu hingga mereka sampai di dekat mobil. Dia menolak ketika Kelvan membukakan pintu kabin untuknya, karena berpikir bukan sesuatu yang tepat jika mereka pergi bersama setelah kejadian tadi.
__ADS_1
Air mata Livia tidak lagi mengalir. Dia mampu menatap Kelvan sekarang. "Selama saya menjadi guru privat Nea, semua hal yang mengganggunya dalam belajar adalah urusan saya. Anda yang membayar saya agar dapat membuatnya menjadi lebih baik dalam pelajaran, saya harap Anda tidak ikut campur lagi dengan apa yang saya lakukan. Jika Anda tidak suka pada cara saya, maka silakan pecat saya dari pekerjaan ini."
Livia memberikan hormat sambil berkata, "Saya permisi," ucapnya, kemudian pergi dari sana.
Meskipun belum sempat mengatakan apa-apa, Kelvan tidak mencegah kepergian Livia. Dia memang berada dalam suasana hati yang buruk, tetapi tidak berpikir untuk membawa pembicaraan ke arah yang lebih serius.
Kenyataannya, Kelvan tahu mengenai tiga anak berandal yang sering terlihat bersama Nea. Jika putrinya tahu kalau dia pernah menyuruh orang membuntuti, mungkin tiada maaf baginya.
Itu adalah alasan kenapa Kelvan bisa sampai di ruangan kepala sekolah, karena hanya mereka teman yang diketahuinya. Nea tidak pernah membawa teman selain mereka bertiga ke rumah.
Maka dari itu, dia tidak bisa menyalahkan Nea atau pun Livia secara serta-merta, karena mereka berdua pasti memiliki alasan kenapa sampai tidak memberitahukan masalah itu padanya.
Suara dari semak membuat Kelvan bergerak mendekati. Dia ragu-ragu ketika berpikir bahwa mungkin saja yang ada di baliknya adalah ular. Namun, tidak disangka jika salah seorang anak berandal muncul dari sana dalam keadaan melompat-lompat sambil menggaruk badan.
__ADS_1
"Semut, semut!"
"Kau, Semut Besar! Apa yang kau lakukan di belakang sana?" ucap Kelvan.
"S—saya ingin membicarakan tentang Nea."
"Aku tahu anak sepertimu. Jika kau mencari lawan untuk bergosip, lebih baik bukan dengan ayahnya."
"Bu—bukan! Ini bukanlah gosip, ini sungguhan! Nea yang menceritakannya langsung pada saya."
"Aku tidak memiliki waktu untuk mendengar ocehanmu."
"Saya tidak mungkin berani datang hanya dengan alasan sepele. Anda bisa memegang kata-kata saya, karena dibandingkan anak lainnya, Nea lebih dekat dengan saya."
__ADS_1