
Livia membuka pintu, mendapati suaminya sudah pulang. Apa yang terjadi setelah itu sungguh di luar dugaan. Baru saja pintu tertutup, Kelvan langsung menciumnya hingga terdorong ke dinding.
Menerima perlakuan tiba-tiba, Livia begitu sesak, tidak mempersiapkan apa pun untuk ciuman mereka. Dia berusaha membuat jarak, akan tetapi Kelvan seperti tidak membiarkan, justru menekan punggungnya agar tetap melekat.
Livia mengambil kesempatan menghirup napas di sela ciuman mereka. Sesekali dia harus mengikuti gerakan Kelvan yang ingin menguasai dirinya. Tetapi sekali lagi, napas yang singkat membuat dia ingin menghentikannya sebentar saja.
Kelvan yang sudah dikuasai hasrat melepaskan jasnya tanpa menjauhkan pertatutan bibir mereka. Dia membuangnya ke lantai, memeluk Livia kembali, dan membawa tubuh mereka ke ruang tamu.
Mereka duduk di sofa. Ukurannya begitu luas, bisa ditempati oleh dua orang dewasa ketika berbaring tanpa khawatir akan sempit.
Saat ciuman akhirnya terlepas, Livia dapat mengisi oksigennya kembali. Sekarang di antara mereka hanya ada keinginan, tidak ada hal lain. Livia yang ingin menghindar juga enggan pergi dari tempatnya. Sudah jelas bagaimana keadaan mereka saat ini yang sangat ingin memiliki satu sama lain.
"Aku sudah menahannya seharian. Dapatkah aku mengambilmu sebagai hadiahku?" tanya Kelvan, melonggarkan dasi.
Livia mengulurkan tangan, melepaskan dasi yang sudah longgar perlahan. Dia memandangi hasrat di mata suaminya yang tidak bisa dipadamkan untuk hari ini. Semua itu juga telah memancing sesuatu yang tersembunyi dari dalam dirinya.
Dasi yang berhasil terlepas itu dijatuhkan begitu saja. Livia meraih kancing kemeja suaminya dan membukanya satu persatu. Dia dapat menyentuh dada bidang itu kini, termasuk otot perut yang nyata.
"Asal kau melakukannya dengan lembut." Livia berkata.
Kelvan menyeringai. "Memangnya, kapan aku pernah kasar?"
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Kelvan menyentuhkan tangannya di pipi Livia. Dia mengusap rahang wanita itu dengan ibu jari, menenggelamkan pikiran hanya pada satu wanita di hadapannya.
Puas memandangi, baru Kelvan mencium Livia sekali lagi. Kali ini ******* dengan sangat dalam. Sementara jemari Kelvan menarik ritsleting belakang sang istri, menurunkan pakaian itu perlahan sebelum membaringkan tubuh mereka.
Sofa menjadi saksi perjalanan kisah cinta mereka. Mereka menghadapi waktu yang membahagiakan bagi pasangan suami istri. Hingga waktu yang panjang membuahkan kepuasan bagi keduanya, mereka mengerang penuh kenikmatan sebelum akhirnya terbaring lemas.
Kelvan memeluk istrinya yang berbaring dalam posisi menyamping. Mereka hanya menutupi tubuh dengan kain yang sebetulnya dijadikan sebagai hiasan sofa. Siapa yang tahu kapan hasrat akan membara? Kelvan yang kaya harus membuat mereka berselimut kain tipis.
"Kita harus pindah ke kamar sebelum Nea pulang," ucap Livia dengan malu. Dia merasa seperti melakukan hal yang kekanakan, karena tidak dapat menahan hasratnya dan melakukan hubungan intim di tempat yang salah.
Kelvan mengangkat kepala, menahannya dengan telapak tangan. Dia menarik bahu Livia agar bisa mengubah posisi tidur wanita itu menjadi telentang sehingga mereka dapat saling memandangi.
"Kenapa begitu?"
"Karena aku ingin menghabiskan waktu bersamamu."
"Jadi, kau sudah merencanakannya?"
Kelvan meraih tangan Livia, dan mengecupnya. "Aku harap diriku curang agar bisa mendapatkan hukuman darimu."
"Kau suami yang licik."
__ADS_1
Kelvan tersenyum. "Lalu, kau istri dari suami yang licik?"
Livia mengernyitkan alis. "Aku tidak bisa membantahnya. Meskipun begitu, kita harus merapikan kekacauan yang kita sebabkan. Pakaian kita berserakan di mana-mana."
"Boleh saja."
"Boleh saja? Kau terdengar seperti ingin meminta syarat."
"Jika iya, kau ingin memenuhi syaratnya?"
Livia tertawa. "Kenapa kau begitu nakal hari ini?"
Kelvan mengerutkan dahi. "Memangnya apa yang aku lakukan, Livia?"
"Kau tidak melihat apa yang kau lakukan? Seorang wanita berbaring dalam keadaan tanpa sehelai benang sekarang."
Livia bangkit, memungut pakaiannya, lalu mengenakan seadanya sebelum beranjak dari sana menuju kamar.
"Kalau begitu,"—Kelvan menyibakkan kain yang masih menutupi dirinya—"biarkan aku bertanggung jawab," ucapnya, kemudian menyusul langkah sang istri.
__ADS_1