
Beberapa hari berlalu, Nea masih belum melupakan tentang pertemuan mereka. Dia masih belum menemukan jawaban tentang siapa yang dilihatnya. Jika bukan Kenzi, lalu kenapa begitu mirip? Anak itu tidak mengatakan apa-apa soal saudara kembar.
Nea mengembuskan napas berat, membaringkan kepala di atas meja. Hanya memikirkan satu hal saja membuat dia pening sampai harus mencari tempat yang sepi untuk bernapas dari keadaan.
Perpustakaan berubah sepi ketika jadwal kelas dimulai. Nea masih tidak meninggalkan tempatnya, karena tidak berniat belajar hari ini. Dia juga sudah menitipkan kehadiran pada Tania yang kebetulan satu jurusan dengannya, entah karena anak itu sengaja mengikuti ke mana dirinya akan kuliah.
Sebenarnya, Tania cukup pintar meski diketahui sebagai anak berandal. Wajar saja jika bisa masuk ke kampus yang populer. Tidak tahu sejak kapan Tania begitu lengket dengannya. Dia juga tidak mempermasalahkan tentang alasan pertemanan mereka.
Hingga kata 'berandal' sampai sekarang melekat padanya sejak berteman dengan Tania. Image anak itu memang buruk dan dia terdampak. Dia tidak mempermasalahkan sehingga yang dilakukan kini adalah menikmati.
Suara kursi yang bergeser di sampingnya menarik sedikit perhatian Nea. Walaupun begitu, dia enggan memutar kepala. Apa yang ada dipikirannya saat ini hanyalah membiarkan pikiran berat dihalau rasa kantuk.
"Vian rewel sekali. Aku kesulitan tidur," gumamnya.
Yang duduk di samping Nea mendengar suara yang terdengar sangat pelan. Dia mendorong kursi ke belakang sebelum berpindah duduk. Betapa terkejut dia melihat siapa yang tertidur di perpustakaan.
__ADS_1
"Nea," ucapannya terhenti sampai di sana.
Kenzi tidak bermaksud untuk beranjak, hanya memperhatikan anak perempuan itu saja sejak tadi. Dia membaringkan kepala pula di atas meja, mengulurkan tangan, dan menyentuh dahi Nea dengan telunjuk lambat-lambat.
"Bodoh," ucapnya. "Kenapa tidak melupakanku saja?"
"Kenzi ...."
Kenzi segera menarik tangannya, tidak ingin membangunkan. Dia tersenyum. Bisa-bisanya Nea memanggil namanya ketika tidur, mimpi apa anak itu memangnya?
Mimpi yang dimaksud adalah waktu di mana penolakan terjadi. Nea pada saat itu memperhatikan sekeliling, rumah Kenzi begitu kosong. Baru saja disampaikan padanya kalau sebentar lagi akan pindah ke luar negeri.
Rasa sakit masih membekas sampai kini. Nea ingin sekali menampar Kenzi, tindakan yang tidak bisa dia lakukan waktu itu.
Kesadaran membawa Nea kembali pada dunia nyata. Dia terkejut melihat sosok yang ada dalam mimpinya tampak di depan mata. Apa dia terbangun dalam alam mimpi? Apa Tuhan ingin memberikan kesempatan baginya untuk membalas Kenzi sebelum bangun?
__ADS_1
Jika itu benar, maka dia harus menegakkan badan, mengangkat tangan tinggi-tinggi, dan melayangkan satu tamparan di pipi Kenzi.
Plak!
Nea tersenyum puas, sudah berhasil melepaskan semua perasaannya tentang masa lalu dalam satu waktu. Dia bisa pergi dari mimpi itu sekarang dengan memejamkan mata dan menyadarkan diri.
Namun, semua tidak berfungsi apa-apa, karena dia masih bisa melihat sosok Kenzi kini menatapnya dengan tampang marah sambil memegang pipi yang ditamparnya tadi.
Kedua tangan Nea dicengkeram pergelangannya dengan kuat. Dia memicingkan mata, menggumamkan, "Bangunlah, Nea. Ayo, bangunlah."
Sayangnya, dia masih melihat sosok yang sama saat mengintip dari celah matanya.
"Ya, Tuhan! Tolong bangunkan aku dari mimpi ini."
Suara tawa remeh terdengar, membuat Nea langsung membuka mata. Dia baru memperhatikan tangan yang mencengkeramnya terasa nyata. Apa dia sudah bangun dari mimpi sejak tadi? Lalu, bagaimana dengan tamparan?
__ADS_1
Nea menampilkan ekspresi terkejut. "Aku menamparnya!" teriaknya.