Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Berbaring Bersama


__ADS_3

Livia mengeratkan genggaman tangan mereka. Dia menahan napas, masih berusaha melemaskan otot-ototnya. Tidak dipungkiri kalau dia gugup untuk menghadapi pengalaman pertama.


"Livia, kau tidak tidur, bukan?"


Livia yang memejamkan mata segera membukanya. Dia tidak tidur. Pasti!


Kelvan yang melihat mata itu terbuka pun berkata, "Kau harus tetap membuka mata dan menatapku."


"Ke—kenapa harus begitu?"


"Agar kita bisa menikmati waktu ini dengan baik."


Livia melakukan perkataan itu dengan cepat, menatap kedua mata Kelvan. "A—aku merasa malu tanpa alasan yang jelas."


Di luar kamar tanpa mereka tahu, Nea dan Tania mencoba untuk menguping. Mereka sungguh penasaran akan apa yang terjadi di dalam sana, terlebih Nea ingin memastikan kalau dia benar akan memiliki adik.


"Memangnya kau kira cukup satu kali melakukannya untuk membuat seorang wanita hamil?" Tania berkata.


Nea masih menempelkan telinganya di pintu. "Ayahku sangat berbakat, asal kau tahu."

__ADS_1


Tania menjauhkan diri dari pintu. Dia menjadi tidak tertarik setelah menguping terlalu lama, akan tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa, ditambah sekarang sudah sangat mengantuk.


"Kau akan memiliki banyak adik jika memang begitu. Dan lagi, untuk hamil tidaklah mudah. Satu kali melakukannya tidak akan cukup."


Nea berekspresi pahit. "Tahu dari mana kalau mereka baru kali ini melakukannya?"


Tania melipatkan tangan di dada, raut wajahnya begitu sombong kini. "Mereka baru menikah kemarin, sedangkan keadaan begitu sibuk ketika seseorang melangsungkan pernikahan. Apalagi kau berkata kalau mereka menunda bulan madu, karena ayahmu harus bekerja. Bisa jadi mereka mencuri kesempatan hari ini di sela kesibukan."


Nea cemberut, tidak memikirkan tentang hal itu. "Jadi, aku tidak benar-benar akan memiliki adik?"


"Kau sangat pintar dalam segi pelajaran, tapi dalam hal seperti ini sangat lambat. Berandalmu hanya di penampilan saja." Tania menggeleng-gelengkan kepala, tidak habis pikir. "Peluang hamil akan tinggi jika ibumu berada dalam periode masa subur seperti kakakku yang baru menikah, langsung mendapatkan kabar kehamilannya."


"Tidak begitu juga." Tania menyeringai jahat. "Lebih sering melakukannya, maka akan lebih baik. Segala peluang akan dicoba."


Nea memperhatikan ekspresi itu. "Aku tidak berpikir kalau saranmu adalah sesuatu yang baik."


"Pokoknya, untuk mencapai kehamilan tidak semudah itu."


Dalam keadaan Nea yang putus asa, mereka mendengar suara teriakan dari dalam, selanjutnya suara sang ayah yang memanggil-manggil nama sang istri. Nea dan Tania bergegas menempelkan telinga ke pintu kembali.

__ADS_1


"Astaga, aku tidak menyangka jika orangtuamu akan melakukannya," ucap Tania.


"Bukan sesuatu yang pantas kau pertanyakan, karena mereka sudah menikah."


Tania menarik dirinya dari sana dengan cepat. "Sepertinya, aku sudah tidak sanggup lagi. Mereka terlalu panas di dalam sana."


Nea menarik dirinya pula. "Kita kembali ke kamar saja."


Apa yang terjadi memang seperti apa yang dipikirkan kedua anak itu. Livia dan Kelvan sudah selesai dengan percintaan mereka, kegiatan yang begitu melelahkan.


Mereka berbaring dalam keadaan berpelukan. Kelvan yang lebih bisa bergerak, karena dia sudah familiar dengan suasana percintaan. Sementara Livia masih menenangkan diri, tenaganya seakan terkuras semua.


"Livia, kau benar tak apa?"


Kelvan bisa melihat air mata jatuh. Dia sangat khawatir, apakah Livia merasakan sakit. Sampai dia memanggil nama istrinya untuk sekian kali agar bisa memastikan keadaannya baik-baik saja, Livia tidak bersuara dan hanya mengangguk dengan pelan. Hal itu membuat dia lebih khawatir.


"Tak apa. Aku hanya perlu bernapas sebentar." Livia mengernyitkan alis, menahan segala perasaan yang campur aduk.


Kelvan akhirnya bisa lega. Dia mencium bahu Livia dengan lembut. "Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Kau membuatku bisa merasakan perasaan seperti ini kembali. Terima kasih, Livia. Aku mencintaimu."

__ADS_1



__ADS_2