Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Pertemuan Alumni


__ADS_3

Setelah malam perayaan singkat berlalu, Livia tidak lagi berbincang dengan Kelvan kecuali mengenai sesuatu yang menyangkut perkembangan Nea. Entah mengapa seperti ada jarak terbentang di antara dia dan Kelvan, padahal sebelumnya mereka juga tidak sedekat itu untuk merasa demikian.


Livia membuka pintu restoran dengan ragu. Dia masih belum siap untuk pertemuan alumni sebenarnya, akan tetapi sangat ingin menghadapi kenyataan. Tahun lalu, dia meninggalkan kesan yang buruk di acara pertemuan mereka dan selanjutnya dia ingin meninggalkan kesan yang baik.


Livia hanya melihat satu tempat duduk yang kosong untuk acara alumni mereka. Dia tidak ingin berada di antara dua orang pria sebenarnya, tetapi apa boleh buat? Meskipun dia memiliki firasat buruk untuk itu.


"Oh—ho! Lihat, siapa yang datang! Livia si gadis pesuruh!"


"Berhenti bersikap sarkastis, kita sudah bukan lagi anak sekolahan."


"Tentu saja! Kita harus menikmati acara alumni ini dengan baik, pertemuan kita tidak sering terjadi. Mari, Livia, duduk di sampingku." Pria yang mengingatkan dia akan gelar masa lalunya itu bernama Eric.


Livia duduk dengan canggung, menatap siapa saja yang datang. Sebenarnya, dia tidak terlalu takut untuk menghadiri acara pertemuan alumni, karena teman-teman yang menindasnya dulu beberapa sudah meminta maaf. Dia hanya paling tidak suka dengan Eric yang selalu memicu pertikaian setiap kali bertemu.


"Livia," Eric berkata. "apa kau masih bekerja sebagai guru privat?"


"Y—ya, betul."

__ADS_1


Livia tidak merasa kalau dirinya harus takut pada Eric, dia hanya menghargai hubungan mereka. Dan lagi, Eric lebih tua darinya sehingga dia harus bersikap hormat.


"Sepertinya pekerjaanmu sangat menyenangkan."


Livia tertawa dengan kikuk. "Saya sangat menyukai pekerjaan yang sekarang."


"Tapi menjadi guru privat, bukankah bayarannya terlalu kecil? Sementara, kau sangat pintar. Apa tidak ada perusahaan besar yang bersedia menerimamu sebagai pegawai?"


"Itu ...."


Livia mengepalkan tangan, ingin sekali menghadiahkan bogem mentah ke wajah Eric. Tetapi dia sudah bertekad untuk meninggalkan kesan baik di acara pertemuan alumni kali ini, mau tidak mau perasaan kesal harus ditahan.


"Kak Eric, berhenti bersikap sarkastis."


Tanpa Livia sadari, suasana yang tadinya asyik saja sudah berubah menjadi tegang. Mereka yang berbincang sambil bersenda gurau harus terhenti lantaran tidak sengaja mendengar percakapan antara Livia dan Eric. Mulanya, percakapan yang didengar adalah hal biasa, tetapi perlahan berubah menjadi sebentuk cemoohan.


"Sarkastis? Aku hanya mengingat kembali tentang masa lalu. Kalian pasti juga melakukan itu ketika bertemu, bukan? Lihat, Livia saja tidak mempermasalahkannya."

__ADS_1


Livia tersenyum. "Kalian tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


Mendengar Livia berkata begitu, acara alumni kembali berlanjut seperti semula, termasuk kata-kata Eric yang membuat dia muak. Kesabaran Livia sudah mencapai batas saat Eric memegang pundak dan punggungnya dengan alasan meminta agar dia lebih rileks dalam acara mereka.


Dia bertindak impulsif, menampar wajah Eric. Perhatian kembali beralih pada mereka, bukan hanya satu meja saja, akan tetapi semua meja yang ditempati oleh para pelanggan restoran.


"Keterlaluan! Berani-beraninya kau menamparku?!"


Livia menyeringai. "Bukan hanya itu,"—dia membalikkan gelas berisi air dingin ke kepala Eric—"aku juga menyiramimu."


"Kau sudah gila?!"


"Bagaimana tidak gila? Kau menyentuhku di tempat umum!"


Eric memperhatikan sekeliling dengan terkejut. "I—itu tidak benar! Aku tidak menyentuhnya sama sekali! Dia berbohong! Wanita ini berbohong!"


__ADS_1


__ADS_2