Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Kejutan


__ADS_3

Orang yang disewa untuk menjaga Vian terkejut ketika melihat putri tuannya datang dengan seorang anak laki-laki dengan penampilan buruk. Sebenarnya tidak begitu buruk, hanya tidak terbiasa melihatnya.


Tadinya mereka akan pergi ke tempat tinggal Kenzi, akan tetapi Nea lupa mengenai adiknya. Jadi, dia memutuskan pulang sebentar untuk melihat dan untungnya tidak rewel seperti hari yang sudah-sudah.


"Kami hanya pulang sebentar, lalu pergi," ucap Nea.


"Baik."


"Apa Vian rewel selama saya pergi?"


"Tidak. Justru dia sangat tenang."


"Itu menyakitkan." Nea menatap adiknya yang tidur pulas. "Kau tidak merindukanku, ya?"


Kenzi memperhatikan pula, berpikir kalau perut besar Livia ketika bertemu dengannya waktu itu adalah Vian yang dilihatnya sekarang. Dia cukup senang setelah kembali, karena bisa bertemu dengan mereka yang belum lama dikenalnya dalam hidup, tetapi terasa begitu dekat.


Keadaan tidak sesuai dengan harapan dan membuat dia frustrasi hingga menyalahkan orang lain. Livia hanya menginginkan pendidikan yang baik untuknya, bahkan selama beberapa waktu mereka saling berkomunikasi dan dia terus didukung. Kelvan juga ingin dirinya keluar dari hubungan orangtua anak yang tidak pasti.


Semua itu adalah keputusan yang baik namun keadaan saja yang tidak sesuai harapan sehingga begitu pahit untuk dirinya. Dia sudah berusaha menjadi anak yang baik. Hubungan yang awalnya dekat perlahan kandas juga.


Kenzi tidak memiliki alasan lagi ketika mendengar kabar perpisahan kedua orangtuanya. Mereka berkata sudah lama memikirkannya, bahkan sebelum pindah ke luar negeri. Saat itu, dia merasa hidupnya berhenti. Mungkin setelah menceritakannya pada Nea, dia menjadi sedikit lega.


Esok hari adalah waktu di mana liburan usai. Livia sangat tidak sabar pulang, bertemu dengan bayinya dan juga Nea. Mereka tidak berkomunikasi apa pun dan dia semakin khawatir di hari keberangkatan.


Mereka sampai di rumah pada siang hari, menemukan area depan rumah berlukiskan kata sambutan bagi yang berbulan madu. Nea mempersiapkan kejutan itu dengan teman-temannya, membuat Livia dan Kelvan sangat senang.


"Kulit kalian menjadi gelap setelah pulang!" teriak Nea. "Apa bulan madunya menyenangkan?"


"Apa Nea akan memiliki adik lagi?" tanya Tania sudah tidak sabaran. Dia yang paling bersemangat di antara semuanya.

__ADS_1


Sementara yang lain memelotot, kemudian tertawa bersama. Livia mengambil alih untuk menggendong putranya. Dia mencium Vian dengan penuh kasih sayang, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Nea sebelum tersenyum dan berpaling ke sisi Kelvan.


Tanpa sengaja tatapannya mengarah ke satu orang. Dia terkejut mendapati Kenzi tersenyum ke arahnya. Bukan seperti sosok yang dilihatnya begitu asing, justru yang sekarang adalah Kenzi yang dia kenal.


Suaminya benar, tentang dia yang salah orang.


"Kenzi? Kau di sini?"


Kenzi memajukan langkah. "Hai," ucapnya. "Apa kabar, Bu Livia?"


Livia tersenyum, tidak dapat mengungkapkan situasi dengan kata-kata. Baginya berkumpul seperti ini sangat menyenangkan, bersama keluarga tercinta, hanya kurang neneknya saja yang sangat keras kepala, tetapi dia tetap bersyukur atas hidupnya.


"Senang melihatmu bersama kami kembali di sini, Kenzi. Ayo, masuk ke dalam! Kami membawakan oleh-oleh untuk kalian."


"Yeay! Saya juga dapat, bukan?" Tania berkata.


"Tidak ada untuk Semut Besar," ucap Kelvan, menuntun istrinya memasuki rumah bersama.


"Kalian belum akan pulang, bukan?"


"Tidak."


Satu kata yang diucapkan serempak itu membuat Kenzi dan Danish saling menoleh. Tatapan mereka sama-sama tidak menunjukkan kesan ingin bersahabat. Nea harus berada di tengah mereka berdua agar perpecahan tidak terjadi.


"Ayo, masuk. Semua orang sudah menunggu di dalam."


Setelah berkata begitu, Nea melangkah pergi. Dia terkejut ketika kedua tangannya digenggam dalam waktu bersamaan, lebih mengejutkan melihat ada dua orang berbeda di sampingnya.


"Kenzi, Danish ...."

__ADS_1


"Aku tidak pernah berpikir kalau kami akan cocok." Danish menyipitkan mata.


"Aku pun sama halnya," ucap Kenzi.


Sekarang tidak hujan, tetapi Nea bisa merasakan ada petir yang menyambar-nyambar di sisi kiri dan kanannya. Atau itu cuma perasaannya saja?


"Jauhkan tangan kalian dari putriku!" Kelvan melemparkan buku.


"Bukuku!" teriak Livia.


...***...


...Akhirnya, perjalanan Duda Beranak Satu selesai. Semoga kalian tidak marah karena Renko menyelesaikannya di bab ini....


...Ingat. Orang sabar disayang Tuhan (tameng pembelaan diri agar tidak diserang)...


...Renko tidak menambah banyak bawang, karena ingin menyenangkan kalian dengan karakter yang lebih dewasa. Selain di karya sebelumnya Pernikahan Yang Tak Diinginkan sudah bikin kalian nangis darah....


...Jadi, konflik di DBS sengaja dibuat ringan tanpa adanya org ke tiga, karena yg tiga hanya tiga roda. Nyamuk lagi kan (×﹏×)...


...Tanpa karakter Hero yg badboy, tanpa karakter Heroin yang lemah. Hanya khusus membahas mengenai bagaimana perkembangan hubungan mereka berjalan, baik itu dari segi asmara, keluarga mau pun pertemanan....


...Terima kasih atas dukungan dan partisipasinya menemani Renko menikmati karya ini. Senang sekali bisa menghibur kalian semua....


...Salam sayang untuk pembaca semua 💛...


...Sampai jumpa lagi...


...\(★^∀^★)/...

__ADS_1



__ADS_2