
Kelvan terus terpikirkan percakapan di kantor tadi siang. Dia menikah dengan alasan Nea atau atas dasar perasaan sendiri? Sangat terlambat jika keraguan muncul di waktu sekarang, karena pernikahan sudah terjadi dan dia hanya harus fokus pada Livia seorang.
Apa dia menyesali pernikahan mereka?
Perhatian Kelvan teralih pada Livia yang keluar dari kamar mandi. Wanita itu terkejut ketika melihat dirinya yang sudah pulang. Memang, dia pulang cukup lambat karena alasan pekerjaan. Bukan hanya akan berlaku hari ini saja, bahkan mereka tidak bisa melakukan bulan madu karena dirinya.
Pantaskah dia berpikir untuk menyesal di saat Livia sudah bersedia hidup bersamanya?
"A—aku tidak tahu kalau kau sudah pulang."
Livia melihat tangannya yang memasang pertahanan di depan dada. Dia tahu kalau mereka sudah menikah, tetapi belum terbiasa di awal status mereka sebagai pasangan suami istri.
Kelvan tersenyum. "Kau mandi begitu malam, apa menggunakan air hangat?"
Livia menganggukkan kepala. "Sebenarnya ... aku dan nenek juga belum lama ini sampai."
__ADS_1
Kelvan mengerutkan dahi. "Memangnya, apa saja yang kalian lakukan hari ini?"
"Ada banyak sekali. Hmmm, aku akan mengenakan pakaian terlebih dahulu. Kita bicara lagi nanti."
Kelvan tidak menghentikan. Dia juga harus membersihkan diri. Satu hari ini begitu sibuk dan lebih baik baginya menyegarkan pikiran dengan mandi.
Beberapa saat berlalu, Livia keluar dari ruang ganti. Dia tidak melihat suaminya duduk di tepi ranjang seperti tadi. Jawaban akan keberadaan Kelvan langsung ditemukan sesaat suara dari dalam kamar mandi terdengar.
Livia ingin menunggu suaminya keluar dan melanjutkan pembicaraan mereka namun jujur saja dia sangat lelah dan mengantuk. Dia akhirnya memutuskan berbaring usai menggunakan pengering rambut.
Tidak lama kemudian, Kelvan keluar dari kamar mandi. Dia memperhatikan istrinya yang sudah berbaring. Saat ini dia berpikir kalau Livia masih marah padanya.
"Aku berniat menunggumu tadi, tapi aku mengantuk."
"Tidurlah kembali. Aku hanya ingin memperhatikanmu sebentar."
__ADS_1
"Bagaimana bisa tidur setelah mendengarmu mengatakan hal itu? Kita sambung saja percakapan tadi."
Livia yang ingin bicara kembali terhenti ketika tangannya disentuh. Tatapan mereka bertemu setelah itu, keadaan yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kau masih marah padaku?" tanya Kelvan.
Livia teringat kalau tadi pagi dia tidak dalam suasana hati yang baik untuk sebuah alasan tidak masuk akal. Jika diingat lagi alasannya sangatlah memalukan, hanya karena Kelvan tidak ingin melaksanakan ritual malam pernikahan, dia bertingkah seperti anak kecil.
"Ah, itu ... aku sudah mengatasinya. Maaf, telah membuatmu terpikirkan akan sikapku. Seharusnya aku tidak berlaku demikian padamu."
"Sampai sekarang aku masih belum tahu alasanmu bersikap dingin padaku. Melihatmu begitu membuatku merasa tidak nyaman dan berpikir kalau aku sudah kehilangan Livia-ku."
Livia bereskpresi iba. Dia mengenggam tangan Kelvan dan mengecupnya. "Maafkan aku membuatmu merasa begitu. Tingkahku sungguh sangat kekanakan."
Keraguan Kelvan terhadap Livia seakan hilang setelah mendengar perkataan barusan. Ternyata anggapannya salah mengenai Livia yang berubah. Pikiran itu menambah alasan untuk dirinya tetap percaya.
__ADS_1
Memang benar kalau Livia belum pernah merasakan rumah tangga namun bukan berarti pula tidak mampu. Mau pertama kali menikah atau kedua kali menikah, Livia harus belajar, sama dengan Kelvan yang juga masih harus belajar. Mereka hanya perlu menghadapi rumah tangga bersama-sama.