
Kelvan yang duduk sambil memangku kaki itu memperhatikan anak di hadapannya. Baru saja pesanan minuman sampai, langsung mengambilnya ketika dia membiarkan. Dia sendiri tidak menyangka jika akan duduk dengan seorang anak perempuan sepantar putrinya dalam satu kafe.
"Sekarang aku menjadi tidak yakin membawamu ke mari. Apa kau hanya akan duduk dan menghabiskan minumanmu?"
"Oh,"—anak itu meletakkan minumannya, berdiri, lalu memberi hormat—"Saya adalah Tania. Sebelumnya, senang berkenalan dengan Anda."
Tidak tahu bagaimana para pelanggan kafe memperhatikan mereka kini. Kelvan mengambil minumannya, tetapi anak yang bernama Tania itu tidak kunjung duduk di kursinya.
"Duduklah, jika tidak ingin hal yang buruk terjadi padamu."
"Baiklah." Tania segera duduk.
"Kau cukup sopan, tapi kenapa bisa bergaul dengan orang seperti mereka?"
"Heh, kami hanya ingin terlihat seperti anak berandal, karena itu membuat kami terlihat keren."
Kelvan memiringkan kepala. Apanya yang keren? pikir Kelvan.
"Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Itu ... tentang Nea. Saya sebenarnya tidak dibolehkan untuk mengatakan hal ini pada siapa pun, terutama pada Paman."
__ADS_1
"Kalau begitu, kenapa kau memberitahukannya?"
"Karena Paman harus tahu. Ini demi kelangsungan hidup Nea di sekolah."
Kelvan menyipitkan mata, berpikir untuk beberapa saat. "Meskipun kau mengkhianati Nea sekarang, tapi jika itu menyangkut kelangsungan hidupnya, maka tidak masalah."
Tania menganggukkan kepala. "Saya akan mengatakannya sekarang, mengenai rahasia Nea yang hanya diberitahukannya pada saya."
"Mungkin di mata Anda, Nea baik-baik saja di sekolah, tapi yang terjadi tidak sepenuhnya begitu. Dia dikucilkan oleh teman-temannya, karena Nea selalu diperlakukan istimewa. Apa Anda tahu alasan kenapa dia malas belajar? Semua itu karena dia tidak ingin orang-orang mengatakan kalau pencapaian yang dia dapat adalah karangan dari pihak sekolah dan hal itu hanya akan membuatnya lebih dikucilkan.
Saya tidak tahu kalau apa yang akan saya katakan ini sudah benar. Tapi bukankah sekarang Paman membayar guru privat untuk Nea? Dan itu semua membuat dia mendapatkan nilai yang baik. Paman harus menghentikan langkah itu agar Nea tidak lagi mendapatkan nilai bagus sehingga teman-temannya tidak mengucilkannya."
"Lalu, apa yang akan Paman lakukan untuk mengatasi masalah itu? Jika ingin memindahkan Nea, maka pindahkan saja ke sekolah saya."
"Aku memang ingin memberikan yang terbaik untuk Nea, tapi bukan dengan memindahkannya ke sekolahmu. Dia hanya akan menjadi anak berandal seperti kalian. Jangan kira aku tidak tahu niatmu yang sebenarnya. Nea bukanlah anak yang bisa kalian ajak melakukan hal-hal buruk."
Tania mencebik. "Jadi? Paman ingin memindahkannya ke sekolah lain?"
"Tidak. Nea harus menghadapi masalahnya sendiri."
"Saya rasa, percuma saja mengatakan informasi ini pada Paman."
__ADS_1
"Aku akan memberikan pengertian pada pihak sekolah agar bersikap adil pada semua murid-muridnya, tidak terkecuali Nea."
Kelvan melirik jam tangan. Dia sudah terlalu lama di sana. "Apa hanya itu yang akan kau katakan? Aku masih ada urusan dan harus segera pergi."
"Ya. Hanya itu."
"Baiklah. Terima kasih, karena telah memberitahukan hal ini padaku."
Kelvan yang baru berjarak beberapa langkah itu membuat Tania teringat akan sesuatu sehingga dia segera berkata, "Paman, tunggu sebentar!"
Kelvan membalikkan badan. "Ada apa?"
"Boleh saya pesan makanan? Sejak tadi saya menahan rasa lapar," ucap Tania dengan raut wajah sedih.
Kelvan menghela napas panjang. "Pesan apa saja yang kau suka."
"Terima kasih, Paman!"
Kelvan menghela napas panjang lagi. Sejak kapan aku jadi pamanmu? pikirnya.
__ADS_1